Wa ila rabbika farghab

Pernah saya alami kejadian saat saya bekerja, ada seseorang datang membawa mobilnya ke toko audio saya lalu bicara tentang masalah audionya. Orang tersebut sudah rencana mau ganti semua perangkat audio mobilnya. Saya menanggapinya dengan ramah tamah. Namanya juga pembeli. Ada pepatah “Pembeli Itu Adalah Raja”. Jadi seperti biasanya saya melayaninya dengan baik.

Seperti yang sudah beliau rencanakan untuk mengganti semua perangkat audio mobilnya karena belum merasa puas. Ia Ingin ganti box dan subwofer-nya. Saya menawari barang yang saya jual. Saya sampaikan kalau mau bagus suaranya pakai merk ini dan merk ini, saya jamin pasti suaranya bagus. Saya teskan dulu di sini sebelum nanti pasang di mobilnya.

Ketika mendengarkan suara yang saya tes tadi beliau bilang, “Lha ini baru bagus suaranya tidak seperti di mobil saya,” beliau memuji saya, “sampean memang pintar memilihkan pilihan saya.” Beliau sambil tersenyum tertawa sedikit.

Sebelum pasang di mobilnya beliau pamit mau pergi dulu. “Mobilnya saya tinggal, nanti sampean kerjakan kalau sudah selesai hubungi saya,” kata beliau sambil memberi nomer handphone-nya ke saya. “Ini mas nomer HP-nya.”

Saya menjawab, “Oiya Pak nanti setelah selesai saya hubungi.” Lalu beliau pergi pamitan dengan saya.

Kemudian saya cek dan bongkari semuanya. Saya heran juga perangkatnya sudah bagus-bagus kok minta ganti semua. Saya berpikir begini saja, mending dibongkari untuk dibenerin semua pemasangannya dari sebelumnya hingga benar. Mungkin ada yang salah kenapa kok perangkat sudah bagus hasil suaranya belum bagus juga.

Ternyata benar. Pemasangannya banyak yang salah antara (+) dan (-)-nya terbolak-balik. Dalam ilmu audio yang sudah saya ketahui kalau (+) dan (-) terbalik itu pasti tidak akan menghasilkan suara yang bagus. Apalagi untuk subwofer. Seandainya (+) dan (-)-nya terbalik sudah pasti tidak akan menghasilkan suara bas yang bagus dan ulem.

Setelah selesai semua, saya coba suaranya dengan men-setting lagi powernya. Suara yang dihasilkan sudah beda jauh sama yang tadi sebelum saya perbaiki. Akhirnya barang yang sudah deal dibeli tidak jadi saya pasang. Cuma saya benerin saja yang tadinya speaker tidak ikut power saya ikutan power. Subwofer yang tadinya dibikin 8 ohm, saya ubah jadi 4 ohm. Dan pemasangan (+) dan (-)-nya yang awalnya terbalik yang menyebabkan suara bas tidak maksimal saya perbaiki sehingga menghasilkan suara yang maksimal. Setelah semua sudah selesai, hasilnya sudah lain seperti saat pertama datang saya tes tadi. Sekarang menurut saya sudah puas setelah di-setting dan benerin tadi. Suara yang dihasilkan memang sudah bagus didengarkan.

Beberapa waktu kemudian pemiliknya datang langsung mendengarkan suaranya dan berkata, “Beda sekali ya mas daripada yang tadi.” Dalam hati saya, sampean belum tahu pak kalau semua ini tadi tidak jadi diganti semua.

Kemudian saya perlahan menjelaskan, “Tadi tidak jadi mengganti perangkat audionya sampean karena punya sampean sudah bagus-bagus, cuma saya benerakan saja pemasangannya.

Lha di situ tadi kan sudah ada peristiwa, padahal tadinya yang punya mobil sudah deal beli barang saya. Setelah saya bongkari tadi, akhirnya tidak jadi saya pasang karena saya tahu kalau perangkat audionya sudah bagus bagus.

Saat peristiwa itu saya sempat terpikirkan tulisan Mbah Nun di Daur.

Kelihatannya Cak Sot sudah agak paranoid, selalu merasa dikejar atau dikepung oleh kegagalan”

“Ah, kamu berlagak pilon. Sejak dulu di Patangpuluhan kita kan tidak mengenal sukses, apalagi gagal. Bengkel motormu akhirnya kan tutup, tapi saya tidak pernah bilang itu gagal”

“Mbok jangan sebut-sebut itu lagi, Cak Sot”

“Lha malah kamu yang diam-diam merasa gagal. Kalau memang mau masuk tema sukses-gagal, saya katakan sebenarnya bengkel motormu itu sukses, maka bangkrut dan tutup”

“Kok sukses?”

“Lho kamu selama mbengkel kan sukses untuk jujur, tidak menipu konsumen, tidak morotin orang yang membengkelkan motornya. Kamu Sapron Bengkel, tapi tetap mengutamakan Sapron Wong. Kebanyakan orang kan mengutamakan Dadap Pedagang, menyisihkan Dadap Wong, Presiden Pedagang melupakan Presiden Wong. Juga posisi, fungsi-fungsi, jabatan dan kedudukan-kedudukan lain yang bermacam-macam. Kemanusiaan nomor sekian, bahkan boleh tidak berlaku” –Daur 62 – Revolusi Tlethong

Kesimpulan saya dengan tulisan Mbah Nun di Daur tersebut berarti setiap orang dagang itu yang diutamakan harus pelayanan dulu. Masalah upah adalah suatu akibat dari perjuangan dalam berdagang dengan hati dan sikap yang jujur. Faidza faraghta fanshab, Wa ila rabbika farghab. Manusia hanya mampu menanam dengan kesadaran harapan kepada Allah, karena Allah yang menumbuhkan.

Jepara, 6 Oktober 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image