Tugas Koki Bukan Beratraksi

Catatan Maiyahan Juguran Syafaat 13 Mei 2017

Menjadi makmum di kelompok Islam yang berbeda-beda pula pengalamannya. Mas Agus Sukoco menuturkan kepada jamaah Juguran Syafaat malam hari itu pengalamannya makmum sholat di dua kelompok Islam yang berbeda.

Juguran Syafaat Mei 2017

Ketika di kelompok A, seseorang tampak begitu sigap mengambil posisi menjadi imam, walaupun tidak ada yang menyuruh. Ketika sudah mengambil posisi paling depan, kemudian orang-orang di belakangnya diminta rapat dan lurus dalam berbaris. Sementara itu ketika shalat berjamaah di kelompok B, Mas Agus melihat orang yang notabenenya sudah sepuh-sepuh malahan melakukan aksi baku dorong, satu sama lain berlomba-lomba mempersilakan orang lain menjadi imam.

Kejadian tersebut digunakan oleh Mas Agus Sukoco untuk menyampaikan perihal “keadilan dalam berpikir” yang secara alamiah kemudian menjadi benang merah pembahasan dalam Juguran Syafaat pada malam hari itu.

Keadilan dalam berpikir akan membuahkan sikap yang tepat. Sebab dalam situasi yang berbeda, sikap yang dilahirkan harus berbeda pula, baik ketika berada di kelompok A atau di kelompok B. Dan akan berbeda pula ketika berada di kelompok B pada saat di sana ada seseorang yang berasal dari kelompok A.

Bayangkan ketika orang-orang sepuh berlomba menolak menjadi imam, lha kok ada ustadz muda yang tiba-tiba ngeloyor maju menempatkan diri menjadi imam tanpa disuruh. Mungkin benar secara syariat, tetapi menjadi tidak indah bukan pemandangannya?

***

Malam hari itu Juguran Syafaat mencuplik tema dari Daur tersebut “Berpikir, Berunding, dan Mencari”. Saya kebagian tugas menjlentrehkan mukadimah diskusi. Ketika Mas Agus Sukoco dan Pak Titut sudah hadir di tengah-tengah jamaah, Kusworo selaku moderator membuka dengan beberapa topik untuk menyapa jamaah, di antaranya mengenai keutamaan bulan Sya’ban.

Sudah dua jam Maiyahan berlangsung sebelum Kusworo mengambil alih proses memoderatori, tepatnya pukul 21.00 ritual membaca Al-Qur`an secara tartil dan terpimpin oleh Aji. Dimulai surat Al-Baqarah 183 sebanyak satu ‘ain ditilawahkan, kemudian Ujang dan kelompok musik KAJ memandu jamaah melantunkan beberapa bait sholawat.

Lingkaran jamaah yang diatur rapat sedari awal tidak berubah hingga dimulainya diskusi sesi pertama bahkan hingga akhir acara. Rentang jarak antara jamaah satu dan lainnya yang dibuat rapat menciptakan persambungan hati satu sama lain. Di samping itu, moderator selaku pengelola bergulirnya diskusi juga lebih mudah memandu forum.

Pada sesi pertama, Kukuh dan Karyanto memandu gendhu-gendhu rasa. Karyanto melontarkan sebuah realitas yang ada di lingkungkannya yakni bahwa orang-orang sekarang saking menyakralkan masjid, sehingga mereka lebih nyaman berdialog problematika sosial justru di pos ronda, ketimbang di masjid. Fenomena ini dilontarkan untuk menjadi bahan dialog di tengah-tengah jamaah. Sambil berbagi pandangan, jamaah yang tiba giliran mendapatkan mic juga diberi kesempatan memperkenalkan diri kepada yang lain.

***

Mendiskusikan apa yang merupakan realitas yang dekat di sekitar kita tampaknya memang menjadi keasyikan tersendiri bagi para jamaah. Untuk mengantar mukadimah, saya mencoba memantik dari realitas sosial yang ada saat ini, yakni sedang ramainya timeline media sosial oleh aksi-aksi melawan ketidakadilan terhadap anak bangsa.

Ketika ada sebuah bentuk ketidakadilan, sering kali kita gagal menatap puluhan, ratusan bahkan ribuan bentuk ketidakadilan lainnya. Itulah pentingnya menjadikan proses berpikir, berunding, dan mencari untuk pendahuluan, sebelum aksi-aksi demonstratif digelar. Agar tidak menjadikan kita justru melahirkan ketidakadilan baru.

Yang seharusnya hasil dari proses berpikir, berunding, dan mencari kemudian dijadikan rujukan untuk menakar tepat atau proporsional tidaknya sebuah aksi, tetapi justru proses tersebut yang dijadikan pertunjukan. Saya menganalogikan dengan maraknya budaya open-kitchen, di mana dapur-dapur restoran sengaja ditampilkan kepada pengunjung. Sialnya adalah ketika koki di dapur bukannya fokus menyajikan makanan yang lezat, malah sibuk beratraksi sendiri.

