Wedang Uwuh (11)

Trash Drink dan Iblis Penyet

Kedaulatan Rakyat, 27 Desember 2016

“Bahkan dari Wedang Uwuh kita bisa melacak perjalanan sejarah kehidupan manusia sampai ke penciptaan syariat alam semesta oleh Tuhan sejak awal penciptaan dulu”, Beruk menyambung.

Sebenarnya yang tampak paling mletik adalah Pèncèng. Beruk agak lebih pendiam. Tapi ternyata sebenarnya sifat agak pendiam itu menandakan dia orang yang lebih mendalam. Lebih kontemplatif. Lebih cenderung merenung sehingga kurang ekspresif seperti Pèncèng. Kalau Gendon karakternya di antara keduanya, cuma dia cenderung lebih bisa mempimpin dibanding dua lainnya.

“Misalnya bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sampah. Semua yang terbuang dan terpendam oleh Tuhan dijadikan bahan untuk minyak, batu mulia, akik, serta banyak bahan-bahan tambang lainnya. Semua dibikin Tuhan dalam pola Dauriyah. Daur ulang. Tidak ada yang mubadzir.”

Anak-anak saya ini tidak punya latar belakang pendidikan santri, tapi ternyata pencari ilmu. Bukan pembelajar resmi dan tidak punya surat atau sertifikat pencapaian tingkat Sekolah, tetapi mereka pembelajar plat kuning. Tidak punya ijazah plat merah. Tidak tampak pinter ngaji atau fasih membaca Kitab Suci, tapi ternyata “penggali intan” juga.

Tuhan menantang manusia dengan retorika yang sangat halus: “Katakanlah, wahai Tuhan kami, sungguh tak sia-sia Engkau menciptakan semua ini”.

Itu firman Tuhan, tapi bukan untuk diucapkan oleh Tuhan, melainkan untuk dinyatakan oleh manusia, Tuhan cuma memerintah “katakanlah”. Kalau manusia menyatakan “sungguh tak sia-sia Engkau menciptakan semua ini”, kan harus ada asal-usulnya. Atas dasar apa pernyataan itu diucapkan? Apakah manusia mengetahui, mengalami, dan menghayati sesuatu, sehingga menemukan kesadaran bahwa ini semua tidak sia-sia.

Jadi firman itu sebenarnya merupakan perintah halus agar manusia meneliti kehidupan, mengamati dirinya, alam semesta, dan seluruh pengalaman hidup manusia. Di tengah proses penelitian itu, manusia terhenyak: “Edan, memang apa saja dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia…”

Sama dengan manusia mengucapkan “Allahu Akbar”: ada apa kok meneriakkan kata-kata itu. Mengalami apa kok manusia mengucapkan “Alhamdulillah”, “Subhanallah”, “Astaghfirullah”, dan kalimat-kalimat indah lainnya.

Dengan demikian uwuh-pun tidak sia-sia. Tidak batil. Fungsi dan manfaatnya tidak batil. Beruk melanjutkan uraiannya:

“Maka Wedang Uwuh di warung-warung itu sekurang-kurangnya memuat dua nilai. Pertama, kesadaran tentang siklus atau daur ciptaan Tuhan. Kedua…. Ini yang utama…”

“Apa itu? “, saya mengejar.

“Manusia Yogya atau Jawa melakukan revolusi kreativitas kuliner yang luar biasa. Bayangkan konsumen disuruh minum uwuh. Padahal uwuh adalah sampah. Dan semua merasa nikmat. Padahal agar orang mau minum sesuatu, urusannya tidak hanya menyangkut bahan atau zat cairan yang diminumnya. Tapi juga estetikanya, ‘roso’nya. Meskipun ada minuman sehat, tapi kalau di mata tampak menjijikkan, belum tentu orang mau minum. Atau kalau namanya mengganggu konsep pikirannya, orang belum tentu mengkonsumsinya. Memang yang disuguhkan bukan benar-benar sampah, tetapi cobalah simulasi: kalau kita bikin warung di Amerika atau Eropa, mungkinkah kita berjualan Trash Drink….Padahal rakyat Indonesia punya rondo kemul, kontol kambing, bol cino, pempek rudal, oseng-oseng mercon, rawon setan – meskipun belum ada iblis penyet….”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image