Amenangi Zaman Now

Mukadimah Kenduri Cinta Januari 2018

Hakikat dari orang-orang berkumpul, bekerjasama, berorganisasi, adalah supaya Rahmat dari Tuhan dapat terdistribusi dan menjadi Berkah bagi semesta alam. Ini semestinya menjadi dasar komitmen bersama dari orang-orang yang terlibat dalam aktivitas peran di dalamnya. Hakikat adanya Negara pun demikian, supaya Rahmat dari Tuhan dapat terdistribusi sehingga dapat menjadi berkah bagi seluruh rakyatnya, bukan malah menjadi alat para pemodal untuk menancapkan cengkeraman bisnis mereka di wilayah Negara.

Globalisasi di zaman ini nyaris tak terbendung lagi. Segala sesuatunya dijadikan komoditi yang dapat diperdagangkan pada kompetisi pasar global. Aset-aset nasional nyaris tak tersisa, dibeli oleh pemodal asing dengan kedok investasi. Perusahaan-perusahaan lokal yang potensial dijual dengan alasan kekurangan modal. Tidak hanya pada bidang ekonomi, pada bidang sosial-politik para investor jabatan tidak segan mengucurkan dana segar hingga triliunan sebagai bahan bakar kampanye politik para bakal calon kepala pemerintahan daerah maupun kepala pemerintahan nasional. Mereka mampu menyiapkan berbagai skenario pencitraan hingga suksesi meraih jabatan. Mereka dari balik layar menjadi bandar yang akan selalu menang dalam perjudian politik lokal maupun nasional.

2018 adalah tahun Politik. Tahun di mana gincu dan topeng bertebaran di mana-mana. Para bakal calon pemimpin daerah akan bersolek dengan make up pencitraan tercanggih dari yang ada sebelumnya. Tidak cukup hanya dengan blusukan, tampilan merakyat, bersandal jepit dan berkaos oblong. Tidak hanya datang ke pondok pesantren kemudian berpeci dan berselempang sorban, lantas tangannya diciumi oleh para santri. Tidak hanya mengumbar jargon-jargon sesat; “saya adalah pemimpin merakyat”, “kepentingan rakyat adalah hal utama yang akan saya perjuangkan”, “jika saya terpilih, maka rakyat akan bahagia”, dan serangkaian kalimat-kalimat buaian yang tertata rapi lainnya.

Pada wilayah partai politik, seperti yang sudah-sudah, tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Jika dalam pemilihan kepala daerah sebelumnya beberapa partai saling berhadap-hadapan karena berbeda koalisi, maka di tahun ini partai-partai yang sebelumnya tidak berada dalam satu gerbong, kali ini saling akrab satu sama lain, berangkulan dan saling dukung karena bakal calon pemimpin daerah yang diusung adalah bakal calon yang paling potensial menguntungkan mereka.

Tahun ini adalah tahun pemanasan menuju klimaksnya suhu politik 2019. Ada 17 Pemilihan Gubernur, 39 Pemilihan Walikota dan 115 Pemilihan Bupati yang akan digelar secara serentak. Jika di suatu daerah beberapa partai berkoalisi, jangan kaget karena ternyata di daerah lain partai-partai tersebut bersaing satu sama lain karena calon yang mereka usung berbeda. Itulah keniscayaan politik.

Inilah tahun penuh gincu, penuh topeng, penuh kepalsuan. Inilah tahun di mana rakyat akan kembali ditipu habis-habisan oleh para politisi demi kepentingan partai dan golongannya. Badut-badut dipasang untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Para Tim Hore pengais recehan akan semakin bertebaran di media sosial untuk turut meramaikan suasana. Inilah tahun di mana kita akan memasuki hari-hari penuh kepalsuan. Tahun di mana rakyat jelata hanya menjadi komoditas yang diperjual-belikan oleh para makelar politik. Rakyat jelata yang kelaparan dimanfaatkan untuk hadir dalam arena kampanye, meneriakkan yel-yel dan jargon-jargon penuh kepalsuan, hanya dengan upah lembaran uang dan nasi kotak. Kita akan memasuki hari-hari dimana kita akan merindukan sosok Begawan, sosok orang tua yang mampu mengayomi kita.

