Ambruk Dihantam Materialisme

Kehidupan pemikiran saya mungkin mirip dengan banyak jamaah Maiyah lain. Sudah ke kiri terus ke kanan, dan akhirnya menemukan jalan tengah. Hal yang dulu dibanggakan seolah saya saja yang alami pergolakan semacam itu. Eh, ternyata langsung merasa biasa saja sebab tak sedikit yang jalani titik-titik radikal seperti itu. Bab materialisme yang bahasa gaulnya matre ini jadi penghantar saya menuju negeri Maiyah.

Tumbuh besar di lingkungan yang menuntut nalar, belasan tahun saya terbiasa dengan adu argumentasi. Sejak masa sekolah sampai kuliah, kalau saya sudah mengacungkan tangan, seisi kelas bisa langsung menunjukkan raut muka bete dan hopeless. Nggak usah bayangin ILC atau acara debat lain, saya cuma senang ngajak ngobrol saja. Se-nggak penting apapun itu asal punya referensi ya disikat saja.

Maka tak heran jika kemudian dunia negosiasi menarik saya perlahan. Dari lobi di lingkungan kampus sampai akhirnya perusahaan dan konfliknya dengan masyarakat saya jejaki. Semua dengan nafsu rakus, apa saja asal belum saya kuasai ilmunya bakal saya kejar. Tentu pengorbanan ini-itu sudah wajar untuk menyelami samudera ganas. Saat berkubang di zona jahiliyah itu, saya tak merasakan apapun. Betul-betul tak ada spiritualisme.

Harap maklum, lingkaran yang saya jumpai tiap hari juga begitu. Mereka percaya ada Tuhan, tapi untuk menundukkan ego ke-aku-an, berat sekali. Kesombongan sebab akal bisa mengelabui dan jadi solusi aneka rupa masalah menjadi-jadi. Meski berkekasih jarak jauh, nyatanya tak mampu melembutkan hati. Tiap hari habis sekian belas jam untuk menindas siapapun yang tidak sesuai tujuan.

Materi dunia yang dikejar? Bukan. Gengsi? Bukan juga. Saya hanya haus pada rasa ingin tahu. Apa yang belum dicoba dan diresapi akan dipelajari sampai paham sangkan paran-nya. Itulah kenapa mentor berbagai bidang mudah mengambilku ke bawah sayap mereka. Tak lain sebab begitu menurut sekaligus bisa menentang ketika tidak sesuai pemikiran.

Dunia itu runtuh ketika Gusti Allah membenturkan fisik saya pada kemustahilan. Yap. Tahu-tahu saya divonis hanya punya masa hidup maksimal 3 bulan. Infeksi akut di wilayah paru-paru karena keluyuran ke mana-mana serta gaya hidup minim istirahat serta junk food jadi sebab. Dengan sisa 10 persen fungsi bernafas, saya cuma bisa ‘mlongo‘.

Belum kelar hidup saya, eh, diputus pacar dengan alasan mengada-ada. Bertahun hubungan batin bisa lepas begitu ujung nyawa di depan mata. Kontan saja saya bingung luar biasa. Bunuh diri jelas percuma sebab bakal mati juga. Kembali ke Tuhan juga tak tahu caranya. Berulang kali menyapa tetap saja hati terasa hampa. Pria yang berkeseharian sangar ini harus ‘nglokro‘, bersimpuh dengan air mata yang mengalir deras entah untuk apa. Hanya bisa memanggil Tuhan lewat perantaraan Al-Fatihah.

Di luar nalar, seorang bidadari sudi menemani. Yap, inilah yang kemudian jadi istri saya dan bunda bagi dua anak saya. Dengan telaten dia mengajak mendekati Tuhan semampu saya. Lidah ini pun terasa kelu menyebut nama-Nya. Sampai sekarang pun, mengucap ‘Allah’ belum senyaman ngomong ‘tuhan’. Di sinilah perjalanan spiritual dimulai dengan meninggalkan nalar secara radikal. Murni menunduk, melebihi padi yang menua.

Bagi yang pernah mendapat vonis hidup tinggal sekian waktu tentu paham rasanya. Tiap hari dijalani dengan rasa yang sulit diberi nama. Efek obat super keras kala itu berdampak bagi ingatan serta jeroan. Resiko yang sangat fatal tapi bagaimana lagi. Buah simalakama. Sampai sekarang pun mungkin saja sisa-sisa pengobatan modern kala itu masih tersisa.

Teman-teman tahu penjungkir balik nalar selanjutnya ada di mana? Saya tidak jadi mati setelah 3 bulan terlewati! Rumah sakit pusat yang jadi rujukan pun mengkonfirmasi hal itu. Sampai para dokter ahli itu geleng-geleng kepala membandingkan hasil laboratorium. Entah keajaiban atau apalagi namanya itu. Beberapa tahun kemudian kasus saya ini diangkat di rumah sakit pusat lain. Simpulannya masih sama, keajaiban cinta. Merujuk pada terapi spiritual ala istri saya. Tentu saja, Gusti Allah memperjalankan semua kejadian ini. Spiritual ini bukan aneh-aneh lho ya, cukup menjalani manusia pada umumnya, belajar bersimpati dan berempati.

Sejak saat itu, logika saya tanggalkan sepenuhnya. Tadinya bak menyusun paralon untuk mengalirkan hidup, kemudian menjadi kapal layar yang menunggu dihembus angin. Itulah perumpamaan hidup bagi seorang Maulana Jalaluddin Rumi. Saya aminkan dan jalani 10 tahun ini dengan penuh syukur dan sabar. Nalar berikut materialisme di belakangnya akan tunduk dengan izin Allah. Sebesar apapun masalahnya.

Pemuncaknya adalah ketika Mbah Nun menyentuh telinga, mata, dan hati ini. Otak kembali mengamuk mendengar pemaparan kalimat dan gestur tubuhnya. Hanya saja, kali ini mengajak saya untuk meruntuhkan secara total paham materialisme dalam diri. Perlahan, menantang saya untuk melembutkan hati dan menyebut dengan mesra nama “Allah”.

Jalan masih panjang, tapi inilah perjuangan. Melawan kebebalan diri dan keraguan pada masa depan.

Buku Cak Nun