Ayang-Ayang

Mukadimah Maiyah Balitar Juli 2018

Ajine manungsa urip saka ayang-ayange dewe. Atine kang manunggal nyembah Allah Kang Tunggal. Cecekelan liyane Allah, aja sira nekad ake.” –Gamelan KiaiKanjeng

Kalau ada yang bertanya, seperti apa ayang-ayang seekor kucing? Jawabannya ya seperti si kucing. Nggak pernah kan kita menjumpai ayam yang ayang-ayang-nya menyerupai gajah, misalnya. Dan tentunya, selagi masih ada cahaya, ayang-ayang tak akan pernah berpisah dengan si benda aslinya.

Almarhum Mas Zainul bersama KiaiKanjeng pun sering mengingatkan lewat lirik lagunya, “Ajine manungsa urip saka ayang-ayange dewe”. Harga diri seseorang, itu tergantung bayang-bayang yang dibuatnya sendiri. Adalah segala tindak tanduknya sendirilah yang akan membentuk bayang-bayangnya. Dengan kata lain, kalau yang ia perbuat bisa memberikan kebaikan untuk sekitar, ‘bayang-bayang’-nya pun juga akan baik. Hingga ia pun akan bisa dihargai dan dihormati oleh orang lain, sekalipun ia tak memintanya.

Sayangnya, tidak sedikit dari manusia hari ini yang terlalu sibuk pada ayang-ayang, pada bayang-bayangnya. Kami, mungkin juga Anda, ia, dan mereka, bisa saja lalai dan terjebak menjadi bagian dari manusia yang tengah kita bicarakan ini. Manusia yang sibuk memikirkan dan memoles bayang-bayang semu kita dan lupa akan wajah aslinya. Padahal, ayang-ayang tak pernah mengkhianati wajah aslinya. Sekalipun toh kita berusaha dengan sangat memperindah ayang-ayang kita, akan tetapi kalau yang sejati tak kita indahkan, tetap saja tidak indah. Pada akhirnya, ayang-ayang akan menampakkan wajah aslinya juga.

Entah memang sedang masanya ‘penyakit’ ini atau bagaimana. Yang jelas, hari ini seolah sebagian besar masyarakat kita sedang terjangkit penyakit ini. Mohon maaf, hari ini, tak sedikit dari kita yang seolah tengah mengalami kependekan jangka pikir. Kalau melihat sesuatu, ya sudah, berhenti di situ, titik. Tidak diteruskan lagi.

Katakanlah dalam melihat tujuan hidup. Dulu, anak-anak kalau ditanya apa cita-citanya, banyak yang berlomba-lomba menjawab ingin menjadi dokter, guru, polisi, suster. Ketika ditanya apa motifnya, hampir semua jawabannya sama, ingin bisa menjadi orang yang bermanfaat. Sekarang? Ketika ditanyakan hal yang sama, rasanya jawaban itu mulai langka. Ketenaran dan harta yang melimpah menjadi sorotan utama.

Kita, lebih tepatnya kami, terjebak pada ayang-ayang, bayang-bayang semu. Bukan kesejatian yang dijadikan fokus dan tujuan utama. Padahal, yang namanya ayang-ayang, semakin dikejar justru akan semakin menjauh. Ayang-ayang akan otomatis mengikuti kita ketika kita berhasil menangkap cahaya, ketika kita sedang dilingkupi cahaya. Artinya, jika cahaya yang kita kejar, ayang-ayang pun akan mengikuti kita dengan sendirinya. Jika kesejatian yang kita tuju, bayang-bayang semu itu semua akan berjalan mengiringi kita tanpa aba-aba.

Tak mudah memang menjaga kekonsistenan pandangan. Tak mudah menjaga kekhusyukan. Karenanya, kita membutuhkan peran orang lain untuk saling mengingatkan. Di sini, pada pertemuan bulan ini, 28 Juli 2018, Majelis Maiyah Balitar mengajak teman-teman untuk sama-sama belajar menjaga kemurnian pandangan dalam melihat ayang-ayang. Dengan harapan, majelis ini bisa menjadi lingkar kecil untuk sekadar bergandengan tangan, berbarengan saling mengingatkan untuk menuju kesejatian.