Jika di Indonesia ada perumpamaan permainan politik sebagai teplek, lakon Pandawa Dadu di Astina justru secara  terang-terangan menggunakan judi dadu sebagai alat politik. Paska drama Sesaji Rajasuya setelah pelantikan Yudhistira sebagai raja Indraprasta, Patih Sangkuni mengundang Yudhistira beserta Pandawa untuk ikut permainan dadu yang di selenggarakan di Istana Hastinapura. Berkumpulah Balakurawa, Pandawa dan 97 Raja kecil yang kepalanya gagal dipenggal sebagai tumbal dalam skandal Kalalodra yang melibatkan Prabu Jarasandha, Prabu Yudhistira dan Sri Bathara Kresna. Maha Patih Sangkuni yang memegang kartu truf berhasil memaksa Yudhistira untuk mempertaruhkan Kerajaan Indraprasta yang baru dipimpinya itu dalam permainan dadu, keempat saudara Pandawa termasuk dirinya bahkan sang Istri Dewi Drupadi pun dijadikan taruhan yang pada akhirnya kalah dan terjadi tragedi pelucutan busana Dewi Drupadi di hadapan umum oleh Dursasana.

Mempertaruhkan kerajaan dalam perjudian jelas sebuah tindakan sembrono. Kalau bukan keterpaksaan karena adanya belenggu tidak mungkin seorang raja mempertaruhkan nasib rakyatnya dalam perjudian. Ini menjadi beralasan jika terlalu banyak hutang-hutang yang ditanggung si raja kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengendalikan atau menguasai kerajaan dari balik layar. Pihak-pihak itu bisa jadi adalah pemodal yang menginginkan untuk menguasai sumber daya kerajaan dengan cara menanamkan modal pada saat suksesi si raja meraih singgasananya. Atau, bisa jadi pihak itu memiliki bukti skandal di balik pencitraan si raja sehingga ia terpaksa harus menuruti segala keinginan mereka. Maha Patih Sangkuni termasuk pihak yang ini.

Mempertaruhkan keadilan sosial, permusyawarahan, persatuan, kemanusiaan dan ketuhanan sebagai komoditi dalam kampanye politik menjadi modal pencitraan para calon kepala daerah supaya mendapatkan suara para pemilih pada gelaran perjudian politik. Janji-janji disusun untuk mendapatkan dukungan rakyat. Janji terwujudnya pemerataan pembangunan, tersalurnya aspirasi rakyat, terpeliharanya kebhinnekaan, kesejahteraan umum dan kerukunan antar umat beragama digembar-gemborkan untuk mendulang dukungan. Padahal di balik kampanye itu ada para pemain yang berkepentingan menginvestasikan modal demi kepentingan bisnisnya, siap menjebak masyarakat yang akan menjadi pasar bagi barang-barang dagangannya, menghancurkan kebhinnekaan dengan dalih kebhinnekaan, mengkondisikan supaya umat beragama saling berbenturan, dan menjauhkan peran Tuhan dari perhatian masyarakat.

Amenangi Zaman Now, menjadi tema pembuka edisi awal tahun Kenduri Cinta di tahun 2018. Di tengah zaman yang semakin edan di mana segala sesuatu dijadikan komoditi barang dagangan, Kenduri Cinta setia berkumpul bersama-sama menemukan kesejatian di tengah zaman penuh kepalsuan. Saling ingat-ingat mengingatkan, berasama-sama menjaga keris pusaka, menajamkan pedang dan membersikan cangkul dalam aktifitas kehidupan sehari-hari. (Redaksi Kenduri Cinta)