90 Tahun yang Membelai dan Dibelai Nafas Kita

Mukadimah MaSuISaNi Oktober 2018

Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir melalui fase sejarah panjang dari suatu bangsa besar. Sejak Nusantara sampai Jepang ada dalam catatan sejarahnya. Bukti besarnya bangsa ini adalah warisan para leluhurnya. Bukan saja keanekaragam kebudayaan tapi juga nilai-nilai luhur kehidupan. Belum lagi kekayaan dan keindahan alamnya, semua anugerah Tuhan yang luar biasa, yang diterima sebagai amanah untuk dijalani, sebagai bangsa sekaligus sebagai manusia yang khalifah. Wakil Tuhan di muka bumi. Leluhur bangsa ini sudah mewariskannya dalam falsafah mamayu hayuning bawono.

Warisan nilai-nilai luhur kehidupan yang meresap ke dalam jiwa bangsa menjadi cikal bakal lahirnya NKRI. Sejarah mencatat momentum manifestasi otentik dari kesepakatan komunal untuk bersatu yang dikenal dengan Sumpah Pemuda pada 1928. Semangat persatuan yang otentik dan orisinal itu sebagai ekspresi kontinuitas kebangsaan Indonesia dari zaman-zaman sebelumnya yang semestinya diteruskan oleh NKRI 1945.

Berbangsa satu, bangsa Indonesia, seluruh penduduk kepulauan Nusantara menomorsatukan kesatuan sebagai Bangsa Indonesia, tanpa mengingkari atau menghilangkan latar belakang etnis atau kesukuan masing-masing.

Bertanah air satu, tanah air Indonesia, menyatu sebagai sebuah keluarga besar yang tinggal di rumah yang sama, yakni tanah air Indonesia.

Berbahasa satu, bahasa Indonesia, mengabdikan seluruh latar belakang bahasa masing-masing untuk kepentingan masa depan bangsa dalam komunikasi nasionalisme dan terbangunnya kebudayaan dan peradaban Indonesia.

Namun sejak 1945 entah mengapa semangat komunalitas kebangsaan itu seperti meredup. Apakah NKRI 1945 tidak mewarisi semangat-semangat itu? Jika iya, apakah sebabnya?

Tidak percaya diri kah?
Tidak punya pandangan atas diri bangsanya kah?
Tidak merumuskan cita-cita bangsanya kah?
Menjadi ekor dari kemajuan dunia kah?
Terlalu banyak mengadopsi muatan-muatan dari luar kah?
Atau apalagi?

Di balik semua pertanyaan yang harus dijawab itu, yang jelas Bangsa Indonesia sedang kehilangan dirinya, nilai-nilai orisinal kebangsaan dan kemanusiaannya, filosofi dan budayanya, dan semakin rendah pencapaian materialismenya maupun kadar rohaniahnya. Bahkan UUD-45 sudah dipotong-potong, dibelah-belah dan dikerdilkan menjadi UUD-2002.

Akhirnya, persoalan utama yang harus segera dituntaskan bangsa ini adalah kembali kepada nilai-nilai persatuan. Mustahil melaksanakan program sekecil apapun untuk bangsa yang multi kultural ini tanpa landasan persatuan yang sudah diamanatkan oleh pendahulu kita 17 tahun sebelum NKRI 1945 sebagai bangsa dan manusia, tepat 90 tahun yang lalu.

Buku Cak Nun