Apapun Jabatannya, Tetaplah Jadi Manusia

Bagi saya ada yang spesial dari Sinau Bareng di Pendopo Renggo Djoemeno beberapa malam yang lalu. Sinau Bareng bersama jajaran Muspida, TNI, Polri dan para ASN (Aparatur Sipil Negara) di Kabupaten Madiun itu, Mbah Nun mengajak bersama-sama menemukan kembali manusianya. Di luar jam dinas, para pejabat tetaplah manusia. Jika memang manusia, kenapa harus malu melakukan pekerjaan yang dilakukan manusia pada umumnya?

Dalam beberapa Sinau Bareng sebelumnya, Mbah Nun mengajak kita untuk bersama menemukan sebanyak-banyaknya posisi diri. Misalnya, “Aku sebagai anak dari orang tuaku, aku sebagai orang tua dari anakku, aku sebagai petani, aku sebagai warga negara, aku sebagai manusia, aku sebagai hamba Allah” dan seterusnya. Posisi ini penting mengingat cuaca banyak orang hanya memberlakukan satu posisi untuk semua aktivitasnya. Dikiranya jika sudah berduaan sama istri dia masih masih menganggap ia anggota TNI jika ia sebagai tentara, hingga ia berlaku mliteristik kepada istri.

Mbah Nun mencontohkan dengan memberi ekspresi mrungut. “Berani kamu begini?” tantang Mbah Nun pada para ASN. Juga diajak untuk maju ke depan lima orang, tiga orang dari kalangan ASN dan dua orang di luar ASN. Diiringi lagu “Sayang”, kelima orang itu harus melakukan gerakan yang berbeda satu sama lain. Tidak boleh sama. Bahkan Mbah Nun memberi contoh dengan joget yang lepas, tak perlu malu. Memang ini bukan saatnya malu.

Perkara malu dan bangga memang menjadi hal yang terbalik-balik. Orang yang tertangkap KPK bukan saatnya bangga yang diekspresikan dengan lambaian tangan. Dia mestinya berlaku malu akibat dari merasa salah. Semar selalu mengingatkan orang-orang untuk bertaubat. Memangnya orang-orang salah apa? Atau orang-orang sudah tidak bisa menemukan kesalahannya sendiri? Barangkali ketidakmampuan menemukan kesalahan sendiri bisa jadi bentuk kesalahan terbesar.

Kemudian Mbah Nun memberi simulasi jika ada habib sudah pakai serban dan tasbih tak pernah lepas dari tangannya, apa beliau mau duduk sejajar di pinggir jalan. Menemani orang-orang yang seharusnya ditemani.

Bukankah identitas itu hanya akan menjerat untuk tidak berlaku sebagai manusia pada umumnya. Maka bersyukurlah kalau mempunyai pemimpin yang sehari-hari berlaku sebagai manusia pada umumnya.