World Music Bernama KiaiKanjeng

Begini. Saya ceritakan hal sederhana, siapa tahu teman-teman sepakat. Itupun kalau sepakat. Kalau tidak, tidak ada masalah. Yang jelas, niat saya menulis masih sama. Yaitu memancing kebenaran-kebenaran yang lebih benar dari kebenaran-kebenaran (itupun kalau layak disebut sebagai kebenaran) dari tulisan ini. Ini penting. Karena saya yakin tulisan ini masih jauh dari kebenaran itu sendiri. Pengetahuan saya hanya sedikit.

Saya ingin mengajak alam pikiran saya sendiri untuk pelan-pelan menyelami musik KiaiKanjeng. Kalau mau teman-teman boleh ikut menyelam. Tapi dengan syarat bawa perlengkapan menyelam masing-masing. Perlengkapan yang saya bawa, hanya untuk diri saya sendiri. Persiapkan barang bawaan anda. Nanti tergantung seberapa dalam teman-teman kuat menyelam. Soalnya nanti penyelaman saya juga terbatas. Bisa jadi dangkal atau bahkan hanya permukaan saja.

Penyelaman yang pertama, kita mulai dengan pertanyaan siapa KiaiKanjeng? Langsung boleh dijawab bersama-sama. Kemungkinan besar jawaban saya bisa sangat berbeda dengan jawaban teman-teman sekalian. Pertanyaan tersebut sangat bisa dijawab dengan metode penulusuran alias dicari dengan pisau bedah ilmu sejarah. Sejarah terbentuknya KiaiKanjeng. Dari awal hingga bentuk yang sekarang ini. Ada yang menjawab seperti itu? Anda memang luar biasa.

Kalau jawaban saya jika ditanya “Siapa KiaiKanjeng?”

Saya Jawab, “Kelompok musik.”

Hanya itu? Iya. Jawaban saya sementara ini hanya itu. Lalu jika dikejar lagi, “Kalau kelompok musik, memang musik KiaiKanjeng tergolong musik apa? Alat musiknya beragam. Aransemennya tidak serampangan. Kemampuan bermusik personelnya tak perlu dipertanyakan. Belum lagi, ketahanan fisik personelnya yang pentas berpindah tempat dalam waktu singkat tanpa butuh dicatat rekornya oleh MURI. Masih yakin jika itu disebut sekadar kelompok musik?”

Saya jawab, “Jenis musik KiaiKanjeng, merupakan jenis World Music.”

Adalah Pakdhe Robert Edward Brown, seorang etnomusikolog dari Amerika yang pertama kali mengenalkan istilah World Music. Kalau teman-teman yang kuliah di jurusan etnomusikologi atau musikologi kayaknya pernah dengar nama beliau. Karena konsentrasi studi beliau memang musik-musik yang berkembang di luar wilayah musik klasik dan musik populer barat.

Tahulah ya soal pembagian Negara Barat-Timur ini. Kira-kira tahun 1960-an beliau mulai memetakan musik-musik yang ada di negara non-Western, atau  negara dunia ketiga. Khususnya dari kawasan Asia dan Afrika. Beliaunya seneng meneliti musik-musik asli dari negara-negara tersebut. Tentu saja sambil melakukan perekaman. Kalau Indonesia beliau lebih sering meneliti soal Gamelan. Karena itu beliau sampai diangkat sebagai asisten oleh Pakdhe Mantle Hood. Bukan Robin Hood lho.

Mantle Hood itu sekarang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Musik Gamelan di Amerika sana. Apik to? Dua album di antara album-album Pakdhe Robert E. Brown tentang gamelan antara lain Java: Court Gamelan volume II (1977) dan Java: Court Gamelan Volume III (1979). Tahun segitu Indonesia lagi anget-anget-nya kuasa Orba. Saya belum lahir. Saya kids jaman now.

Lantas, unsur apa saja sih yang menyebabkan komposisi musik sampai disebut World Music? Ini yang ingin saya katakan kepada khalayak. Inti dari World Music adalah musik-musik hasil gabungan dari musik-musik yang ada di seluruh dunia. Biasanya mengandung unsur musik etnik atau musik yang mencirikan identitas asli sebuah kebudayaan. Orang sana biasanya menyebutnya dengan musik etnik. Atau musik tradisi. Atau ‘bukan musik Barat’. Atau musik rakyat. Pokoknya yang di luar kebudayaan Barat menurut mereka.

Ketika gaya musik-musik ‘bukan musik Barat’ itu bertemu dengan gaya musik etnik tadi, maka musik tersebut langsung dibaiat dalam kategori World Music. Misalnya, ada orang main piano atau biola, bersanding mesra dengan pemain gendèr dari Jawa. Atau tabla dari India. Atau er-hu dari China. Atau djimbe dari Afrika. Begitu kumpul dan membentuk satu kompoisi musikal baru, maka agar tidak bingung lagi memetakan, disebutlah bentuk baru itu dengan World Music. Penak ya wong kono nek ngarani?

Tahun 1980-an oleh industri musik, istilah World Music digunakan di toko-toko musik untuk mengklasifikasikan musik-musik yang tidak populer, tidak juga berbentuk musik klasik. Salah satu kuncinya ada di ‘tidak populer’ tersebut. Masalahnya populer dan tidak populernya suatu produk ditentukan oleh kapital.

