Mengapa Sinau Bareng? Mengapa Tidak Sinau Dhewe-dhewe?

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan 26 Juli 2018 (Bagian 2)

Tidak semata-mata mencermati saling silang persoalan pendidikan, Mbah Nun mengetengahkan model hubungan guru dan murid. Berangkat dari sajian Pambuka Satu dan Pambuka Dua yang dimainkan Aji Soka, kita jadi mengerti bahwa murid boleh lebih hebat dari guru. “Murid boleh melampaui kemampuan guru,” ujar Mbah Nun.

Aji Soka berguru kepada KiaiKanjeng. Namun hal itu tidak menghalangi Aji Soka untuk merambah dimensi kreativitas yang belum ditemukan KiaiKanjeng. Atau sebaliknya, terdapat sejumlah faktor pengalaman yang tidak otomatis sanggup dijalani KiaiKanjeng sebagaimana yang telah dilakoni Aji Soka.

“Tidak ada dua manusia yang sama persis. Masing-masing memiliki pengalaman, kelebihan, keistimewaan dan fadlilah . Tidak perlu bersaing satu sama lain. Berlombanya pada tataran fastabiqul khoirot ,” ungkap Mbah Nun.

Tradisi murid melampaui guru kerap dipahami secara tidak proporsional bahkan dikesankan su’ul adab. Akibatnya, terjadi degradasi dan distorsi kualitas keilmuan. Murid tidak akan sanggup melampaui gurunya, karena guru hanya mengajarkan 19 ilmu dari 20 ilmu yang dimilikinya. Kalau tradisi ini dilanjutkan hingga murid yang ke sembilan belas, duapuluh, dan seterusnya, stok atau jatah “jurus ilmu” akan habis bahkan mengalami defisit.

Simulasi tersebut menarik untuk dijadikan pijakan berpikir. Kita jadi bertanya-tanya, jangan-jangan tradisi keilmuan kita tengah mengalami defisit dan kebangkrutan. Kepakaran, intelektualitas, profesionalitas, kompetensi atau sejumlah formula yang digagah-gagahkan oleh dunia pendidikan, politik, ekonomi pada kenyataannya impas, bahkan berada di koordinat minus untuk menjawab persoalan.

Tiba-tiba terbetik di benak saya lirik lagu “Tuhan Aku Berguru Kepada-Mu.” Pada konteks simulasi penyusutan formula keilmuan yang melanda hampir semua bidang dimensi hidup manusia—lengkap beserta efek samping dan sejumlah distorsinya—adakah jalan untuk mengatasinya selain berguru dan bergantung kepada Allah dan Rasulullah?

Jawaban dari pertanyaan tersebut bergantung pada bagaimana kita memandang dan menjalani hidup.

Menjalani Hidup: Berlari Sprint atau Maraton?

Mbah Nun menyebut satu nama juara dunia lari 100 m, Mohammad Zohri. Pelari sprint berbeda dengan pelari maraton: kesiapan fisik, pengaturan nafas, teknik berlari. Berlari sprint mengandalkan kecepatan—semakin cepat mencapai garis finis semakin hebat.

“Hidup kita ini sprint atau maraton?” tanya Mbah Nun. Menurut manusia zaman, sekarang, hidup itu sprint: berlari sekencang-kencangnya agar tiba di garis finis secepat-cepatnya, ataukah maraton: berlari untuk menempuh jarak yang cukup jauh sambil disiplin mengatur percepatan nafas?

Lebih spesifik lagi, mencermati perilaku kebanyakan orang terhadap cara mereka berdagang, bersaing dalam politik, meraih jabatan dan kekuasaan, membangun perusahaan, menempuh pendidikan, menapaki jenjang karier—semua itu ditempuh secara sprint atau maraton? Jamaah Padhangmbulan sepakat satu jawaban: kebanyakan orang menjalani hidup secara sprint.

Sedangkan menurut pendapat jamaah hidup seyogianya dijalani secara maraton. Mengapa pendapat mereka berbeda dengan pendapat pada umumnya manusia? Mengapa pula mereka memperlakukan hidup sebagai maraton panjang yang hanya Allah Swt saja yang tahu batas akhirnya? Mengapa hidup tidak ditempuh secara sprint saja?

Untuk menjawab pertanyaan itu Mbah Nun membuka dialog ke berbagai arah. Jamaah diberi kesempatan merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kyai Muzamil memberikan rujukan ayat-ayat Al-Qur’an.

Ambisi, orientasi, cita-cita, visi, tujuan orang berjuang; kebijakan publik, peraturan dan undang-udang, pernyataan politik pada umumnya diselenggarakan secara sprint. Hidup dijalani layaknya pelari 100 m; pencapaiannya berorientasi sebatas dunia saja.

