‘Abdan ‘Abdiyya, Mbeber Kloso dan Bocah Angon

Usai shalat shubuh di Mentoro, saya bersama Mas Didik W. Kurniawan berboncengan sepeda menuju Peterongan. Pagi itu juga Mas Didik harus segera kembali ke Solo. Sepanjang perjalanan telinga saya terngiang-ngiang oleh kalimat Mbah Nun yang menyebut idiom arek angon.

Pernyataan tersebut kerap kita dengar. Arek angon atau bocah angon mengandung dimensi kepemimpinan yang tidak cukup dipahami secara denotatif apa adanya. Pada tembang Lir-ilir kita bahkan minta tolong kepada bocah angon agar memanjat dan mengambil buah Blimbing.

Mbah Nun menegaskan, “Saya arek angon dari Mentoro.” Disampaikan usai Padhangmbulan bertema ‘Abdan ‘ Abdiyya, antara arek angon, Mentoro dan ‘Abdan ‘Abdiyya terdapat irisan-irisan. Kita bisa mencatat titik tolak yang diberangkatkan dari, misalnya idiom bocah angon, Mentoro dan ‘Abdan ‘Abdiyya—lalu mengupasnya dari tema dan sudut pandang yang beragam. Mulai tema kepemimpinan, akar sejarah, qadla’ dan qadar Mentoro, hingga kesetiaan laku yang tidak melupakan Ibu sejarah yang melahirkan kita.

Sepanjang perjalanan dari Mentoro menuju pasar Peterongan, perbincangan saya dan Mas Didik tidak lepas dari ketiga titik tolak tersebut. “Mas Didik, kalau saya tidak salah, jalan yang akan kita lewati adalah jalan terdekat yang menghubungkan Mentoro dan Peterongan. Kita mentadabburi rute perjalanan darat Mbah Nun dan keluarga Mentoro.”

Rute yang saya maksud adalah perjalanan melewati tangkis dan desa Trawasan. Mungkin ini rute terdekat, dan jaman semunu tentu saja ditempuh sambil berjalan kaki, dari Mentoro menuju Peterongan, atau sebaliknya. Jalan sepanjang tangkis itu kini sudah beraspal halus—dan “kekejamannya” bisa dibayangkan saat tiga atau empat tahun lalu. Jalan makadam berbatu-batu lancip dan jeglong-jeglong.

Kalau mundur lagi ke tahun 70-an, selain karena tahun itu saya belum lahir, saya tidak membayangkan bagaimana “nikmatnya” berjalan kaki di sana. Mentoro tergolong desa terpencil yang nylempit di pojok Kec. Sumobito Jombang. Arek angon menapak di tanah Mentoro, meminum airnya, menghirup udaranya, menyerap energi alamnya, menyelami samudra misterinya. Desa yang kelak, puluhan tahun ke depan, menjadi Ibu bagi kelahiran ratusan lingkar majelis ilmu Maiyah.

Matahari pagi mengintip di cakrawala. Saya dan Mas Didik menikmati obrolan di atas motor seraya membayangkan, puluhan tahun lalu, rute yang kami lewati ini mungkin serupa belantara.

Maiyah tidak bisa dilepaskan dari Mentoro dan Padhangmbulan. Sejarah dan latar belakang kelahirannya, dinamika proses perjuangannya, ketangguhan istiqomahnya, sikap rendah hatinya hingga proyeksi masa depannya. Tidak mungkin juga tidak menyapa Mbah Muhammad dan Ibu Halimah beserta para putra-putrinya.

Supaya tidak tercerabut dari akar sejarah, kita perlu menengok kembali Mentoro tempat Padhangmbulan sebagai Ibu Maiyah lahir. Kita menggali, menemukan, mentadabburi kembali mutiara keunikan, mentalitas, watak, karakter, ilmu hingga kebijaksanaan khas desa Mentoro.

Antara Padhangmbulan, Mbah Muhammad dan Ibu Halimah tidak bisa diputus. Antara Cak Fuad, Mbah Nun, keluarga besar Mbah Muhammad dan Mentoro tidak bisa diceraikan. Antara Keluarga besar Mbah Muhammad, Padhangmbulan, Mentoro dan Maiyah tidak bisa dipenggal-penggal. Pada setiap pola hubungan itu tersimpan mutiara yang apabila diproyeksikan sebagai bahan bakar, bahan dasar, view, cakrawala atau apapun namanya akan menegakkan tonggak-tonggak keilmuan dan kebijaksanaan.

Salah satu tonggak itu adalah ‘Abdan ‘Abdiyya, idiomatik yang bersentuhan dengan mbeber kloso, laden-ngladeni, aji-ngajeni. Jalur hidayah yang dilewatkan melalui sifat Rububiyah Allah Swt. Kesanggupan melayani dan menjadi pelayan, menghamba dan menjadi hamba.

Mengikatkan diri kepada tonggak tersebut bukan perjuangan mudah dan ringan. Diperlukan ongkos penderitaan—penderitaan secara lahir maupun batin—yang tidak setiap orang sanggup menanggungnya. Dari penderitaan berjalan kaki mulai Peterongan menuju Mentoro, menahan lapar berhari-hari hingga menempuh jalan sunyi yang kesunyiannya tak terperih dan tak terungkap melalui bahasa apapun. Sambil harap dicatat semua penderitaan itu tidak harus dirasakan atau terasa sebagai derita.

Tugas kita adalah mengurai bundelan-bundelan yang nyrimpeti kaki. Srimpetan yang menyorong dan menjebak kita kepada kebesaran, popularitas dan kekuasaan. Kita—para bocah angon tidak mengibarkan bendera dan umbul-umbul aliran, madzhab, sekte atau perkumpulan. Tidak menunggangi nilai-nilai Maiyah untuk meraih keuntungan dunia, popularitas dan kekuasaan—bahkan tidak sekadar untuk menuruti krenteg membangun branding citra positif diri di tengah khalayak.

Individu Maiyah memastikan diri tidak kesrimpet-srimpet atau menyrimpetkan diri pada tali-tali fatamorgana dunia yang menggiurkan.

Apabila orang melanggar pagar moral dan ideologi itu, Allah sendiri yang akan membatalkan ke-Maiyah-an-nya pada momentum tertentu sesuai qadla qadar yang berlaku. Tanpa ada jaminan bahwa batalnya Maiyah itu disadari oleh pelanggar dan penerabas pagar.

Itulah mengapa Padhangmbulan masih saja mbembet, jauh dari kebesaran, kemegahan, keagungan—bahkan sebagai hidayah pemberian Allah untuk masa depan kita semua pengajian setiap malam tanggal lima belas bulan qomariyah itu, tampil secara ndeso dan apa adanya.[]