Allah Pusat Simpul Maiyah

1.
Bismillah saya mengajak mundur selangkah
Menarik nafas panjang dan merenung ulang
Dengan waspada dan hati-hati ajakan ini saya tuliskan
Seperti mendaki gunung mengambil bebatuan
Menggosoknya jadi akik rahasia karya Allah
Cincin perjanjian kemesraan Mitsaqan Ghalidha
Thariqat abadi antara hamba dengan Maha Kekasihnya.

2.
Sebelum meneruskan sedekah kepada Indonesia dan dunia
Penduduk Negeri Maiyah memastikan tauhid penghidupannya
Meneliti kembali mashlahat keluarga dan rumah tangganya
Mewaspadai kembali setiap yang diperjuangkannya
Mengamati kembali pilihan manajemen nafkahnya
Menghitung kembali untung rugi di hadapan Tuhannya
Tidak kehilangan Allah sepanjang pangkal ujung hidupnya

3.
Ahsanu Taqwim Maiyah bercermin
Melihat kembali wajahnya
Mempelajari kembali dirinya sekeluarga
Apakah Allah masih menjadi pangkal kesadarannya
Apakah Allah tetap merupakan gol tujuannya
Apakah tali tuntunan-Nya tak dilepas oleh tangannya
Dalam menempuh jalan keuntungan menurut aspirasi-Nya

4.
Muta’allimul Maiyah selalu berkaca
Memeriksa kembali penghidupannya
Selama masih maya di bumi yang fana
Apakah tali perjuangan dan cita-citanya
Masih teguh mengikatkan dirinya
Pada patok Allah sebagai kesadaran sangkan-nya
Maupun Allah sebagai titik paran perjalanannya

5.
Salikul Maiyah di koordinat mana saja
Siap membangkitkan kembali keberaniannya
Untuk selalu tangguh menemukan kekeliruannya
Siaga memastikan kembali kerendahan hatinya
Untuk mengakui kekhilafannya
Selalu gagah perkasa terhadap dirinya
Menertawakan prasangkanya atas kehebatan dirinya

6.
Muqawwimul Maiyah tidak minder jadi orang tidak hebat
Tidak rendah diri karena tak pandai dan tak kaya
Tak mengemis hanya karena tidak berkuasa
Asalkan tidak karena malas dan kurang berjuang
Atau karena salah memilih landasan nilai dan tujuan hidup
Juga karena keliru menentukan alamat dan cara menempuh jalan
Di mana Allah tidak ditemukan sebagai pusat simpul segala urusan

7.
Anshorul Maiyah waspada
Tidak mencari penghidupan
Di wilayah yang Allah menganugerahinya
Limpahan untuk menghidupi dunia
Karena memberi adalah menerima lebih banyak
Sedangkan mengambil dan mengharap-harap dunia
Adalah tumpukan utang tak terkira

8.
Muhajirul Maiyah bertaqwa
Tidak menempuh jalan prasangka
Mengejar bayang-bayang keuntungan
Terjungkal di lubang-lubang kerugian
Mengincar laba di setiap langkahnya
Tersesat ke ruang-ruang hampa
Menumpuk-numpuk fatamorgana

9.
Mujahidul Maiyah dibukakan rahasia
Hukum langit mengikat bumi
Logika akhirat tak terlawan oleh dunia
La in syakartum la azidannakum
Wa la in kafartum inna ‘adzabi lasyadid
Jiwa melimpahi adalah rezeki nyata dan sejati
Mental bakhil dan sukhkh adalah bunuh diri

10.
Hafidhul Maiyah menjaga pagar
Tidak menjajakan langit untuk profesi bumi
Tidak menawar-nawarkan nilai untuk pendapatan materi
Tidak berburu dunia dengan kendaraan akhirat
Tidak menjadi rendah diri oleh qadla qadar menjadi kuli
Karena kepercayaan kepada tanggung jawab Ilahi
Adalah bagian dari iman dan keselamatan tertinggi

11.
Mustaqimul Maiyah menghormati Negara
Dan berjuang membantu serta merawatnya
Bukan bergantung padanya
Haritsul Maiyah mengapresiasi lembaga-lembaga dunia
Dan menemaninya, tetapi tidak mengharap apa-apa bagi dirinya
Murabbil Maiyah menjunjung sejarah dan nasab semua orang
Adapun nasabnya sendiri sebisa mungkin dirahasiakannya

12.
Muwallidul Maiyah tidak berebut ruang
Karena ia bukan perabot yang merepotkan
Ia sendiri adalah ruang
Yang dengan sesamanya berbagi ruang
Ia tidak sempat menuntut hak
Karena amat sibuk menikmati kewajiban
Sehingga oleh Allah hak-haknya dilimpahkan

13.
Banna`ul Maiyah memeriksa kembali
Ketepatan langkah dan keputusan hidupnya
Kesucian niat dan tujuannya
Tata kelola, khilafah dan manajemen pilihannya
Konstruksi, bunyan dan tasyrih berpikirnya
Halal thayyib integritas keluarga dan kemasyarakatannya
Mental kerjanya, moral perjuangannya

14.
Ruwwadul Maiyah rajin bermuhasabah
Memusatkan diri pada keutamaan Allah
Pada pekerjaan dan prinsip manajemennya
Pada setiap butir nasi yang dimakannya
Setiap tetes air yang diminumnya
Setiap jejak yang dilangkahkannya
Setiap keputusan yang diambilnya

15.
Muassisul Maiyah tidak mengalami kerakusan
Sebab mengerti keserakahan itu lucu dan dungu
Hasilnya tidak bisa diangkut di jalanan keabadian
Juga karena tahu keindahan terletak di dalam keterbatasan
Seluruh perebutan, perang dan penghancuran manusia di dunia
Sumbernya hanya dua: kerakusan dan keserakahan
Maiyah bersedih karena tak mampu mengatasinya

16.
Fa’ilul Maiyah di gerbang antara sorga dan neraka
Dunia tak mau dipanggulnya untuk menghadap-Nya
Kekuasaan dan harta benda semena-mena menipunya
Bahkan ilmu, kepandaian, kecanggihan dan kehebatan
Pun kekuatan, kebesaran dan kebanggaan dunia
Para makhluk langit menertawakannya
Manusia telanjang bulat di hadapan-Nya

17.
Jannatul Maiyah bertelanjang bulat sepanjang dunia
Karena Allah melihat hingga yang sekecil-kecilnya
Apapun yang disembunyikan oleh setiap manusia
Pakaiannya samar dan tidak kasat mata
Ialah tauhid penghidupan, cinta dan kesetiaan
Serta limpahan rezeki dan perlindungan
Yang ia rawat sepanjang siang dan malam

Yogya, 17 Maret 2018
Mbah Nun