Agent of Change Menuju Agent of Glepung

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Trimulyo, Bantul, 3 Oktober 2018

Saya masuk kuliah pada tahun 2007, Fakultas Psikologi UII, sekitar 2014 selesai tanpa ijazah. Ini untuk menegaskan usia saya yang masih sangat belia. Sejak dulu itu, organisasi mahasiswa sering sekali terdengar menggaungkan jargon “agent of change“. Agen perubahan, ya mahasiswa itulah tentu maksudnya.

Saya sempat mencicipi satu dua organisasi di kampus, yang kemudian saya selalu jadi bertanya-tanya. Maksudnya agent of change ini bagaimana, kalau semua bentuk organisasinya masih warisan dari yang dulu-dulu juga. Jadi saya hanya menjalankan satu agenda saja, yakni cari pasangan dan menikahinya. Sudah.

Selain itu saya tidak merasa ada urgensinya berada di dalam organisasi-organisasi mahasiswa, mungkin kapan-kapan bakal berubah dengan sendirinya. Merobohkan, membongkar dan mendekonstruksi, menggelepung dirinya sendiri agar lebih relevan dengan zaman.

Kami ini yang dulu di kampus adalah mahasiswa apatis, katanya. Tapi saya dan kawan-kawan juga punya julukan sendiri buat mahasiswa yang aktif di organisasi: “mahasiswa hobi rapat”. Begitu kami menyebut mereka.

Saya agak terhenyak sejenak ketika mengetahui bahwa Sinau Bareng kali ini digelar oleh LEM dan DPM Fakultas Hukum UII. Baiklah, terhenyak itu kata yang agak berlebihan. Tapi saya sempat terkenang geli juga sambil membatin ya ampun, ini masih pada ada aja yah lembaga-lembaga beginian?

Ngopi dulu biar ndak ngantuk Sinau Bareng

Tapi masa-masa maidu, protes asal sana-sini selama usia mahasiswa sudah selesai. Keuntungan tidak berada di organisasi mahasiswa adalah, kami punya pemetaan sendiri yang lepas dari romantisme kumpulan-kumpulan. Kami bisa memetakan dengan sangat tidak peka gender bahwa fakultas dengan mahasiswi tercantik pertama ada di Fakultas Ekonomi, kedua di Fakultas Hukum (Nah!). Fakultas Psikologi terkenal dengan kesan mahasiswi baik-baik tapi tidak sesuai tampilan. Kalau mahasiswa? Ya maaf kami tidak punya petanya, soalnya yang menyusun beginian laki-laki semua, hahaha.

Intinya, kami mahasiswa yang tidak merasakan relevansi apa-apa dari ada tidak adanya LEM, DPM, Persma, Mapala dan atau apapun itu di kampus.

Bahasan-bahasan soal pergerakan, saya cukup kenyang karena waktu SMP dulu sering dibawa ikut rapat dan diskusi oleh seorang kakak sepupu yang anggota pergerakan. Saat di kampus ternyata bahasannya tidak begitu banyak berubah. Bacaan masih Pram saja, hampir tak ada move on dari sisi manapun.

Malam ini di lapangan Trimulyo, Bantul, Yogyakarta pada 3 Oktober 2018M. Saya duduk sambil ngopi di sebuah gerobak kopi. Walau gerobak, tapi peralatan kopinya cukup komplit dari grinder sampai french press. “Tapi V16 nya lupa bawa,” kata Masnya. Beliau biasa berjualan kopi di gelaran Sinau Bareng dan Maiyahan kalau posisinya terjangkau dari tempat tinggalnya.

Indonesia Raya dan Syukur telah dilantunkan dengan jamuan khas KiaiKanjeng. Ketua LEM membawakan sambutan, khas seperti ketua-ketua lembaga yang pernah kami petakan dulu (kami punya peta juga, mana yang suka bergaya formal, mana yang hobinya beraksi slengekan, selo kan kami?)

NKRI ini berdiri dan idenya adalah dari kalangan terpelajar, kaum pergerakan. Apa yang disebut pergerakan sendiri sebenarnya adalah ketika muda-mudi pribumi mulai menyerap cita rasa struktur organisasi ala orang Eropa, dari sekolahan modern. Kira-kira begitu Mbah Nun memberi hantaran. Soekarno memang tidak kuliah di Belanda, tapi sudah sangat Eropa sejak dari keningratan keluarganya. Juga ditegaskan, bahwa dalam Sinau Bareng ini Mbah Nun tidak berposisi mulang, tapi mencari bersama.

Mungkin dengan Sinau Bareng ini, kalimat agent of change yang sudah bergaung kosong selama berdekade-dekade itu bisa mulai menemukan maknanya. Karena kalau membongkar organisasi sekelas kampus saja susah, kapan kita bisa glempung peradaban? Agent of change sudah, era pergerakan 80-an sampai 90-an juga. Era ini sudah saatnya naik maqom kepada agent of glepung.

Buku dan Merchandise