Babad Wono

Mukadimah SabaMaiya Juli 2018

Dalam istilah Jawa ada istilah lajer, bleger dan jejer. Lajer adalah akar bleger,  sosok bentuk secara gen atau sosok jasadiyah fisik. Sedangkan Jejer itu peran, mata rantai atau bisa diibaratkan “buah tak jauh dari pohonnya”. Misal, leluhur kita penulis maka bisa jadi kita mempunyai jiwa penulis. Kalau leluhur kita pedagang, bisa jadi kita juga memiliki jiwa pedagang. Hal tersebut tidak akan pernah lepas dari mata rantai. Jika itu terlepas maka akan seperti tanduran transgenik atau bukan bibit lokal.

Di dalam konsep Jawa kita tidak pernah meninggalkan unsur jasad dan ruhani. Psikis harus nyambung karena kita terlahir dari orang tua yang menyambung rantai nasab, dan para leluhur kita adalah akar. Sementara kita bagian pohon, yaitu daun dan buah apapun tidak akan pernah tumbuh dengan baik ketika akarnya pun tidak terjaga dan diopeni.

Berbicara mengenai sejarah Wonosobo tentu tak lepas dari tiga tokoh pengelana, yaitu Kyai Walik, Kyai Kolodite, dan Kyai Karim. Beliau bertiga inilah yang menurut cerita merupakan sosok-sosok yang babat alas Wonosobo. Dalam perjalanannya Kyai Kolodite berada di dataran tinggi Dieng, Kyai Karim di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di daerah yang saat ini menjadi Pusat Kota Wonosobo.

Kemudian pada masa Perang Diponegoro terdapat seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama K.R. Asmorosufi (R. Sutomarto II) dengan diikuti oleh putra beliau K.R. Marhamah serta cucu beliau yakni K.R. Syukur Sholeh, KH. R. Manshur, KH. R. Abdul Fattah dan K. R Muhamad Anshor. Pada kurun waktu ini pula di pegunungan Wonosobo daerah barat terdapat tokoh tarekat yang juga ikut ambil bagian besar dalam perang Diponegoro yaitu Sayyid Umar Basyaiban. Dalam gerilyanya beliau menetap di daerah Kaligintung sambil berjuang menyebarkan ajaran Islam serta mengatur strategi peperangan hingga dimakamkan di daerah tersebut.

Penyebaran pun juga dilakukan oleh para keturunan (ahlul bait) Nabi SAW dengan sebutan para Sayyid yang datang dari daerah pantai utara pulau Jawa yaitu Batang Pekalongan. Beliau adalah Sayyid Hasyim Ba’abud.

Sayyid Abdullah Quthbuddin. Melalui dakwahnya yang menggunakan pendekatan tarekat. Bahkan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir juga berguru kepada beliau.

Itulah cerita-cerita yang cukup populer didaerah kami, Wonosobo. Sebuah kisah yang seharusnya menjadi pijakan generasi saat ini untuk menemukan jati diri. bahwa kita seharusnya belajar sejarah tidak hanya berhenti pada pengetahuan belaka, tanpa menyadarkan diri untuk menganyunkan langkah demi idealitas tujuan masa depan.

Majelis Ilmu SabaMaiya edisi Juli kali ini, kita bersama-sama berusaha untuk nyicil mengambil langkah dan mendiskusikan jejak-jejak para leluhur kita dalam tema “Babad Wono”.