Gambaran sifat hakim adalah seperti ujung jarum yang paling mampu menembus kain. Hakim adalah kemampuan melihat secara lembut terhadap posisi yang paling adil.
Gambaran sifat hakim adalah seperti ujung jarum yang paling mampu menembus kain. Hakim adalah kemampuan melihat secara lembut terhadap posisi yang paling adil.

Mbejundel. Begitu mungkin kata yang dapat menggambarkan situasi Padhangmbulan makin malam. Semua terlihat sumringah. Penuh jamaah sampai di jalan-jalan. Ada yang melihat melalui beberapa LCD yang dipasang di jalan. Di dekat masjid juga ada.

Situasi sudah terasa sejak Mbah Nun sudah mulai berbicara usai Cak Fuad. Banyak sekali kalimat Mbah Nun yang cerdas, menohok halus ke berbagai kejadian, dan membuat jamaah terkaget dengan kalimat-kalimat itu.

Tetapi semua tetap dimulai dengan pandangan-pandangan dasar Mbah Nun terutama merespons muatan yang disampaikan Cak Fuad. Dikaitkanlah ihwal ishlah ini dengan kebenaran. Dalam situasi konflik, kadang tidak mudah menentukan mana yang benar. Kelihatannya sesuatu itu benar, tetapi ternyata salah. Atau sebaliknya. Begitu ungkap Mbah Nun. Maka menurut Beliau dibutuhkan terus-menerus untuk mencapai derajat “hakim” dalam melihat segala sesuatu.

Allah al-Hakim adalah Allah yang maha presisi. Gambaran sifat hakim adalah seperti ujung jarum yang paling mampu menembus kain. Hakim adalah kemampuan melihat secara lembut terhadap posisi paling adil. Dan presisi ini tak bisa diformalkan. Ia harus dicari terus-menerus secara dinamis.

Presisi ini juga berpasangan dengan keseimbangan. Apa yang terjadi saat ini sering menunjukkan bahwa kita kerap tidak mampu melihat dan bersikap secara seimbang. Kita suka miring. Sementara yang dibutuhkan adalah seimbang dalam kebenaran di mata Allah. Mbah Nun menyadari dan memberi contoh tidak mudahnya menetapkan kebenaran, apalagi kebenaran yang konstelatif.

“Jika hatimu sedang sulit bersikap, di situlah Engkau butuh Allah. Kalau secara intelektual, kebenaran itu tak terkejar, di situlah Engkau membutuhkan Allah agar Engkau tetap berada di Shirothol Mustaqim,” jelas Mbah Nun lebih lanjut memberikan satu saran akan sebuah jalan pada situasi serba sulit memastikan kebenaran.

Mengapa sulit mencapai kebenaran? Karena kita tidak mau atau tidak tahu hakikat. Misalnya, kebenaran, kebaikan, dan keburukan itu dinamis. Bahwa di dalam 3 ada 4, 2, 1, dan seterusnya. Tapi sayangnya, dewasa ini orang tidak mau melihatnya. Kita hanya melihat bahwa 3 adalah 3 dan berhenti di situ, dan tidak ada unsur lain di dalamnya. Karenanya, menurut Mbah Nun, dalam melihat segala sesuatu, kita harus menggunakan ilmu sangkan paran.

Dalam bahasa lain, Mbah Nun melukiskan bahwa salah satu penyakit bangsa kita secara intelektual adalah tidak bisa membedakan, melihat, atau mengenali antara yang ruhiyah dan jasmaniah, atau antara yang kualitatif dan kuantitatif.

Kembali ke soal mendamaikan atau ishlah, kepada jamaah Mbah Nun bercerita sekilas mengenai sejumlah peran mendamaikan yang pernah dilakukannya atas permintaan masyarakat dalam konflik-konflik yang pernah terjadi.

Malam ini, kegembiraan dan kelengkapan Padhangmbulan kian tercipta melalui kehadiran Letto yang datang usai pentas di Pondok Pesantren Tebuireng. Tiba di tengah Mbah Nun bicara, langsung mereka set alat, dan segera Sabrang diminta menghadirkan lagu.

“Alangkah indahnya, kalau kita tetap punya semangat mengejar cita-cita seperti anak kecil yang mengejar layang-layang,” kata Sabrang puitis mengantarkan lagu lagu Layang-Layang.

Ujung Jarum Presisi Al-Hakim