Apus-apuse Zaman

Mukadimah Pasemuan Bebrayan Cilacap September 2018

“Orang yang terlambat menghentikan tradisi bohong kepada diri sendiri, akan harus mempertahakankannya dengan bohong kepada yang lain.” –Tetes caknun.com

Kebohongan (Apus-apus dalam bahasa Jawa) yang diulang dan terus diulang akan dipercaya sebagai kebenaran. Joseph Goebbels, pakar propaganda NAZI, sangat paham hal itu. Karenanya, ketika dia memulai program propaganda, hal pertama yang dia siapkan adalah TOA. Goebbels tahu, yang penting bukan benar atau tidak benar, tapi pengulangan. Sesuatu yang tak masuk akal sekalipun akan terdengar benar, jika didoktrinkan berulang-ulang.

Dan doktrinasi atau propaganda ala Goebbels terus hidup, dari zaman ke zaman, hingga ke zaman kita. Kenapa? Karena teknik itu memang terbukti berhasil.

Kenyataannya, sebagian besar kita memang lebih mudah percaya doktrinasi dan propaganda, daripada meluangkan waktu untuk memeriksa apa yang kita percaya. Kita adalah bangsat-bangsat pemalas! Sebegitu pemalas, hingga kita enggan untuk menengok dan memeriksa, apakah yang kita percaya memang benar, ataukah hanya kita anggap kebenaran karena didoktrinkan sebagai kebenaran.

Ambil satu contoh, Susu kental manis (SKM) yang jadi topik hangat akhir-akhir ini, setelah terungkap bahwa SKM—yang banyak beredar di pasaran—ternyata bukan susu. Pemerintah melalui BPOM mengungkap bahwa produk yang disebut SKM sebenarnya tidak memiliki kandungan susu, atau dengan kata lain tidak bisa disebut susu. BPOM juga mengeluarkan kebijakan baru terkait pemasaran SKM, meliputi kemasan sampai periklanannya.

Tentu saja itu langkah bagus yang layak diapresiasi, agar masyarakat tidak terus terbuai oleh “khayalan atau angan-angan kosong” terkait susu yang ternyata bukan susu. Cuma, yang membuat saya tidak habis pikir, kenapa persoalan ini baru terungkap dan baru dinyatakan sekarang?

Aneka produk yang disebut SKM telah ada sejak bertahun-tahun lalu, bahkan sejak kakek-nenek kita masih abege. Artinya, sudah puluhan tahun. Selama puluhan tahun, ada jutaan orang yang mengonsumsi, berkeyakinan bahwa mereka mengonsumsi susu, dan ternyata tertipu. 

Kini, ketika BPOM—yang dianggap lembaga kredibel—mengeluarkan fatwa bahwa SKM bukanlah susu, seharusnya ini membuat logika kewarasan kita berpikir; betapa kebohongan yang diulang terus menerus bisa diyakini sebagai kebenaran, termasuk “kebohongan” soal susu yang sebenarnya bukan susu. Namun pernahkah kita memikirkan hal itu?

Ada ribuan—atau mungkin, jutaan—orang yang percaya mentah-mentah bahwa susu kental manis adalah susu, dan mereka memegang kepercayaan itu sedemikian teguh. Mereka membeli produk itu untuk dikonsumsi sendiri, atau diberikan pada anak-anak, dengan keyakinan penuh bahwa itu susu. Mereka percaya itu susu, dan mereka percaya susu baik untuk kesehatan. Kenapa? Karena mereka terus dibombardir doktrin yang mengatakan bahwa itu susu!

Pagi hari, saat mata baru melek, mereka menonton televisi, dan muncul iklan “susu”—awalilah hari dengan segelas susu. Oh, well, kedengarannya indah.

Siang hari, sambil leyeh-leyeh, mereka kembali menonton televisi, dan lagi-lagi muncul iklan “susu”—selalu penuhi kebutuhan nutrisimu. Oh, well, kebutuhan nutrisimu.

Sore hari, televisi kembali menemani waktu istirahat sepulang kerja, dan lagi-lagi muncul iklan “susu”—jangan lupa minum susu biar tulang tidak keropos. Oh, well, kedengarannya penting.

Malam hari, saat keluarga berkumpul menyembah televisi, iklan “susu” pun muncul berkali-kali, kali ini memperlihatkan seorang anak yang tampak sehat meminum segelas “susu” dengan lahap. Dan para orang tua pun mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak lupa minum susu sebelum tidur.

Dengan doktrin yang terus memborbardir kehidupan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, bagaimana mereka tidak percaya?

Persoalan susu mungkin sepele, karena tidak menyangkut “harga diri” orang per orang. Ketika orang-orang mulai sadar bahwa yang mereka yakini sebagai susu ternyata bukan susu, mereka dengan mudah menyalahkan produsen, misal, “Iklannya nggak bener!” atau “Pembohongan publik!”

Faktanya memang ada jutaan orang yang sadar bahwa mereka tertipu oleh sesuatu, tapi mereka tidak mau mengakui apalagi mengatakannya terang-terangan, karena berkaitan dengan harga diri mereka. Apakah kau punya keberanian untuk mengakui terang-terangan bahwa kau diapusi? Jawabannya jelas, tidak!

Kenapa? Karena itu terkait harga dirimu. Kau tidak akan bisa mengaku terang-terangan bahwa kau menyesal dan merasa tertipu, karena itu sama artinya melukai egomu.

Terdengar pahit bukan? Kebenaran memang pahit, sialan! Cuma orang goblok yang mengatakan bahwa kebenaran terasa manis. Kalau terasa manis, sejak dulu kita sudah akrab dan dekat kebenaran! Faktanya, kita asing dengan kebenaran. Karena pahit, karena tidak enak, karena itu menyakiti ego kita. Karena kita—keparat-keparat pemalas ini—lebih suka menerima “pembenaran” daripada kebenaran.

Terdengar mengejutkan bukan? Manusia yang malas mencari kenyataan, sudah pasti sering terkejut oleh kebenaran.

Buku Cak Nun