Kalau ingin mencari musik yang kurang familiar di telinga, cari saja di rak-rak World Music. Karena mungkin, musik yang ada di dalam kategori tersebut tidak menjanjikan dalam hal penjualan. Salah satu penyebabnya karena ada percampuran dengan musik-musik asli dari negara berkembang. Dan terkesan aneh.

Maka dari itu tidak heran jika ada sarjana musik, atau doktor dari luar yang ingin meneliti lebih jauh tentang musik-musik KiaiKanjeng. Mungkin mereka merasa heran atau bingung dengan musik KiaiKanjeng. Komposisi alat musik Barat, Arab, Jawa sangat terasa di sana. Baratnya dapat. Arabnya ada. Jawanya, sudah mesti ada. Dan, cara mengolahnya tidak asal-asalan. Saya yaikin para personelnya tidak malas untuk mencari referensi musikal. Apalagi untuk urusan aransemen.

Bisa jadi kesan pertama yang ada di kepala mereka mungkin World Music itu sendiri. Karena dari segi alat musik yang digunakan, KiaiKanjeng sudah memenuhi syarat dan rukun World Music.

Itu baru dari ranah musikalitas. Belum lagi kalau peneliti barat itu tahu tentang jam-jam pentas KiaiKanjeng yang tidak bisa dipahami dengan nalar. Bisa tambah bingung mereka.

Kalau boleh saya mengutarakan, KiaiKanjeng ini jenis World Music yang paling banyak membuat karya. Dan kemungkinan, paling laku di negaranya sendiri. Meski saya tidak pernah tahu berapa jumlah keping CD yang terbeli. Tetapi, setidaknya masyarakat Indonesia, ada yang sampai hafal lagu-lagu dari KiaiKanjeng. Kadang-kadang jenis musik World Music hanya laku di Amerika atau Eropa sono.

Atau bisa disebut dengan kelompok musik World Music yang paling sering mengadakan pentas dan memiliki penonton terbanyak sepanjang sejarah peradaban World Music. Sudah ada sarjana dari barat yang berasumsi sampai seperti ini? Kalau belum berarti temuan baru. Bisa jadi doktor lho saya nanti.

Atau kelompok musik yang benar-benar mengaplikasikan istilah folk music, atau sering disebut sebagai musik rakyat tadi yang bisa dijadikan sebagai syarat untuk disebut World Music. Karena KiaiKanjeng benar-benar dekat dengan rakyat dalam setiap pementasannya. Karya atau lagu-lagu yang dibawakan bisa menyesuaikan dengan penontonnya. Butuh dangdut, ada. Butuh campursari, monggo. Butuh rock, nasyidaria, oke-oke saja. Tembang kenangan untuk para pejabat, sangat siap.

Sayangnya ada istilah ‘musik rakyat’ tetapi belum ada istilah ‘musik pemerintah’. Saya harap jangan sampai ada. Toh kalau ada ‘musik pemerintah’ yang disuruh main rakyat juga. Pemerintah tinggal bikin undang-undangnya, narik pajaknya, dan memberi sanksi. Penghargaan, sepertinya jarang.

Penyelaman saya kali ini saya cukupkan sekian. Persediaan oksigen saya kurang banyak. Ini sudah mulai menipis. Saya masih perlu belajar teknik menyelam yang benar khusus untuk KiaiKanjeng ini. Nanti insyaAllah kita selami lagi lebih dalam untuk detail format pemilihan alat-alat musik, data album dan lagu yang sudah dibuat, para personel yang dulu dan sekarang serta latar belakang mereka (kalau boleh). Proses kreatif dalam membuat komposisi musik dan lagu, konsep panggung yang tidak terlalu tinggi, bermain musik dengan cara duduk bahkan lesehan, termasuk juga konsep pementasan yang baru-baru ini menggunakan rasa pertunjukan teatrikal. Ada apa di balik semua itu? Sampai mas Doni manjat rejing panggung? Iya?

Tetapi jangan lupakan juga pendekatan sejarah. Karena tidak mungkin juga kita lupakan siapa saja yang ada di balik kelahiran KiaiKanjeng. Termasuk peristiwa apa saja yang terjadi kala itu. Atau kalau cukup waktu dan usia, bantu saya menarik garis ke belakang. Saya penasaran, sama timnya Sunan Kalijaga. Mosok beliau bikin lagu sendiri. Terus kalau pentas sendiri juga?

Lha emang apa hubungannya? Siapa tahu ada. Soalnya beberapa waktu yang lalu saat pentas di Jogja, pas keyboardis Dream Theater, sapa kae jenenge lali aku, memainkan nada dari lagu ‘Gundul-Gundul Pacul’ semua penonton bersorak sorai membahana.

Lha apa hubungannya? Sekali lagi nanti kita lanjut lagi penyelamannya kalau cukup waktu dan usia. Hari sudah gelap kisanak. Beri saya sedikit cahaya. Nuwun.

Begini. Saya ceritakan hal sederhana, siapa tahu teman-teman sepakat. Itupun kalau sepakat. Kalau tidak, tidak ada masalah. Yang jelas, niat saya menulis…