Universitas Maiyah Nusantara

Dalam proses kehidupan, manusia membutuhkan ilmu dan pengetahuan dari awal hingga aKhir untuk kembali meng-“inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Berbagai macam tahap metode manusia untuk manunggal dengan diri sejati melalui berbagai pintu hingga ruangnya, melalui sungai hingga sumber mata airnya.

Saya yakin setiap Jamaah Maiyah menemukan pintu Maiyah dengan cara dan momentum masing masing. Ilmu-ilmu Maiyah yang sangat universal mampu menampung siapapun dengan berbagai latar belakang yang berbeda beda.

Saya memandang Maiyah seperti ibu yang bekerja sangat multitalent, dari mengasuh anak yang berbagai sifat dan karakter berbeda, bagian kebersihan hingga menambal genteng yang bocor. Juga kadang kupandang Maiyah seperti pohon, yang lengkap dari akar, batang, ranting, dahan, daun hingga buah dan bijinya. Belum lagi jika kutadabburi pohon dari fungsi, efek, dan manfaat dari berbagai struktur ataupun keseluruhan. Sangat kompleks dan detil pembahasan ilmu di Maiyah ini. Hingga berani aku simpulkan bahwa hanya ada satu universitas di negeri Indonesia, yaitu Universitas Maiyah dengan segala Universalitas kelengkapan ilmunya. Di dalam mencetak sarjana universitas pohon misalnya, juga harus mempelajari fakultas akar, fakultas batang, fakultas ranting, daun, buah hingga lebih ke spesifik fakultas akar jurusan akar tunggak, fakultas akar jurusan akar serabut, mata kuliah rambut akar, mata kuliah inti akar, dan berbagai macam subtansial lainya.

Mohon maaf tulisan ini justru melebar ke mana-mana, saya ingin ber-“ilaihi roji’un” malah yang saya sampaikan justru fakultas batang pohon dan mata kuliah lapisan kulit pohon. Tetapi justru itulah Maiyah, mampu menyambungkan akar dengan kehidupan dan menyambungkan dengan Tuhan. Sebelum ber-“inna lillah” saya ingin ber-“ihdinas shirotol mustaqiim“,  tunjukkan kami jalan lurus. Kemudian di ayat berikutnya “shirotol-ladzina an’amta“, jalan orang orang yang Engkau beri nikmat.

Cara berpikir sederhana dua kutub magnet yang tidak sama selalu mencoba untuk terus saling tarik-menarik untuk melekatkan. Bahwa Allah setiap saat menebarkan hidayah “shirotol-mustaqiim” di hamparan bumi, begitu juga manusia harus me-“mustaqim“-kan diri untuk lebih mendekat agar daya tarik dengan magnet shirotol-mustaqim dari Allah semakin kuat untuk melekat.

Kemudian setelah menuju shirotol-mustaqiim, Allah menginformasikan di ayat selanjutnya yaitu “shirotol-ladziina an’amta“, jalan orang orang yang engkau beri nikmat. Jadi jalan shirotol mustaqiim adalah jalan orang orang yang diberi nikmat oleh Allah. Sebagai Jamaah Maiyah kita selalu di tumbuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu di kehidupan panjang ini adalah nikmat Allah. Sehat adalah nikmat Allah, sebagaimana sakit juga nikmat dari Allah. Berkecukupan atau kurang juga nikmat dari Allah. Kita dibekali kesadaran agar secerdas mungkin menemukan nikmat, hikmah, di balik segala pemberian Allah.

Seperti “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Sesungguhnya dari Allah dan sungguh kepadaNya lah kita akan dikembalikan, yang sudah seharusnya kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Misalnya kita mendapatkan uang maka kita ucapka pula inna lillahi wa inna ilahi roji’un, bahwa uang ini dari Allah sudah seharusnya semaksimal mungkin kita gunakan untuk hal-hal yang membuat kita kembali menuju Allah.