Untuk Simbah Guru

Sayup-sayup saya dengar lagu  berjudul “Untuk Simbah Guru”, sebuah bebunyian yang liriknya diciptakan oleh Agus Sukoco dan ditangkap secara musikal oleh Endro Irmawan. Lagu berdurasi 4 menit 55 detik ini menjadi lagu yang ikonik dan menyentuh bagi penggiat Juguran Syafaat, Banyumas Raya. Karena dapur kreativitasnya mereka garap bersama sebisa-bisa mereka. Dan lebih khususnya, karena yang menjadi cerita dari lagu ini adalah guru mereka sendiri, yaitu Maulana Muhammad Ainun Nadjib.

Lagu ini dikreativitasi pada saat pagelaran Silatnas Penggiat Maiyah pada akhir 2014 lalu. Diperdengarkan pertama kali ke publik pada saat pembukaan event ini. Namun oleh penggiat Juguran Syafaat, lagu ini menjadi obat yang cukup ampuh atas kerinduan mereka akan gurunya setiap waktunya. Termasuk obat rindu pula untuk saya sendiri.

Kemilau warna purnama. Memantul dari petuahmu. Luas jiwa satriamu. Bentangan samudra raya.

Kebeningan di hatimu. Mataair dahaga hidup kami. Sinar wajahmu yang teduh. Seperti embun memeluk bukit.

Lelaki tangguh berjalan sendiri. Menyibak semak dan duri. Lelaki perkasa yang memilih sepi. Pergi dari riuhnya pesta.

Mata batin makrifatmu. Meneteskan cahaya benderang. Yang menuntun langkah kami. Menembus pekat jalan pulang.

Entah berapa abad lagi. Kesabaranmu menunggu waktu. Bertahan menyediakan pangkuan. Bagi jiwa gelisah merebak.

Lelaki tangguh berjalan sendiri. Menyibak semak dan duri. Seribu kali kau nyatakan cinta. Seribu kali negerimu mencampakannya.

Penggiat Juguran Syafaat yang berasal dari Purwokerto dan Purbalingga hampir rutin setiap malam jumat untuk berkumpul. Tujuan utama merapatkan barisan, mempererat silaturahmi. Namun tetap saja, tema utama yang dibahas adalah ilmu-ilmu yang berasal dari kebun Maiyah. Dan tak lepas dari nggrendengi guru mereka, yang akrab disapa Mbah Nun.

Bagi mereka Mbah Nun adalah orang tua ideologis. Beberapa orang belum pernah bersentuhan fisik dengan Baliau, tapi melalui obrolan hangat kami malam jumat, bisa jadi merasa sangat dekat dan akrab sekali. Jika saya berkenjung ke rumah teman-teman Purbalingga, sudah dipastikan gambar utama yang terpasang di dinding mereka adalah foto Mbah Nun. Mereka rutin berkumpul malam Jumat, rutin bulanan di Juguran Syafaat dan sesekali berziarah ke Mocopat Syafaat.

Tapi yang menarik lagi adalah beberapa fenomena yang saya temui.

Suatu saat obrolan saya dengan teman-teman teater di Purwokerto di sebuah warung kopi yang sangat kekinian, tiba pada sebuah tema ilahiah. Sebelumnya kami yang membahas kondisi sosial lokal, ngalor ke penanaman modal asing di Indonesia, ngidul ke dunia perkopian, hingga masalah sufiistik keilahian.

Dan tak menyana lagi, bahwa mereka adalah pengunyah rutin sajian video youtube dengan kata pencarian utama “Cak Nun”. Beberapa di antaranya setelah menonton menjadi rajin membaca tulisan dan buku karya Mbah Nun. Atau merapat ke Juguran Syafaat sebagai simpul terdekat. Atau malah diam-diam ke Mocopat Syafaat. Saya kaget bukan main. Saya kenal betul kondisi sosial mereka dalam pergaulan berteater, namun memang kedahagaan akan jawaban-jawaban hidup bisa dijawab dengan mudah dan renyah oleh seorang Emha Ainun Nadjib melalui video yang di-share beberapa orang di website youtube.

