Alamat: Desa Purwa Maiyah, Kecamatan Sewelasan, Gang Barokah, Tetangganya NKRI

Catatan Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Juli 2018

Penduduk Desa Maiyah berkumpul di pendopo desa mereka. Para warga desa yang selalu berhasrat menggali dan menggali kesejatian, kali ini berkesempatan menggali sanad-nasab jiwa desa mereka. Dari mana datangnya memori DNA yang dipenuhi arus merdeka tanpa ingar-bingar dramatis prok prok prok proklamasi ini? Dari mana datangnya keingintahuan-keingintahuan, gelora petualang ilmu dan ketenangan ma’rifat tanpa thoriqot formal ini?

Mas Agus Wibowo yang telah melahirkan kitab berjudul “Desa Purwa” sekaligus juga dijadikan tema diskusi kali ini berkenan menjadi pemantik pada ritual Diskusi Sewelasan yang dengan istiqomah selalu digelar oleh Perpus EAN sebagai perangkat Desa Maiyah yang mengabdikan diri pada dokumentasi data-data tertulis tentang Mbah Nun dan Desa Maiyah sendiri.

Perpus EAN, memang adalah juru kunci nasab Desa Maiyah, bisa dilihat seperti itu. Ini pekerjaan berat, tidak semua manusia mau melakukannya, menggelar ritual tanpa altar. Karena jiwa desa-desa Nuswantoro yang terbiasa dengan lambaian padi, rundukan bambu, kemricik air sungai, debur jihad asmara, dan asap tungku anarki-nasionalis di pawon, memang kurang menyenangi tampilan yang terlalu megah dan mewah. Jangankan berinfrastruktur ria seperti manusia modern di tetangga NKRI, dalam shalat berjamaah di langgar saja walau–kata ustadz-ustadz di tivi–shof paling depan duluan masuk surga warga desa malah saling mempersilakan orang lain untuk di shof terdepan.

“Monggo-monggo njenengan rumiyen mlebet swarga, kulo nggih belakangan mawon. Mau santai-santai aja. Pencerahan makrifat bisa kapan-kapan, kadang mendung sejuk ada nyamannya sendiri.”

Dalam urusan capaian, manusia Desa apalagi Desa Maiyah ini hampir tidak mengenal kompetisi dan unggul-unggulan kecuali dalam berbuat baik. Baik, baik dalam hal apa? Dalam bidang masing-masing. Tolok ukur kompetisinya? Sebaik apa melakukan, menjalankan dan memahami konsentrasi bidang. Jadi? Jadi kompetisi sesungguhnya ada dalam diri.

Kadang manusia desa memang terjebak pada kenyamanannya sendiri “ada naif-naifnya” (dibaca dengan kayak iklan air mineral). Hidup di lingkungan di mana orang-orang saling tepa slira, asah asih asuh, tulus, mikul nduwur mendem jero dan semacam itu. Bukan berarti tidak ada dinamika atau konflik. Hanya manusia desa tidak saling bersiasat, apalagi saling menumpas. Semuanya lumrah. Selumrah musim berganti. Namun itu menjadi persoalan ketika mereka harus deal with the other. Karena ternyata dunia luar tidak selalu begitu.

Apalagi, ketika NKRI yang masih muda belaka jadi tetangga dusun. Dan mau tidak mau mesti ada urusan barter-barter bersama tetangga baru ini (yang lahirnya juga dibantu, dimantrai, didoakan dan dislametin oleh leluhur desa sebenarnya). Duh ternyata manusia (kalau mau berendah hati kita sebut saja manusia) di sana saling bersiasat. Aktivismenya saling licik-licikan membentengi dan menyebarkan ideologi. Sebagian diam-diam menengadah pada ndoro-ndoro funding dari planet lain. Di sana mereka saling jegal, saling timpuk diam-diam, saling maling. Kalau ada maling tertangkap mereka hukum supaya bisa bikin sistem permalingan yang lebih canggih.

Di Desa, selalu ada ritual Bersih Desa karena masyarakatnya punya kesadaran bahwa manusia selalu tidak bersih. Di NKRI city sana, bebersih sudah jadi industri laundry dan sistem keuangan dibuat lemah pengawasannya supaya bisa ada ritual Bersih Duit (baca: Money Laundring). Tak jarang yang di-laundry adalah kain ihrom, haji, dan travel umroh.