Ular-ular Sihir yang Dilawan Musa

Diterbitkan dalam buku "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai", 1994

Konsumerisme ialah keadaan ketika mekanisme konsumsi sudah menjadi bagian yang substansial dari kehidupan manusia. “Bagian substansial” maksudnya bagian kehidupan yang seolah dianggap “wajib” atau tak lagi bisa ditinggalkan. Jadi, konsumsi sudah menjadi “isme”, sudah menjadi—atau berlaku—sebagai semacam “agama”.

Keberlangsungan konsumerisme ditentukan tatkala nilai dan potensi kreativitas manusia atau masyarakat dikapitalisasi, dijadikan alat pemenuhan kebutuhan yang dijualbelikan.

Konsumerisme sesungguhnya sekaligus merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Oleh karena itu, konsumerisme sebenarnya bisa memiliki sisi yang bermacam-macam: ada konsumerisme dalam bidang pendidikan (sebutlah umpamanya: “konsumerisme etos-etos akademik”), ada konsumerisme dalam alam kehidupan beragama (umpamanya: umat menuntut mubalig tertentu yang bisa memenuhi selera budaya mereka berdasarkan situasi sejarah), serta ada berbagai sisi konsumerisme yang lain.

Kita bisa memahamai masalah konsumerisme dari bermacam cara pendekatan. Namun—tidak aneh sama sekali—bahwa Al-Qur`an sejak semula telah menyediakan semacam cara pandang atau metode untuk memahaminya.

Misalnya, dalam konflik terbuka antara Musa melawan Fir’aun, yang didampingi oleh para ahli sihir bayarannya, diakhiri dengan “duel kekuatan” antara mereka. Lihatlah Surah Thoha ayat 65 hingga 69 saja.

Para penyihir sewaan Fir’aun berkata, “Wahai Musa! Engkaukah yang terlebih dahulu melemparkan, ataukah kami?”

Musa menjawab, “Silakan kamu sekalian melemparkan!” Maka, tiba-tiba tali dan tongkat para penyihir itu—terbayang pada mripat Musa—menjadi ular-ular kecil yang amat banyak, merayap-rayap ke segala penjuru sehingga Musa merasa takut di dalam hatinya.

Kami (Allah) berkata, “Janganlah kamu takut, karena sesungguhnya kamulah yang lebih unggul”. Lebih benar, lebih mulia.

Dan, lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa saja yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya sihir belaka. Dan, itu tidak akan menang, dari mana saja pun mereka datang.” 

Allah Maha Mengerti segala isi waktu. Konteks cerita mengenai Nabi Musa As. itu tak terbatas pada situasi-situasi kejahiliahan zaman Fir’aun. Ia tidak mustahil berlaku bagi keadaan-keadaan lain pada kurun waktu kapan pun, sebelum atau sesudah Fir’aun. Ia juga bisa berlaku pada kita hari ini: karena bukankah—bahkan—sering kali kita menjumpai diri sedang harus belajar “menyebut nama-nama benda” seperti Adam as., yakni ketika kita harus membenahi kembali pengertian-pengertian kita tentang nilai, alam, benda, dan segala apa pun dalam kehidupan kita?

Maka, persoalannya: gerangan apakah sihir itu dalam hidup kita kini? Apa gerangan “ular-ular” kecil yang dilemparkan oleh para penyihir bayaran Fir’aun itu, yang melebar menebar dan menyerap ke segala penjuru? Apa gerangan “ular-ular” yang sedemikian tak terelakkan memasuki telinga kita, memasuki mulut kita, menerima mata kita, menerobos pintu-pintu rumah kita, memenuhi lingkungan kita?

Dan, “siapakah” gerangan “Fir’aun”? Apakah ia seorang raja yang hidup pada abad 20 ini? Apakah ia suatu konspirasi ekonomi dan bahkan konspirasi politik yang memakai perdagangan kebudayaan untuk menyihir golongan-golongan manusia di muka bumi yang memang hendak mereka jebak dan mereka telan dalam kekuasaannya? Jadi, pertanyaannya juga, apa itu Fir’aun? Modal besar? Kekuatan atau klik ekonomi? Jaringan iklan-iklannya?

Dan, yang kemudian amat penting ialah siapa gerangan yang sekarang “wajib” berperan sebagai Musa. Serta pertanyaan tentang apa yang tergenggam di tangan kanannya. 

Bagaimana menjelaskan—secara empiris, pada kasus-kasus modern dewasa ini—bahwa “apa yang mereka perbuat itu tak lain hanyalah tipu daya sihir belaka”. Kenapa Allah meyakinkan kepada kita, atau kepada Musa-Musa, bahwa yang tergenggam di tangan kanan kita ini adalah sesuatu yang “lebih unggul”, lebih tinggi, lebih mulia, lebih luhur.

Dengan perspektif kefilsafatan macam apa kita menguraikannya, atau dengan tata akidah keagamaan yang mana hal itu bisa kita pahami.

Kemudian, akhirnya yang paling menjadi “teka-teki” adalah konfirmasi dari Allah bahwa “Musa pasti menang”, bahwa “sihir-sihir mereka itu tidak akan menang, dari mana pun datangnya. “Dari mana pun” itu bisa juga berarti pusat-pusat penjualan “film biru”, produser-produser kaset yang melemahkan mental masyarakat, kantor-kantor berita yang memanipulasi kenyataan, dan sebagainya?

Haqqul yaqin, daya qiro’ah (membaca realitas) Anda, daya ro’iyah (kepemimpinan) Anda membimbing Anda semua untuk mengetahui secara jelas, luas, dan mendalam jawaban-jawaban dari pernyataan-pernyataan di atas. Adapun yang sempat tertulis di sini hanyalah salah satu kemungkinan syuuraa bainahum di tengah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri oleh sekalian kaum Muslim. Insya Allah demikian.

Apa gerangan kah sihir itu?

Misalnya, kita mulai memahaminya dengan kembali melihat-lihat dan meneliti barang-barang yang kita miliki, yang kita pakai, atau yang tersimpan di dalam rumah kita. Dalam penelitian itu kita ukur, umpamanya, mana benda yang memang wajib kita beli dan miliki. Mana yang sunah. Mana yang “sekadar” halal. Mana yang makruh, bahkan akhirnya mana yang haram.

Landasan kriterianya bisa macam-macam. Ambil saja misalnya, “Kuluu wasyrobuu, wa laa tusrifuu.” Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sebiji kelebihan akan memiliki sifat mubazir, dan “Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaanasysyayaathiin...” Kemubaziran itu sahabat setan, dan kata Allah, setan itu kufur terhadap Tuhan-nya.

Kualifikasi penilaian itu bisa diperkuat dengan pemahaman terhadap konteks yang lebih makro dan memperhitungkan sistem hubungan sosial yang luas. Umpamanya, kalau kita tahu bahwa mayoritas saudara-saudara kita masih berada di garis kemiskinan, seberapa layak atau seberapa halal kita membeli sesuatu yang kira-kira bersifat ironis dan tidak etis dihubungkan dengan kemiskinan saudara-saudara kita itu?

Konsumerisme ialah keadaan ketika mekanisme konsumsi sudah menjadi bagian yang substansial dari kehidupan manusia. “Bagian substansial” maksudnya bagian…