Allah Senang Mempermudah, Tapi Jangan Digampangkan

Reportase Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Agustus 2018

Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018
Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018 (Foto: Adin, Dok. Progress)

Kata “tadabbur” mungkin tidak benar-benar menjadi tema utama pada Mocopat Syafaat tanggal 17 Agusts 2018 M kali ini. Tapi beragam hal-hal yang dibincangkan, dibahas dan dielaborasi pada malam ini membuat saya selalu terngiang-ngiang pada kata tadabbur.

Sesungguhnyalah, pada perkembangan belakangan ini konsep senada tadabbur walau dengan rasa (dan) bahasa yang berbeda mulai muncul ke permukaan. Misalnya, kata “fakta sejarah” mulai jarang dipakai dan lebih sering dihindari, melainkan “data sejarah”. Dasar pikirnya, kita tidak mungkin tahu mengenai fakta yang terjadi di masa lalu. Kita hanya bisa mereka-reka misteri masa lalu berdasarkan data yang ditinggalkan oleh tokoh, penyaksi, kejadian serta fenomena tertentu.

Dan data, ketika kemudian diolah dia menjadi informasi dan disusun menjadi narasi, tidak bisa ada pembacaan data yang tunggal. Setiap data bisa dibaca sesuai interpretasi, metode, tujuan pembacaan, maupun kelengkapan (dan atau perbedaan) data pendukung yang dimiliki oleh sang pentadabbur data. Maka dengan pandangan itu, kita bisa melihat bahwa ada kemandekan dalam proses sejarah kita manakala narasi sejarah yang berkembang tidak menunjukkan adanya keragaman sudut pandang. Seolah ada pihak yang berhak menentukan seperti apa sebuah data harus diinterpretasikan, siapa pahlawan maupun siapa pembangkang.

Negara berhak punya tafsir sejarah dengan kepentingan kenegaraan. Tapi setiap manusia juga berhak punya pembacaan. Entah akan berkesesuaian atau tidak dengan narasi versi negara. Belakangan, ada ajuan untuk membaca dalil-dalil keagamaan terutama hadits sebagai data. Bukankah begitu itu tadabbur? Ajuan semacam ini sering dilontarkan oleh Dr. Jonathan C. Brown pada kuliah-kuliahnya, minimal yang pernah saya ikuti di YouTube.

Mas Sodiq itu namanya. Mungkin kelak dia akan jadi data sejarah. Dengan narasi sebagai seorang pemuda yang sempat melakukan kesilapan dan menyinggung hati para JM karena postingannya di Instagram. Tapi juga akan tercatat dalam sejarah bagaimana keksatriaannya dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya di panggung MS malam ini.

Mempertanggungjawabkan juga bukan dengan kesan yang ngeri-ngeri. Yah, justru lebih banyak sambil diselingi tawa nakal. Bagi saya pribadi, kejadian seorang penghujat berbalik mencintai komunitas yang dihujatnya belum benar-benar spesial. Kisah macam begini selalu ada di kisah-kisah spiritual maupun di padepokan-padepokan. Yang menarik justru bagaimana panggung MS dibebaskan pada siapa saja, pendapat sebagaimana pun, segalanya layak diangkat untuk diperbincangkan. Kesalahpahaman bisa diluruskan. Kesalahan paham ya urusan sendiri-sendiri dengan resiko masing-masing pula. Maiyah adalah berkumpulnya para prajurit cinta dan cinta. Itu berada di luar kesetujuan maupun ketidak setujuan.

Kitab Syekh Kamba: Tasawwuf Tak Sekadar Followers Tarekat

Malam ini, majelis MS juga dijadikan tempat untuk launching buku “Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam” Wah, Islam memangnya hilang kemana kok pakai mesti ditemukan kembali? Bukankah Islam selalu eksis? Namun tidak menurut Syekh Nursamad Kamba ketika berada di panggung.

Syekh Kamba selaku penyusun buku ini membabarkan bahwa apa yang kita pahami sebagai Islam pada masa ini tidak lebih daripada sekumpulan tafsir-interpretasi mengenai Islam dari kelas sosial tertentu, yang kemudian mengalami kemapanan wacana. Tentu kita tahu dari pengalaman sejarah bahwa kemapanan wacana selalu juga berkaitan dengan kemapanan kelas sosial. Ini bukan yang pertama kalinya di dunia.

Buku dan Merchandise