Amarah Suci

Umbu Landu Paranggi

Em, saya di SMP, jadi tahun berapa itu di SMP itu, ya? Tahun 58, atau 57. Kami sudah menyanyikan di sana (NTT) lagunya kalau saya tidak salah ingat begini:

Bhinneka Tunggal Ika berarti
bercerai tetap satu Nusantara.
Kau lindungkan dengan dua sayapmu
akan bumi pertiwi Indonesia.

Piye? Piye? Itu tahun 58 di NTT itu sudah biasa lho, Em. Lagunya ya seperti itu.

Jadi pernah juga begini Em, saya kira-kira tahun 90-an. Saya mengubah ini sendiri karena bagi saya Sumpah Pemuda itu amarah sakral sebuah angkatan menjadi amarah suci angkatan sejati. Asa menjadi asas. Marah kepada diri sendiri kenapa hanya kedok-kedok, hanya begitu-begitu saja. Haa, terjadilah itu.

Terus saya inikan kepada orang muda di Bali, ada yang saya pilih yang merasa dirinya budayawan ada satu orang. Terus ada orang Jawa, personal manajer di Patma Hotel. Dia lolos di Kompas dimuat di harian tentang tadi itu.

Amarah Suci sebuah angkatan. Amarah sakral angkatan sejati. Haa, terjadi itu. Dia orang Jawa, dia dimuat. Yang orang Bali dikembalikan tulisannya. Di harian, bukan di mingguan.

Jadi ya, ya seperti itulah. Dan saya sudah dibacakan Dwi yang ini (tulisan Cak Nun tentang Sumpah Pemuda buat Umbu—red) ya. Em untuk sementara, mungkin nanti saya tambah-tambah saat membacanya sambil menyanyi-nyanyi. Misalnya “Apa Ada Angin di Jakarta”, terus “Kadipaten-Kadipiro”, “Malioboro”, dan lain-lainnya. Sampai akhirnya terpaksa menempuh jalan sunyi untuk kesekiannya untuk meraih “yang celaka” yang namanya ASEAN, Antasena Sang Emha Ainun Nadjib. ASEAN.

Oke? Ya, sementara begitu dulu.

Umbu Landu Paranggi

Buku Cak Nun