Baabulbakat

Mukadimah Semesta Maiyah Desember 2018

Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika melihat skill musisi memainkan alatnya? Apakah itu ada unsur bakat, atau tidak mempunyai bakat tetapi musisi tersebut intens latihan?

Kemudian Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dalam hal memainkan bola, apakah keduanya berasal dari bakat atau hasil dari latihan yang keras? Atau sudah ada bakat, ditambah latihan keras. Atau karena Lionel Messi itu bakatnya ada maka tidak usah latihan hanya memainkan feelingnya saja saat mau melepaskan tendangan bebas yang menghasilkan gol.

Bagaimana dengan para penulis yang membuat tulisan-tulisan sastra entah puisi, prosa, cerpen, novel dll. Apakah bakat adalah modal utamanya agat ide terus mengalir? Dan bagaimana penulis yang misalnya menerbitkan karya sastra tapi sebenarnya tidak punya bakat dalam hal dunia penulisan?

Kemudian bagaimana juga kesabaran seorang karyawan pabrik dalam mengerjakan tugas dari perusahaannya apakah untuk menjadi karyawan juga membutuhkan bakat? Atau dunia karyawan adalah dunia orang yang tidak mempunyai waktu mewujudkan bakat (bakat yang terpendam) dan keterpaksaan menjadi karyawan karena tuntutan ekomomi?

Dan masih banyak lagi pekerjaan dan profesi yang sebenarnya kalau ditarik mundur ada yang sesuai dengan bekal bakat dan ada pula yang tidak sejajar. Akan terasa sangat menjadi beban atau masalah ketika antara bakat kemudian kemampuan yang dijalani dan harapan yang diinginkan tidak sinkron satu sama lain maka kerusakan akan timbul.

Kemudian permasalahan timbul yakni peran sekolah dan universitas dalam kelangsungan berjalannya bakat individu seorang peserta didik dimana? Bagaimana hasil peserta didik yang tidak sepakat menjalani kurikulum dunia sekolah, universitas karena perbedaan bakat dan kurikulum atau metodologinya? Atau memang sekolah dan universitas didesain untuk mencetak generasi yang tidak hidup di bakatnya peserta didik karena digerakkan menjadi pribadi robotik. Tetapi menyalahkan seratus persen kurikulum sekolah universitas juga tidak bisa karena masih banyak juga peserta didik yang memahami akan bakatnya dan mampu mengaplikasikan bakat dan metode pembelajarannya. Tetapi jenjang waktu yang begitu lama layak dipermasalahkan. Lebih-lebih kalau hanya tujuh belas tahun belajar dari Sekolah dasar sampai sarjana hanya untuk mencari urusan makan dan survive di kehidupan rasa-rasanya kita tidak perlu masuk sekolah-universitas.

Baabul bakat  adalah pintu bakat, sedangkan bakat sendiri adalah urusan modal dari (yang) Allah SWT diberikan kepada manusia.  Bahwa pintu-pintu bakat ada didepan kita, kita hanya ditunggu untuk mengenali diri kemudian memasuki ruang itu dan mengasah diri disitu menjadi ahli dibidang-bidang tertentu.

Mbah Nun pernah memberi solusi yang tidak muluk-muluk tentang bakat yakni dengan mencari kesukaan kita disetiap harinya, kalau suka menanam di utuni menanamnya, kalau suka memasak misal membuat soto, di utuni/di tlateni sampai benar-benar menjadi ahli. Dan metode inilah erat kaitannya dengan Tauhid Penghidupan.

Mengenali diri, menelateni diri, menjadi ahli sampai mengenal Robbi.

Wallahu’alam Bishowab