Kalaulah disebut forum seperti pada malam hari itu jarang adanya, sekurang-kurangnya ada dua alasan. Pertama, tidak ada kualifikasi atau prasyarat untuk bergabung di dalam Maiyahan. Kedua, diskusi dilakukan dengan sungguh hati, bukan untuk keperluan formalitas belaka.

Bentuk kesungguh-sungguhan tersebut di antaranya adalah ketika kita mendiskusikan perilaku imam di dua kelompok Islam seperti dituturkan Mas Agus Sukoco, bukan kita sedang dalam rangka mengata-ngatai mereka. Akan tetapi, bagaimana mengilmui fenomena tersebut. Bahwa ada sikap terlalu tawadhu’ sehingga pediren dalam menunjuk imam, sebaliknya ada sikap over percaya diri sehingga memajukan diri menjadi imam. Namun, bagaimana kemudian Jannatul Maiyah menemukan titik tengah yang adil dari kedua sikap tersebut.

Mas Agus Sukoco juga menuturkan pengalamannya ketika diundang di sebuah forum pemecahan masalah sosial. Di forum tersebut alih-alih masalah terselesaikan, justru masalah tampak semakin kompleks. Dikatakan sedang mengatasi ketidakadilan, tetapi ada absurditas mengenai ukuran keadilan itu seperti apa. “Setelah saya amat-amati, penyebab forum semakin rumit ada dua, yakni pertama: mereka enggan menelusuri hingga akar masalah. Kedua, mereka hanya berkutat pada aspek teknis saja, mengabaikan aspek non-teknis,” ungkap Mas Agus Sukoco.

Juguran Syafaat Mei 2017

Inilah gejala persoalan kesepenggalan berpikir yang melanda kita hari ini. Mas Agus Sukoco memberi analogi, “Ibaratnya Anda itu kecemplung septiktank, sekujur tubuh berlumuran tai, tetapi begitu ada lalat menclok kemudian dikibas-kibas karena lalat itu dianggap benda yang kotor. Lupa bahwa kita kotor sebadan. Maka yang kita perlukan hari ini adalah mandi total. Bentuk mandi total diawali dari perombakan cara berpikir. Maiyah menurut saya adalah bengkel untuk memperbaiki cara berpikir kita”.

***

Di antara cara berpikir yang harus direparasi adalah pandangan terhadap pembangunan. Kalau pembangunan dikaitkan dengan misi kekhalifahan yang dimandatkan Allah kepada Nabi Adam, maka pembangunan adalah bagaimana mengelola bumi yang primitif menjadi maju sebagaimana kampung halaman Nabi Adam, yakni Surga.

Surga digambarkan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan lebih identik dengan suasana kebersamaan, bukan suasana individualistik. Jadi kalau paradigma pembangunan adalah mengubah desa menjadi kota, sementara kota identik dengan sikap-sikap individualistik, tampaknya ada yang harus diperbaiki dari cara berpikir kita tersebut.

Mas Agus Sukoco kemudian mengelaborasi audiensi dengan menyampaikan gejala dikotomisasi Jawa dan Arab yang sepenuhnya harus dibongkar. KAJ diminta membawakan nada “Tarhim” untuk menunjukkan jenis nada Arab, kemudian diputarkan sebuah langgam Jawa. Betapa keduanya dapat kita nikmati semua. “Kalau nada Arab bisa menyeret orang yang kecenderungan pikirannya terhadap materi menjadi meruhani. Sementara nada Jawa menggambarkan suasana batin yang tenang, bak layah-leyeh di surga. Jadi apa yang salah dengan Jawa dan Arab. Tidak ada yang salah dari keduanya. Yang salah adalah manusianya. Karena cara berpikirnya belum adil,” urai Mas Agus Sukoco.

Sebagai wujud ekspresi budaya dari ditinggalkannya dikotomisasi Arab dan Jawa, Mas Agus Sukoco bersama jajaran pemerintahan, LSM dan Dewan Adat di Purbalingga sedang secara intens menggali khasanah leluhur Purbalingga, di mana Purbalingga dicikalbakali oleh pertemuan Arab dan Jawa dalam bentuk nilai-nilai yang terpendar dalam akhlak para pelaku sejarahnya. Babad Purbalingga dimulai dari Desa Onje di mana kepemimpinan kultural pertama kali lahir sejak era Kesultanan Pajang masih eksis pada saat itu, di mana nilai-nilai Jawa belum hilang dan nilai-nilai Islam sudah datang.

Penggalian mengenai asal-usul sejarah Purbalingga tersebut Mas Agus Sukoco menuturkan hal itu sebagai bentuk konkret dari upaya kita berterima kasih kepada leluhur. Ketika kita alpa berterima kasih kepada leluhur, ketika itulah problematika nonteknis berpotensi muncul, orang menyebutnya sebagai peristiwa kualat.

***

Meskipun membahas tema-tema substansial, tetapi diskusi berlangsung ringan. Pak Titut membawakan dua lagu yakni “Semut” dan “Lele Dumbo nyokot Tempe”. Lagu semut terilhami oleh rasa prihatin Pak Titut melihat rakyat yang mulai enggan bersalam-salaman. Padahal semut, setiap berpapasan selalu bersalam-salaman. “Apa jadinya kalau semut sudah tidak mau bersalam-salaman”, tukas Pak Titut.

KAJ menghidupkan diskusi malam hari itu dengan beberapa nomor lagu akustik, diantaranya adalah lagu dari Doel Sumbang “Makna & Cinta “ dan lagu dari Ahmad Albar “Alam dan Penguasa”.

Tema yang diangkat pada Juguran Syafaat kali ini merupakan tadabbur dari Daur 256 yang berjudul “Pemimpin Penggerundal”. Pada daur tersebut begitu kental pesan mengenai keadilan dalam berpikir.

Bahwa anak-anak muda itu tidak boleh hanya nggerundel terhadap keadaan. Melainkan harus melakukan upaya-upaya teknis manajerial. Namun di dalam Daur tersebut diingatkan pula, bahwa semaksimal-maksimalnya upaya teknis, itu kadarnya hanya senilai nggejig-nggejig melubangi tanah loh, yang menaruh dan menumbuhkan bibit tanamannya nanti Allah.

“Maka, lakukan apa saja yang Anda tahu, nanti mudah-mudahan Allah akan memberitahu apa yang Anda belum tahu”, tukas Mas Agus Sukoco.

***

Lewat tengah malam, jamaah yang hadir tampak masih antusias menikmati suasana. Pada Maiyahan malam hari itu ada banyak hal yang terelaborasi, Anto dari Banyumas dan Rahman dari Padamara menyampaikan topik yang bersinggungan yakni kegelisahan terhadap gadget. Dari grup-grup chatting timbul keretakan persaudaraan. Sebab gadget, orang enggan njugur bertemu muka, merasa cukup komunikasi lintas maya.

Juguran Syafaat Mei 2017

Mas Agus Sukoco dan Pak Titut merespons dengan beberapa hal, di antaranya fenomena orang yang gemar menggunakan topeng, kecanduan selfie dan ajakan untuk kembali menghidupkan spirit masa kanak-kanak. Di masa kanak-kanak permainan tradisional berlangsung lugas dan menggembirakan.

Saya pun nyempil memberikan respons atas pertanyaan dan ungkapan-ungkapan yang disampaikan jamaah. Mengenai gadget, saya menawarkan sudut pandang lain, kalau gadget merusak jangan-jangan bukan salah gadget-nya. Yang salah adalah karena sebetulnya kita adalah generasi yang tidak kompatibel dengan gadget. Generasi kita kompatibelnya dengan alat komunikasi berupa kenthongan. Saya membayangkan sepuluh tahun kelak, generasi saat itu begitu smart dalam memanfaatkan smartphone.

Berikutnya saya merespons Uci dari Cilongok atas pengalamannya menjadi tim sukses pemilihan kepala daerah. Bahwa terhadap sistem pemilihan umum, kita tidak berkuasa. Tetapi bukankah pemerintah tidak bisa melarang kita untuk memiliki pemimpin di hati kita sendiri?

Sejarah kita mempunyai pengalaman memiliki dua pemimpin bersamaan, yakni pada era 1950-a di mana Bupati masih bertahta di tengah-tengah masyarakat melalui proses kultural yakni secara turun-temurun, sementara itu Kepala Daerah sudah diturunkan dari pusat untuk mengelola administrasi kewilayahan. Pemimpin kultural itulah yang hari ini kita temukan dan kita mantapkan di hati kita sendiri.

Lewat pukul 02.00 dini hari, sebagai pamungkas acara pada malam hari itu Mas Agus Sukoco menyampaikan, “Urung dianggap syukur maring pangeran, nek urung syukur maring manungsa.” Ungkapan syukur hendaknya kita haturkan kepada para leluhur kita. Kalau tidak, kita akan kehilangan ketakdhiman sejarah, itulah yang kemudian melahirkan penyakit atau persoalan nonteknis. Sudah kaya raya sekalipun, tetapi tidak bahagia, sebab kualat. Baik itu kualat individu, maupun kualat kolektif sebagai masyarakat. (Rizky Dwi Rahmawan)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image