Allah Senang Mempermudah, Tapi Jangan Digampangkan

Reportase Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Agustus 2018

Kita sebagai ummat juga mesti introspeksi, kok ya terlalu tega pada kaum sesepuh? Akhirnya selalu bersikap menuntut agar para sesepuh kita mau menempati posisi sosial yang tidak begitu pas pada dirinya. Diminta menyelesaikan persoalan padahal bekal ilmu beliau-beliau masih pada kitab abad dua belasan. Mbok sebagai ummat, kita itu bikin kitab sendiri yang relevan sama hidup kita. Jadi ummat jangan tega-tega amat dong. Maka itu perlu kemandirian berpikir dan mengolah persoalan hidup, agar kita tidak terlalu merepotkan para sesepuh kita.

Saya rasa, salah satu urgensi Maiyah adalah di sini agar manusia terbiasa berpikir sendiri, ndak sedikit-sedikit ngadu ke kiai. Sedikit-sedikit antri sowan kiai. Sowan kok dikit-dikit (halah, jokes lawas). Bukan untuk menjatuhkan legitimasi kiai, tapi memerdekakan beliau-beliau dari beban yang terlampau berat juga. Kita perlu berempati bahwa para sesepuh kita perlu waktu untuk menjalani hidup dengan wajar supaya ilmu yang dielaborasi juga lebih up to date dengan persoalan riil. Pemerdekaan untuk semua.

Yang kita butuhkan adalah atmosfer keilmuan dan kemesraan. Produk ilmu akan lahir dengan sendirinya. Terlalu tergesa menyatakan fatwa atau menentukan lawan ideologi tanpa pemetaan yang presisi, akan membuat kita melulu terjatuh pada war time mentality. Wahabi menyebalkan, tapi masa iya meresahkan? Apa kabar la khaufun ‘alayhim walaahum yahzanun kalau begitu?

Saya bahagia menemukan Maiyah sebagai laboratorium di mana ragam sudut pandang saling bertadabbur satu sama lain. Bukan untuk dipertentangkan tapi untuk saling menyimak melengkapi kekurangan pembacaan diri sendiri dan melahirkan elaborasi lanjutan yang lebih meningkat kualitasnya. Baik kualitas ilmu maupun cinta. Perangkat yang dibutuhkan mungkin seperti kata Gurutta Syekh Kamba ketika menjawab salah satu pertanyaan, bahwa memesrai Qur`an dengan berdaulat sepaket pula dengan kejernihan hati dan ketulusan niat. Penganut psikologi aliran Jung, biasanya paham konsep bahwa setiap sel dalam diri manusia ikut berpikir. Mungkin ada kaitannya dengan itu, mungkin.

Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-Kata Laa Khaufun ‘Alayhim Walaahum Yahzanun

Mas Sabrang juga sempat ikut menyumbang ketika mendapati pertanyaan cemasnya Kang Muhtasib yang membabarkan mengenai seorang yang kuliah di Mesir, aktif di salah satu ormas keagamaan dan berupaya keras memerangi wahabi dan radikalisme. Menurut Kang Tasib lagi, orang ini sangat sering menuduh Mbah Nun menyebarkan radikalisme.

Heran, dengan kondisi sekarang ini alasan apa yang tidak dimiliki oleh manusia normal untuk tidak radikal? Dikit-dikit kok radikal, radikal kok dikit-dikit (halah, callback). Mas Sabrang dengan sedikit gemas menyampaikan, bukan soal suka atau tidak suka pada sosok Mbah Nun. Tapi ini kaitannya dengan pola pikir manusia belakangan ini yang cepat mengambil kesimpulan atas hal-hal yang tidak dialaminya langsung.

Berasumsi lalu bergulat-gulat dengan asumsinya sendiri. Selalu merasa berjuang (wich is good, i think) tapi konsep perjuangannya juga konsep yang diyakininya sendiri. Dan kalau ada yang berjuang tidak pada medan yang dia geluti, dikira orang tidak berjuang. Maka iya, ini soal pola pikir.

Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018
Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018

Mbah Nun malah menanggapi dengan lebih santai, “Saya senang dengan orang-orang yang memerangi radikalisme dan menuduh saya radikal, tapi kalau bisa yang total. Kalau memang merasa saya menyebarkan radikalisme, ya tempuh jalur yang semestinya untuk mencegah saya melakukan apa-apa yang dianggap kontraproduktif.” Rasanya, orang sejenis ini banyak sekali sekarang.

Dulu juga ketika ada yang memviralkan kalimat Mbah Nun soal 1,5 T, komentator-komentator yang muncul cuma umpluk-umpluk di medsos. Namun tidak ada yang benar-benar membantah langsung dan atau menempuh jalur resmi yang mematahkan hal tersebut. Kita tidak serius pada banyak hal yang kita koar-koarkan sendiri. Ini juga sebenarnya masuk war time mentality, ingin meyakinkan orang banyak bahwa kondisi dunia sedang gawat.

Pada akhirnya, nanti juga akan melahirkan produk yang hanya menguatkan asumsi bahwa dia dan golongannya adalah sang hero. Itulah kenapa war time mentality ini mencandu. Sebab ini adalaah kesempatan untuk tampil heroik. Peace time mentality tidak menawarkan ini.

Selama kita masih berpikir antagonisme vs heroisme, kita masih terkungkung mental era peperangan macam ini. Yang ditawarkan Maiyah bukanlah hal baru. Dia hanya sering terlupa bahwa kita perlu bermental damai dalam batin atau “laa khaufun ‘alayhim walaahum yahzanun”.

Buku dan Merchandise