Daur-II • 307

Ayat “Sulthan

Adapun Toling, karena kesadarannya semakin pulih, malah menjadi takut dan mencurigai khayalannya. Ia berpikir mana mungkin cecunguk seperti dia akan pernah bisa mengalami peristiwa sedahsyat itu. Toling hanyalah anak bawang, apalagi di antara teman-temannya sesama Muslim. Mencicipi jadi Santri pun ia belum pernah. Hanya sedikit terlibat dalam komunitas Markesot pada lingkar entah ke berapa.

Berputar-putar pikiran Toling. Ia jadi ingat ayat “sulthan”. Memang ayat ini terbuka kemungkinannya bagi setiap Jin dan Manusia, tanpa disebut pagar atau batas kriterianya: “Hai masyarakat jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan sulthan[1] (Ar-Rahman: 33). Tetapi rasanya mustahillah kalau dia punya peluang untuk menembus-nembus, melintas-lintas di antara bumi dan langit, di antara dimensi-dimensi, fisika-metafisika, awang-uwung, wilayah tak kasat mata, atau apapun yang Toling tak paham.

Memang sangat jelas dan tegas pernyataan Allah bahwa “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan formula yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke kepribadian yang serendah-rendahnya[2] (At-Tin: 4-5). Belum mengerti persis juga kenapa “Ahsanu Taqwim” di banyak terjemahan Al-Qur`an diterjemahkan menjadi “bentuk yang sebaik-baiknya”. Tapi memang ummat manusia sudah terbiasa dihadiri makhluk Jin ke dalam hidup mereka. Entah dalam urusan orang kerasukan Jin dan Ustadz mengusir Jin, Dukun kerjasama dengan Jin, dan macam-macam lagi. Kenapa manusianya sendiri yang justru heran dan sinis kalau ada kasus Manusia masuk dunia Jin?

Kalau budaya manusia mengenal “Manusia kerasukan Jin”, kenapa heran pada fenomena yang sama, misalnya “Jin kerasukan Markesot”? Kenapa juga Kaum Muslimin senang dengan kecenderungan untuk membenci, mengutuk dan merendahkan Jin? Menurut Toling, Jin dan Manusia kan bersaudara. Bahkan Jin adalah saudara tua manusia. Kenapa orang-orang pintar di kalangan Kaum Muslimin merasa nikmat mengusir Jin? Apakah alam semesta, bumi, ruang dan waktu adalah hak monopoli manusia?

Pada saat yang sama kenapa pula manusia hobi banget meremehkan dirinya sendiri. Kenapa manusia cenderung sangat malas melihat dinamika dirinya sendiri. Kenapa “Asfala Safilin” dikontekstualisasikan kepada ketika manusia menghuni Neraka. Kenapa tidak dilihat ada peluang dan kemungkinan dinamis bahwa ketika masih di dunia pun manusia sudah naik turun dan timbul tenggelam kualitas kemanusiaannya.

Kenapa “Asfala Safilin” tidak mungkin ditarik garis konteksnya ke misalnya kegagalan dunia pendidikan, Sekolah dan Universitas. Atau perikehewanan dalam peradaban manusia. Atau dehumanisasi dalam politik. Bahkan kegagalan paham atas nilai-nilai Islam bukan tidak mungkin melahirkan manusia-manusia Asfala Safilin. Kenapa “baku” berpikirnya: bahwa Ahsanu Taqwim adalah manusia di dunia, dan Asfala Safilin adalah manusia di Neraka.

Meskipun demikian Toling tidak berani lagi merasa bahwa ia berada dalam atmosfer firman yang analoginya ini: “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku[3] (Saba`: 13).

Omong kosonglah. Memang Toling keturunan Nabi Sulaiman? Ia malah curiga ada Setan yang ngerjain” dia: “Dan Kami telah tundukkan untuk Sulaiman segolongan setan-setan yang menyelam ke dalam laut untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu[4] (Al-Anbiya`: 82).

Yogya, 19 Februari 2018

Adapun Toling, karena kesadarannya semakin pulih, malah menjadi takut dan mencurigai khayalannya. Ia berpikir mana mungkin cecunguk seperti dia akan pernah bisa mengalami peristiwa sedahsyat itu. Toling hanyalah anak bawang, apalagi di antara teman-temannya sesama Muslim. Mencicipi jadi Santri pun…