Wedang Uwuh (24)

Wongso, The Legend

Kedaulatan Rakyat, 4 April 2017

Kepada Beruk, Gendhon, dan Pèncèng saya berkisah puluhan tahun silam di sebelah barat perempatan Wirobrajan selatan jalan ada warung wedangan Mbah Wongso. Ini warung legendaris. Khas angkringan Yogya. Tidak hanya nasgithel-nya, nasi kucing dan variasi kecil cemilannya, tapi juga karakter Mbah Wongsonya, filosofi dan budayanya.

Sejak sore hingga pagi Mbah Wongso duduk dikelilingi alat-alat angkringannya. Kiri kanannya dua kotak makanan dan jajan yang tadi dan nanti dipikulnya dari dan ke rumahnya. Sebelah depan kanan kompor, depannya meja atau papan kecil sambungan tempat meracik teh kopi jeruk panas dan wedang jahe. Di depan dan kiri kanan semua itu bangku-bangku tempat duduk para pembeli.

Jam sepuluh ke atas Mbah Wongso biasanya mulai mengantuk, dan melayani para pembeli dalam keadaan antara bangun dan jaga. Kalau dia menuangkan air panas dari ceret ke cangkir, sering tertidur di tengahnya sehingga air panas itu tumpah dari cangkir yang kepenuhan. Mbah Wongso terbangun kalau tumpahan air panas itu menciprati pahanya. Atau sesekali kita bangunkan supaya pahanya tidak tertumpahi air panas.

Mbah Wongso tidak sedang berdagang. Pertama karena dia tidak peduli pada detail dan jumlah dagangannya. Kalau kita makan nasi kucing tiga bungkus mengaku hanya satu, Mbah Wongso tidak tahu dan tidak peduli. Ambil tempe lima bilang dua, atau krupuk tujuh bilang tiga, tidak pernah menjadi masalah. Mbah Wongso bukan kapitalis. Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.

Mbah Wongso menjalani darma hidup. Beliau sangat menikmati setiap malam melayani siapa saja yang butuh sruput-sruput anget-anget dan nyaem-nyaem. Beliau punya kesadaran untung dan rugi, tetapi itu bukan perhitungan utama kehidupannya. Beliau tidak pernah berpikir meningkatkan dagangannya, menaikkan omsetnya, memodifikasi, dan mengkreatifi performa perniagaannya. Mbah Wongso hanya menjalani semacam “bersembahyang”, sujud kasunyatan kepada Pengeran Sing Kuwoso, setiap malam menjalani darma bakti, ketekunan dan kesetiaan. Mbah Wongso tidak pernah menjadi kaya, dan memang soal kaya miskin bukan perhatian utama nilai hidup beliau.

Mbah Wongso ibaratnya seorang “Brahma”. Tidak penting yang dikerjakannya itu warung, restoran, franchise usaha ini itu, Mal atau apapun. Tidak penting apakah dia tukang atau pejabat, pelayan atau Ustadz, wong cilik atau public figure, punya mobil atau sepeda onthel. Karena yang utama, dengan kondisi hidup seperti apapun, yang ia abdi adalah Tuhan. Fokus perjuangan hidupnya adalah penerimaan dan keridlaan Tuhan atas yang dilakukannya.

Mbah Wongso bukan seorang “Sudra”. “Maaf ini idiom menurut pemahaman subjektif saya, bukan pengertian baku”, saya interupsi menjelaskan penggunaan kata “Sudra”. Mbah Wongso bukan jenis manusia yang tampak luarnya mungkin adalah intelektual, orang saleh, cendekiawan, Ulama, Kiai, pejabat alim rapi, atau yang sejenis-sejenis itu – tapi fokus sepak terjang hidupnya adalah mengejar dunia: jabatan, harta benda, kedudukan sosial, gengsi budaya, feodalisme dan hedonisme. Mbah Wongso dan ribuan Mbah-Mbah dan Bapak-Bapak atau Mbok-Mbok lainnya bukan tipologi “Sudra” semacam itu.

Mbah Wongso bukan orang sekolahan, bukan orang dengan pakaian kealiman dan peci kesalehan. Beliau sekadar seorang yang setia kepada amanah kehidupannya sebagai manusia. Bahkan kalau Mbah Wongso adanya sekarang, kemungkinan besar beliau sudah dikafirkan. Karena tidak jelas kapan dia shalat Maghrib, Isya, serta Subuhnya. Kalau di sebelah perempatan Wirobrajan ada Mbah Wongso sekarang ini, bisa jadi banyak anak muda terpelajar pengurus dan pemilik Agama Islam, terutama Ustadz-Ustadz yang Allah mengirim mereka ke bumi langsung dari surga, berkesimpulan bahwa Mbah Wongso adalah contoh sangat jelas dari calon penghuni neraka.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image