Lain cerita lagi, teman baik saya, biasa mengajak saya nge-bir bersama namun saya hanya memilih menu jus jambu, pun tetiba menanyakan perihal Mbah Nun. Obrolan filsafat dengan takdir, nasib, jodoh, hidup, dan mati. Saya tak kuasa menjawabnya terkait keterbatasan kapasitas otak saya. Saya biarkan dia menonton satu dua video youtube Mbah Nun dan juga sedikit merekomendasikan buku-buku Beliau kepada teman saya. Dan hingga akhirnya, pertanyaan teman baik saya semakin banyak, kami lebih sering diskusi lebih lanjut.

Dalam sebuah Focus Goup Disccusion yang saya ikuti beberapa waktu lalu yang membahas partai politik dalam pandangan umum masyarakat. Yang hadir memang bukan kalangan akademisi, praktisi, maupun aktivis, tapi murni orang biasa, rakyat biasa. dari sekian banyak yang hadir, hampir semua mempunyai kekecewaan terhadap sistem politik dan juga partai politik yang ada di Indonesia. Bermaca-macam alasannya. Tapi yang menarik, ketika mereka ditanyai, jika sekarang tokoh siapa yang mereka percaya, hampir 70% yang hadir menjawab budayawan dengan nama Emha Ainun Nadjib.

Sebuah Fenomena

Fenomena Mbah Nun menjadi muncul kembali. Setidaknya menurut pengetahuan dan penglihatan sederhana saya. Namanya mengisi banyak ruang di hati masayarakat Indonesia. Ini mungkin yang pernah Sabrang MDP katakan jika kita bangun kesadaran bersama, secara otomatis kesadaran itu bisa mempengaruhi seluruh kesadaran kolektif masyarakat.

Saya ingat betul sebuah diskusi, jika kalian ingin mendapatkan cinta seseorang, seringlah berdoa untuknya. Baca Al Fatihah dan ucapkan salam. Dan mungkin ini yang Mbah Nun lakukan kepada rakyat Indonesia. Menemani dan mendoakannya setiap malam, dan diam-diam meraka jatuh hati kepada Mbah Nun dengan mekanisme yang tanpa meraka ketahui.

Mbah Nun, Emha Ainun Nadjib, Maulana Muhammad Ainun Nadjib. Gelar Maulana yang disematkan oleh seorang Syaikh lulusan dari Al Azhar Mesir, Nursamad Kamba. Pejuang sosial. Penggerak kebudayaan. Penggiat seni. Guru. Mursyid. Kiai. Atau apapun saja gelar baik yang bisa disematkan kepadanya.

Tahun 80-an dia bisa saja jadi menteri. Tahun 1998 ia berpeluang jadi presiden, dan tahun ini ia bisa memimpin kudeta Indonesia. Tapi semua tak ia lakukan, ia menempuh jalan sunyi.

Beribu malam ia hadir dipelosok dusun di tanah air. Mbombongi hati rakyat Indonesia. Menenangkan amarah mereka. Menyederhanakan cara berfikir mereka. Melakukan pendampingan ruhani.

Ia muncul ngancani teman-teman Kedungombo pada 90-an, menenangkan amarah orang di Sampit atas konflik Dayak Madura. Ia mangawal damai di konflik petani tambak di Lampung, ikut mengasuh sedulur-sedulur Dolly agar bisa berdaya dalam hal ekonomi.

Atau ia yang menggagas adanya musikalisasi puisi di jagad tanah air, pionir kebebasan berjilbab dengan teater dan puisinya pada tahun 1980-an. Konseptor musik KiaiKanjeng, grup musik yang namanya besar di negara asing. Penulis puluhan buku yang terdiri dari ratusan esai. Menulis rutin sejak tahun lalu dengan tajuk Daur pada website yang dikelola oleh Progress.

Dan dengan tiba-tiba kami muncul, mengaku-ngaku menjadi anak dan cucumu, untuk diam-diam mengharap cipratan barokah atas kinerja cintamu selama 64 tahun. Pada tahun 2017, izinkan saya bersama penggiat Juguran Syafaat mengucapkan Sugeng Ambal Warso kagem Simbah Guru Maulana Muhammad Ainun Nadjib kaping 64. Dalam kado yang kami berikan berisi energi cinta, dibungkus dengan kertas rindu, diikat dengan pita hormat dan diberi ucapan takdzim, kami kirim dengan iringan Al Fatihah.

Al Fatihah.

Sabtu, 27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image