Adapun mereka yang menempuh jalan kehidupan secara maraton, dimensi kesadarannya jangkep: dunia akhirat. Wa lal akhirotu khoirun laka minal ulaa. Akhirat lebih baik dan lebih utama.

Lantas, apa yang dimaksud dengan menjalani hidup secara maraton? Hidup yang alon-alon asal kelakon ataukah berdasarkan skala ruang yang tanpa batas dan jarak tempuh yang teramat panjang? Secara teknis psikologis dan strategi kebudayaan, kapan saatnya berlari sprint dan kapan berlari maraton? Sambil tetap memelihara kesadaran bahwa di dalam sprint terdapat muatan maraton dan di dalam maraton terdapat kandungan sprint.

Tidak semua pertanyaan tersebut diuraikan jawabannya. Mbah Nun sengaja membuka pintu-pintu pertanyaan agar ditemukan akurasi jawabannya oleh jamaah. Artikulasi dan detail nuansa jawaban silakan digali dan ditemukan bersama-sama. Itu namanya Sinau Bareng.

Ini penting. Mengapa Sinau Bareng? Mengapa tidak sinau dhewe-dhewe ?

Mengembalikan Ghirah Belajar

Kyai Muzamil diminta Mbah Nun menunjukkan sejumlah ayat yang memerintahkan kita agar mementingkan aktivitas mengajar ketimbang belajar. Yang ditemukan justru ayat tentang kewajiban belajar. Adalah Al-Qur’an surat At Tubah: 122, “ Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Hadits Nabi tentang kewajiban menuntut ilmu, diantarnya: “Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.”

Ringkasnya, perintah belajar dan mencari ilmu lebih ditekankan ketimbang perintah mengajar. Tidak terutama melihat posisi sebagai guru atau murid, kyai atau santri, dosen atau mahasiswa—perintah belajar, selalu belajar dan terus belajar menyasar kepada siapa saja.

Ayat atau hadist tentang perintah belajar dan kepada siapa mukhotob (orang yang dituju oleh pesan tersebut), keduanya perlu dipertegas agar substansi pesannya tidak bias.

Inti pesannya jelas: belajarlah atau carilah ilmu. Maka, perintah tersebut berlaku untuk siapa saja termasuk mereka yang terikat oleh satuan fungsi dan jabatan sosial, akademik dan keagamaan: kyai, ulama, dosen, guru besar, tuan guru dan seterusnya.

“Budaya Islam hingga hari menekankan pentingnya belajar atau mengajar?” tanya Mbah Nun. Apabila dicermati benar—dengan berbagai konteks, nuansa, pamrih serta dialektikanya—budaya mengajar lebih dominan ketimbang budaya belajar.

Tidak heran, sedikit-sedikit tausiyah, sedikit-sedikit mauidhoh hasanah , sedikit-sedikit nge-share cerita hikmah, sedikit-sedikit minta petunjuk. Itu pun arah komunikasinya top down . Atas bawah.

Diam-diam, tanpa kita sadari, budaya “atas petunjuk Bapak Presiden”: rendahnya mentalitas budaya belajar yang pernah kita kutuk-kutuk—masih mengakar hingga saat ini melalui praktek eufemisme yang lebih canggih.

Apabila arah komunikasinya dari atas ke bawah, dapat dipastikan nuansa psikologisnya adalah superior dan inferior. Pihak yang di atas: guru, kyai, ulama, dosen, profesor, para pakar, guru besar, penceramah, pemerintah merasa superior. Pihak yang di bawah: murid, santri, mahasiswa, jamaah pengajian, rakyat mengidap mental inferior.

Pertanyaan: jangan-jangan kita tengah mengalami defisit dan kebangkrutan ilmu menemukan konteks dan latar belakang budayanya. Kebanyakan orang berlari sprint agar cepat berada di atas, menikmati perasaan superior—atau kalau tidak, sekalian diam saja di bawah, menengadahkan tangan, menjadi gelas kosong yang menunggu untuk diisi.

“Sekarang ini peradaban Islam ditegakkan oleh peradaban sinau atau peradaban mulang ?” tanya Mbah Nun menegaskan. Rendahnya etos belajar, dengan demikian, bukan cuma menutup pintu-pintu ilmu—pilar-pilar peradaban Islam, pelan tapi pasti, mengalami pengeroposan. Atau malah telah ambruk.

Bagaimana Maiyah menyikapi (potensi) ambruknya pilar-pilar tersebut? Kita akan melanjutkan pada seri catatan berikutnya. []

Buku Cak Nun