Wedang Uwuh (38)

Yang Maha Tunggal

Kedaulatan Rakyat, 18 Juli 2017

Usai Pèncèng bercerita, Beruk bertanya.

“Mereka yang Syawalan itu Muslim atau bukan?”

“Mereka berpuasa atau tidak?”, Gendhon menambahi.

“Tidak ada kemungkinan untuk tahu itu. Tidak ada cara untuk mengerti seseorang itu Muslim atau bukan, apalagi berpuasa atau tidak”,  jawab Pèncèng.

“Lho kan ada tanda-tandanya”

“Ya. Ada indikatornya. Ada display-nya”

“Misalnya?”

“Ya banyak. Peci kek. Sarungnya. Surbannya. Penampakannya…”

“Itu kan cuma casing-nya” , Pèncèng membantah, “Manekin di Toko Muslim semua pakai gamis, sarung atau peci. Mosok Manekin muslim”

“Ucapan-ucapannya…”

“Apa? Assalamu’alaikum? Semua orang di Indonesia mengucapkan Assalamu’alaikum. Tidak ada hubungannya dengan apa Agamanya. Bahkan tidak ada kaitannya dengan apa maksudnya Assalamu’alaikum”

“Tapi kalimah thayyibah mestinya diucapkan hanya oleh orang Islam”

“Kalau Alhamdulillah, ya. Itu sudah jamak diucapkan semua orang. Tapi Subhanallah, Astaghfirullah, apalagi La Ilaha Illallah”

“Boleh saja semua orang mengucapkan La Ilaha Illallah, asalkan tidak bermaksud memaksudkan apa artinya. Di Indonesia kita sudah sangat terbiasa mengucapkan kata-kata yang kita tidak tahu persis muatannya”

“Kalau kalimat-kalimat dari Islam, mungkin. Tapi kalau kata-kata yang netral?”

“Kata-kata yang netral? O, jadi kalau kata-kata dari Islam itu tidak netral?”

“Bukan begitu maksud saya. Netral artinya tidak mengacu hanya pada suatu golongan.

“Lho yang tidak netral kan sudah banyak yang dinetralkan. Katanya semua orang mengucapkan Assalamu’alaikum, Alhamdulillah. Bahkan Astaga kan asalnya dari Astaghfirullah”

“Maksud saya yang netral itu misalnya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika”

“Pancasila itu netral, tapi kata adil, wakil, rakyat, musyawarah, beradab, hikmat, itu semua diambil dari daerah tidak netral. Itu semua bahasa Arab, diciduknya dari nilai Islam. Jadi Pancasila itu sebuah komposisi atau aransemen Islam. Kalau Bhinneka Tunggal Ika itu campuran Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. Ika artinya kuwi, iko, iki. Bukan ika adalah satu. Kalau satu itu Eka. Atau Tunggal. Yang lebih tepat Ketuhanan Yang Maha Tunggal, sebab kalau Esa ada Duwa dan Tatlu-nya. Kalau Eka Dwi dan Tri-nya. Kalau Tunggal tidak ada duanya. Tuhan itu Maha Tunggal…”

“Ini kok jadi Penataran P-4”

“Lha kan memang semua serba tidak jelas. Garuda saja itu nama makhluk atau nama burung, tidak ada yang ngurus. Garuda itu apa, siapa, ngapain, jantan atau betina kan ndak ada yang nanya. Kalau Garuda tidak jelas laki atau perempuan, pasti dia gagal tumbuh. Mosok lelaki mengembangkan keperempuanannya. Mosok perempuan memacu kelelakiannya. Lama-lama berubah jadi Emprit”

“Aduh Pèncèng ini…”

“Untung Hiroshima Nagasaki dibom tanggal 14 Agustus. Bayangkan kalau Amerika ngebomnya tanggal 30 Desember, lantas Indonesia merdeka tanggal 1 Januari. Bisa dibayangkan bagaimana gambar Garuda dengan hanya sayap satu helai dan ekor sehelai juga”

“Pèncèng! Hati-hati bicara!”

“Lho saya ini melakukan Bhinneka. Bhina. Bhinna. Bina. Pembinaan. Bina` itu Bahasa Arab, artinya bangunan” .

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image