Wedang Uwuh (73)

340 Juta Tuhan

Entah siapa yang punya ide dan berani menjadi pemrakarsa: tiga anak muda milenial itu seperti sengaja mempermainkan Simbah.

“Mbah”, kata Beruk.

“Ya?”, Simbah merespons.

“Uksakka itu apa?”

“Uksakka… Apa itu?”

“Lho saya yang tanya, Mbah, kok malah Njenengan bertanya balik”

“Belum pernah dengar saya”, kata Simbah.

“Kalau Vayu?”

“Apa lagi itu… Betara Bayu po?”

“Vichama, Mbah?”

“Di jaman Old dulu orang kalau tidur pakai baju Vichama…”, akhirnya Simbah menjawab sekenanya.

“Saya serius Mbah”, Beruk mengejar lagi.

“Kalau Charon, Mbah?”, tiba-tiba Gendhon muncul suaranya ikut bertanya.

“Ah kalian ini….charon, demung, bonang….”

“Bamapana atau Banaicha Simbah pernah dengar?”

“Kalian ini mempermainkan orang tua…”, Simbah mulai agak cengeng.

“Ini bertanya, Mbah, serius”

“Saya juga punya pertanyaan, Mbah”, suara Pèncèng tak mau kalah.

“Apa…”, kata Simbah.

“Jenggawul itu apa?”

“Jangan dipikir saya tidak punya pertanyaan”, Simbah tampak mulai melakukan perlawanan.

“Lho Simbah itu bagian menjawab, kami yang bertanya. Begitulah lumrahnya kaum muda belajar kepada kaum tua”, Gendhon ternyata kompak dengan dua temannya.

“Rupanya kamu yang ngajak dua temanmu ini mempermainkan saya”, kata Simbah.

“Limatar, Kurunta, Leto…”, Gendhon menambah pertanyaan.

“Leto kan grup band Jawa”, Simbah mencoba tetap bermurah hati.

“Itu kan Letto, Mbah, yang saya tanyakan Leto, t-nya satu”

“Kalau Pallas saya tahu…”, akhirnya Simbah kelihatannya tidak hanya defensif, tapi mulai ada gejala ofensif.

“Apa Pallas itu Mbah?”

“Paluta Asing”, jawab Simbah, “Shammash itu baratnya Parangtritis. Tapi kalau Thaumas atau Themis bukan nama pantai. Pokoknya saya mulai bisa meraba apa maunya kalian ini….”

Gendhon, Beruk dan Pèncèng berpandangan satu sama lain.

“Unkulukulu, Zaramama, Yalungur, Sebek, Ruadan, Akbul, Baldur, Enkidu, macam-macam lagi nama tuhan yang jumlahnya sampai 340 juta…”, Simbah menyerang, “dengan 40 tuhan utama. Satu komunitas atau kumpulan masyarakat atau bangsa saja ada yang tuhannya sampai 10 juta….”

Anak-anak muda itu tersenyum. Lumayan juga pancingan mereka mulai menampakkan hasil.

Sejak dahulu kala tatkala Tuhan belum menurunkan firman, Ayat-ayat, informasi, perintah dan larangan dan seterusnya — Ummat manusia sudah mendayagunakan nalurinya, instingnya, kerinduan sejati rohaninya, serta memacu imajinasi dan akalnya untuk mencari “yang sejati”.

Sebelum dari langit ditaburkan informasi dan ajaran Taurat, Zabur, Injil maupun AlQuran — ummat manusia sudah berjuang keras untuk melacak “kayaknya kok ada Yang Sangat Berkuasa, Yang Maha Agung, yang serba Maha, yang menciptakan dan mengayomi semua makhluk-makhluk bersaudara ini.

Dulu manusia belum tahu siapa atau apa yang ada duluan. Mana kakak adik, siapa sulung siapa bungsu, di antara langit, bumi, gunung dan lautan, binatang, jin, manusia dan apapun lainnya. Manusia meraba, melacak, “nitèni”, merumuskan dan mencatat dalam kesadarannya.

Manusia merasakan ada semacam kekuatan atau kekuasaan di balik pohon, batu, Sungai, hutan, gunung, air, cahaya dan kegelapan serta apapun saja. Kemudian mereka memberinya nama atas inisiatifnya sendiri : Danyang, Mbahurekso, Dewa, Dah Yuang, serta bermacam-macam lagi. Ada Dewa Angin, ada Dewa Laut, ada yang mereka sebut Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Tunggal, sampai yang lokal dan spesifik: Mbah Petruk, Kik Ronopati, Syekh, Maulana, Kiai, Ki Ageng dan macam-macam lagi.

Jumlahnya di seluruh peradaban sampai 340 juta “gejala tuhan”. Tapi masih sebatas “karangan” manusia sendiri. Meskipun demikian kita perlu menghormati, mengapresiasi dan menjunjung kemuliaan hati mereka untuk “Mencari Tuhan” penguasa sejati atas seluruh kehidupan ini.

Dari 340 juta “tuhan” meningkat pesat sampai tiga “tuhan”, yang menciptakan, memelihara dan merusak. Atau tiga “tuhan” dengan konteks dan struktur pemahaman yang berbeda lagi di kumpulan manusia lainnya. Bahkan ada “tuhan” rekayasa, tuhan-tuhanan yang “diciptakan” oleh segolongan manusia demi penguasaan atas golongan manusia lainnya.

Sampai akhirnya memuncak pada Tuhan Yang Maha Tunggal : “Qul, Huwalllahu Ahad….”. Tuhan memperkenalkan diri-Nya, sebatas yang akal dan rohani manusia sanggup menampungnya. Bahwa main icon-Nya adalah Rahman dan Rahim. Bahwa ada 99 Sifat-Nya. Tidak berarti Allah itu terbatas pada dan oleh 99, karena Allah itu Maha dan tidak bisa dirumuskan oleh angka, jumlah, huruf dan kata.

Yang sebenarnya mau dikejar oleh Gendhon, Beruk dan Pèncèng dari Simbah adalah siapa sebenarnya yang dimaksud oleh NKRI dengan “Tuhan Yang Maha Esa”. Tuhan yang mana atau bagaimana maksudnya. Dari siapa atau wacana apa Pancasila menyebut Tuhan Yang Maha Esa. Apa Ia ada di antara 340 juta “tuhan” itu. Ataukah NKRI menambah “tuhan” menjadi 341 juta jumlahnya.

Kan Indonesia bukan Negara Islam, jadi tidak mungkin Tuhan Yang Maha Esa di Pancasila itu mengacu pada informasi Islam dari Allah. Juga NKRI bukan Negara Kristen, Hindu, Budha, Konghucu atau lain-lainnya.

Siapa tahu Indonesia ini Negara yang berada di luar penciptaan dan kekuasaan Allah, sehingga berperilaku semau-maunya sendiri, dan tidak terikat pada nilai, aturan, hukum maupun risiko-risiko yang diterapkan oleh Allah Swt.

Entah siapa yang punya ide dan berani menjadi pemrakarsa: tiga anak muda milenial itu seperti sengaja mempermainkan Simbah. “Mbah”, kata Beruk. “Ya?”, Simbah merespons. “Uksakka itu apa?” “Uksakka… Apa itu?” “Lho saya yang tanya, Mbah, kok malah Njenengan bertanya balik” “Belum pernah dengar…