Daur-II • 148

Ulama Alam Semesta

Cak Sot kemudian menggeser dialog tentang penekanan ‘Ulama’ atau ‘yakhsyallah’ itu ke lingkungan tematik ayatnya.

“Dahsyat Allah itu”, katanya, “Coba perhatikan: firman tentang takut kepada Allah dan Ulama itu oleh Allah diletakkan di dalam lingkungan tema dan pemandangan yang seakan-akan sama sekali tidak ada hubungannya dengan konteks Ulama. Saya bilang: seakan-akan. Mana mungkin firman Allah seakan-akan…”

Sapron yang ketika langsung berdiri loncat dan mengambil Al-Qur`an. Segera ia cari surat Fathir itu, kemudian membacanya:

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warna dan jenisnya…[1] (Fathir: 27-28).

“Joooss to”, kata Cak Sot, “Allah menorehkan langit dan hujan, berjenis-jenis bebuahan, meletakkan gunung-gunung yang teguh, lantas menggoreskan garis-garis putih dan merah, juga warna-warna lainnya termasuk hitam pekat. Kemudian Allah membawa kita melebarkan pandangan ke binatang-binatang melata, hewan-hewan ternak. Tiba-tiba muncul sesudah koma, satu anak kalimat yang isinya parameter tentang manusia dengan kualitas keilmuan, keluasan pengetahuan dan komitmen terhadap alam, dengan memberi rumus tentang siapa yang layak disebut Ulama…”

“Apakah itu bisa berarti begini”, Tarmihim bertanya, “bahwa yang disebut Ulama adalah para pembelajar, apresiator, pecinta dan penghayat alam, langit, hujan, gunung, hewan, tetumbuhan. Jadi Ulama awalnya belum keahlian di urusan Fiqih dulu, melainkan penghayatannya terhadap alam semesta ciptaan-Nya?”

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra