Wajah

(Ya Allah, hamba takut)

Di tengah perjalanan sangat panjang bersilaturahmi dengan rakyat Indonesia di ribuan titik, sepulang dari lima forum dengan lima komunitas di Perth Australia dan seputarnya, tiga hari terakhir kemarin berturut-turut aku berhadapan dengan kerumunan manusia yang berasal dari wilayah kesibukan dan permasalahan yang berbeda-beda.

Pertama di Alun-alun Keraton Mangkunegaran Solo. Berikutnya di forum Sekolah Perwira Polisi bersama seorang Menko dan Injilis senior. Kemudian di dekat perbatasan Korea Selatan-Utara bertemu ratusan cucu-cucuku yang minta aku datang mengunjungi mereka sebagai “Mbah” mereka. Mbah, Kakek, orang tua, bukan Kiai, Ustadz, tokoh atau brand apapun yang sangat berbeda persambungan nilainya.

Tanpa kusadari perjumpaan demi perjumpaan itu menanamkan di dalam dadaku eskalasi rasa takut. Semakin memuai, semakin menekan, semakin mendalam. Ini pengalaman yang agak tidak wajar. Tidak biasanya aku merasakan ketakutan. Aku hidup tidak dalam dialektika takut dan berani. Tidak optimis tidak pesimis.

Kalau aku berbuat sesuatu, tidak karena aku berani dan optimis. Kalau aku tak melakukan sesuatu, tidak karena takut dan pesimis. Ayam berkokok tidak untuk pementasan seni berkokok. Angin berhembus tidak sedang sibuk mempergelarkan koreografi tari gemulai.

Di semua pertemuan itu, terutama di tiga silaturahmi terakhir, pada setiap kata dan kalimat dialog kami, selalu muncul gambar-gambar Indonesia, wajah-wajah para pemimpinnya. Dan itu semua menyempurnakan rasa takut yang menghimpitku.

Puncak rasa takutku adalah tatkala menatap satu wajah yang sejak lama selalu kuhindari untuk menatapnya. Bahkan sebisa mungkin kusembunyikan dari setiap sapuan ingatanku. Sebab wajah itu menerbitkan rasa sedih ke dalam hatiku. Wajah itu menimpakan kecemasan, keprihatinan, penyesalan, terkadang amarah, tapi juga rasa iba.

Itu semua tidak ada hubungannya dengan diriku pribadi. Takutku, takut Indonesia. Cemasku, cemas Indonesia. Prihatinku, prihatin Indonesia. Ibaku, iba Indonesia.

Aku sendiri tidak punya perasaan-perasaan itu kepada apapun dan siapapun yang ada dalam kehidupan. Aku bukan subjek rasa takut itu. Aku yang ditimpa olehnya. Tentu ada saat-saat spontan di mana perasaan lain seperti kejengkelan, kemarahan dan kebencian muncul menyapu perasaan. Tetapi selalu harus kuhapus dengan permakluman, dan kusirnakan dengan kebijaksanaan.

Tak sengaja kali itu aku seperti terseret entah oleh apa untuk menatap foto wajah itu. Tidak pernah sebelumnya, kali ini aku menatapnya cukup lama. Padahal selama ini jika memasuki sebuah ruangan di kantor, melintas di jalan, terlihat lembaran-lembaran koran, atau di media apapun, selalu wajah itu segera kulewatkan.

Sesudah dadaku didera perasaan campur aduk, ternyata terseret lagi aku meneruskannya dengan mengamati gambar-gambar lainnya tentang negeri Indonesia Raya yang amat kucintai. Bahkan satu dua kali sempat kubaca berbagai tulisan tentang kekasihku itu, masalah-masalahnya, tantangan dan dilema-dilemanya.

Wajah itu serta wajah-wajah yang lain, hamparan gambar-gambar keadaan Negeriku, gurat-guratan airmuka rakyatnya, serta semua tulisan yang kubaca, membuatku semakin tidak sanggup memahami Indonesia. Tidak ada penderitaan melebihi ketidakmengertian terhadap apa yang kita hadapi. Tidak ada kesengsaraan batin melampaui ketidakpahaman tentang segala sesuatu di sekitar kita. Tidak ada peperangan yang lebih mengerikan dibanding pertempuran di mana kita tidak punya kepastian pengetahuan tentang musuh.

Itulah salah satu hasil dari satu wajah dan wajah-wajah yang kutatap, serta hamparan keadaan-keadaan yang kulihat. Ialah kepastian bahwa aku sebenarnya gagal paham terhadap Indonesia.

Akibat berikutnya juga menambah rasa takutku: ya Allah entah kenapa muncul Nabi Musa di benakku. Tentu saja bukan wajah anak angkat Fir’aun itu. Hanya bayangan subjektifnya di benakku. Takutku bertambah lagi: apa-apaan ini. Memang siapa aku sehingga Juru Bicara Allah itu terlibat di dalam keruwetan perasaanku.

Tetapi kemudian malah muncul perasaan bahwa rasa takut yang menghimpitku itu bersambungan dengan rasa takut Nabi Musa.

Tuhan memerintahkan agar ia mendatangi Fir’aun dan melakukan konfirmasi kenapa ia tidak waspada terhadap Tuhan. Musa menjawab: “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku”.

Perbatasan Korea Selatan-Korea Utara, 6 Oktober 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image