Zaman Lunyu-Lunyu Penekno

Catatan Ngaji Bareng IPHI Menganti, Gresik 22 Juli 2017

Sabtu, 22 Juli 2017. Padatnya jalanan yang menghubungkan wilayah Gresik dan Surabaya tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk bersama-sama menempuh perjalanan ke lokasi acara Sinau Bareng Cak Nun dengan tema Tabligh Akbar dan Ngaji Bareng yang diselenggarakan oleh IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) di Lapangan Menganti Gresik. Sejak bakda Magrib, lapangan telah disesaki jamaah. Padahal, acara utama baru akan dimulai pukul 20.00 WIB.

Cak Nun disambut jamaah yang sebagian besar Nahdliyin
Cak Nun disambut jamaah yang sebagian besar Nahdliyin (Foto: Adin, Dok: Progress)

Sambutan Ketua IPHI Kecamatan Menganti serta beberapa pejabat setempat mengawali acara Sinau Bareng. Berikutnya, KiaiKanjeng melantunkan beberapa nomor sholawat yang sudah sangat familiar bagi para jamaah, terutama yang berasal dari kultur Nahdliyin.

Jam menunjukkan pukul 21.10 saat Cak Nun naik ke panggung dengan kawalan Banser serta iringan kerumunan masyarakat setempat yang berebut ngalap berkah bersalaman. Usai berdoa bersama, Cak Nun mengajak jamaah mencari perbedaan antara pengetahuan dan ilmu.

Pengetahuan adalah segala hal yang masih bersifat informasi atau kawruh, sedangkan ilmu adalah caranya. Pengetahuan seluas apapun, bila tanpa ilmu, tidak akan berguna. Supaya pengetahuan meningkat menjadi ilmu, dibutuhkan ikhtiar dari diri sendiri dan hikmah dari Allah.

Dari pengantar dan landasan mengenai perbedaan pengetahuan dan ilmu, Cak Nun mengenalkan sekilas makna tembang Lir-Ilir. Kalimat “penekno blimbing kuwi” berarti hidup itu harus mengalami kemajuan menuju atas, demi mengusahakan “blimbing”. Blimbing bisa diartikan sholat 5 waktu, Rukun Iman, atau Pancasila.

Selanjutnya “lunyu-lunyu penekno” itu menyemangati kita; selicin apapun kondisinya atau sesulit apapun permasalahannya, kita harus tetap berusaha naik dengan menggunakan metode yang tidak berbahaya bagi siapapun, baik bagi diri sendiri atau lingkungan sekitar.

Kisah Terciptanya Shalawat Badar

Sinau Bareng semakin gayeng kala Kyai Muzammil menceritakan kisah yang penuh misteri dan teka-teki di balik terciptanya Sholawat Badar. Pada suatu malam, Kyai Ali Mansur tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus-menerus memikirkan situasi politik saat itu.

Sambil merenung, Kyai Ali Mansur terus memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam Bahasa Arab. Kegelisahan Kyai Ali berbaur dengan rasa heran, karena pada malam sebelumnya ia bermimpi didatangi para habaib berjubah putih-hijau. Keheranannya kian menjadi-jadi, karena istrinya bercerita bahwa pada malam yang sama, ia mimpi bertemu Rasulullah.

Ribuan jamaah memadati Lapangan Menganti, Gresik, 22 Juli 2017
Ribuan jamaah memadati Lapangan Menganti, Gresik, 22 Juli 2017 (Foto: Adin, Dok: Progress)

Kyai Ali Mansyur semakin tak habis pikir, sebab keesokan harinya banyak tetangga yang datang ke rumah sambil membawa beras, daging, dan barang-barang lain, layaknya mendatangi orang yang hendak berhajat. Para tetangga tersebut bercerita bahwa pada pagi-pagi buta, pintu rumah mereka didatangi seorang lelaki berjubah yang mengabarkan bahwa di rumah Kyai Ali Mansur akan ada kegiatan besar, dan mereka diminta membantu. Maka, mereka pun membantu sesuai kemampuan masing-masing. Ternyata, hajat besar Kyai Ali Mansur adalah terciptanya Sholawat Badar yang syair-syairnya telah tertuang dalam lembaran kertasnya malam itu.

Mengerti Skala Prioritas

Cak Nun sendiri mengingatkan pentingnya sholawat dalam kehidupan. Sholawat membuat doa-doa kita diijabahi Allah. Sebelum memohon kepada Allah, secara adab kita harus mencintai kekasih-Nya terlebih dulu, yaitu dengan jalan bersholawat.

Namun, sepenting apapun sholawat, tetap tidak bisa mengalahkan pentingnya Sholat 5 Waktu, sebab ibadah tersebut adalah mahdhoh. Mengetahui skala prioritas dapat membantu kita memahami posisi yang ditakdirkan-Nya untuk kita masing-masing di dunia, sehingga tak muncul rasa iri antara sesama makhluk ciptaan-Nya. Jika kita ini ayam, jangan iri kepada bebek, sebab Allah telah memberikan fadhilah kepada masing-masing ciptaan.

Oleh karena itulah, Cak Nun senang hati melakoni perannya sebagai “sandal yang diinjak-injak”, menghibur, dan menemani sesama manusia di seluruh pelosok desa-desa yang ada di Nusantara.

Hal serupa bisa diterapkan dalam analogi Bluluk, Cengkir, Degan, dan Kelapa. Islam adalah Kelapa dan selalu diupayakan kehancurannya oleh pihak-pihak lain akibat rasa iri. Salah satunya dengan jalan mengadu domba sesama muslim.

Cak Nun mewanti-wanti agar semua elemen ormas/lembaga Islam di Nusantara, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), turut menjaga Islam agar tidak mudah dipecah-belah. Kita juga harus ingat, di atas ukuran baik dan benar yang digunakan dalam hidup, manusia harus mengutamakan cinta, yang puncaknya adalah cinta kepada Allah. Untuk itu, kita harus mengikuti jejak Kekasih-Nya, Kanjeng Nabi Muhammad.

Selesai sesi tanya-jawab, Cak Nun membahas seteru yang yang terjadi antara sesama anak bangsa Indonesia. Seperti munculnya pertikaian akibat perbedaan pandang mengenai pemahaman imamah dan khilafah, sehingga memunculkan pihak pro dan kontra.

Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, menganti, Gresik, 22 Juli 2017
Kemesraan (Foto: Adin, Dok: Progress)

Dalam pandangan Cak Nun, sesungguhnya, kita tidak perlu bersikap anti terhadap wacana tersebut, sebab kunci dari imamah/khilafah adalah tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Lagipula, sesungguhnya konsep imamah/khalifah juga berasal dari Allah.

Dalam menyelesaikan masalah ini, sayangnya kita menggunakan kebijakan yang lahir dari ketidakbijaksanaan. Seharusnya, Pemerintah mengundang semua pihak untuk berkumpul dalam satu meja guna berdiskusi dan menggodok fatwa, agar rakyat tidak lagi berebut benar. Langkah ini merupakan perwujudan nyata dari Pancasila sila ke-3 Persatuan Indonesia.

Di penghujung acara, Cak Nun mengajak jamaah untuk berdiri, khusyuk melantunkan sholawat Hubbu Ahmadin, dan dipungkasi doa oleh Kyai Muzammil. Sesi salaman antara Cak Nun dan jamaah Gresik, kota yang notabene merupakan kantong besar santri Nahdlatul Ulama, walau harus antri satu jam, berlangsung dengan sangat kondusif. (Syaiful Gogon)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image