Sinau Bareng Membangun Manusia Indonesia di Eropa

Touch Down Frankfurt dan Baterai Telepon Menggelembung

Bagian 1 dari 8

22 Desember 2016. Iman, salah satu mahasiswa asal Depok yang menjadi salah satu aktivis Masjid Indonesia Frankfurt mendadak bingung. Ia lupa jalan menuju terminal kedatangan 2D. Begitupun saya sebagai mahasiswa dari kota seberang di Hannover, lebih tak paham lagi. Sambil terus mengamati jam tangan saya dan Iman berputar mencoba mengingat jalan menuju terminal kedatangan. Untung kami datang ke bandara lebih awal, bahkan saat matahari belum tampak dan waktu subuh belum masuk, sehingga masih punya banyak waktu untuk mencari.

Cak Nun dan Mbak Via tiba di Frankfurt
Cak Nun dan Mbak Via tiba di Frankfurt

Alhamdulillah setelah kurang lebih 20 menit berputar dan mencari, kami sampai di terminal kedatangan 2D. Di mana menurut jadwal pesawat yang ditumpangi Cak Nun, Mbak Via, dan Mas Gandhie akan landing. Selang 10 menit menunggu, akhirnya dari kejauhan saya melihat Cak Nun dan Mbak Via keluar dari pintu imigrasi. Sungguh saya bersyukur lega, pertama karena semua tiba dengan selamat, yang kedua karena saya dan Iman tepat waktu dalam menjemput beliau. Handphone saya bergetar, Mbak Hana, adik sepupu Mbak Via menelpon untuk memastikan kedatangan Cak Nun dan memberitahu saya untuk bertemu di pintu utama terminal 2. Terlihat mas Tito, ketua Masjid Indonesia Frankfurt juga telah tiba di pintu kedatangan.

Menuju tempat sesuai instruksi Mbak Hana, Cak Nun membuka diskusi dengan membahas tentang keadaan Indonesia dan juga menyinggung sedikit tentang sejarah Indonesia. Tentang jumawanya keilmuan Barat pasca Renaissance dan semakin dilupakannya kearifan ilmu Timur. Diskusi berlanjut di kereta hingga sampai lobi hotel Exelsior, hotel tempat Cak Nun menginap persis di samping stasiun utama Frankfurt. Setelah check in, kami mempersilakan Cak Nun dan Mbak Via untuk beristirahat dahulu. Sedang saya dan Iman kembali ke masjid untuk mempersiapkan acara sinau bareng malam harinya.

Pukul 13.15 kami kembali menyambangi hotel Excelsior dan menjemput untuk mengajak Cak Nun dan Mbak Via makan siang. Di lobi, Cak Nun dan rombongan telah berkumpul. Ditambah ada Nafis, penggiat Maiyah Maneges Qudroh Magelang yang sedang studi di Jerman, dan Mbak Rani, putri almarhum pakdhe Nuri KiaiKanjeng yang meneliti tentang pengungsi Suriah di Freiburg. Akhirnya kami semua berdelapan meninggalkan lobi hotel untuk menuju restoran Thailand tidak jauh dari stasiun Frankfurt.

Sesampainya di restoran, kami memesan makan dan minum masing-masing. Sembari menunggu masakan datang, Cak Nun bercerita tentang baterai handphone-nya yang menggelembung. Entah karena pressure di pesawat atau apa. Tak disangka tepat di sebelah hotel tempat beliau menginap, ada sebuah toko penjual aksesoris dan servis handphone. Tak resmi tapi lengkap. Dan setahu saya memang auslander atau pendatang lah yang mempunyai kemampuan untuk membuka toko semacam itu.

Bagi penduduk Jerman yang sistemnya sudah berjalan dan by default, jika terjadi kerusakan akan segera mencari outlet resmi dari merek handphone tersebut atau minimalnya ke toko besar di mana barang tersebut dibeli. Bagi auslander, mereka harus memutar cara agar bisa hidup dengan keahlian yang mereka miliki. Maka toko aksesoris dan servis handphone di Jerman, selama saya temui, adalah milik para pendatang.

Sektor-sektor non formal seperti ini marak dan menjamur di Indonesia. Dalam kacamata ekonomi, geliat sektor non-formal seperti itu sangat membantu pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam kacamata budaya, Cak Nun menyebutkan bahwa sektor non-formal adalah bukti kemampuan masyarakat Indonesia yang multi-talenta dan juga berjiwa gerilya tinggi. Banyak sekali larangan berjualan yang diberlakukan oleh Pemerintah Kota dan koheren dengan banyaknya razia-razia ruko dan toko liar. Namun tak perlu hitungan tahun, lepas seminggu dari razia, lapak-lapak pencari rizki itu sudah berdiri lagi. Daya gerilya mereka luar biasa. Permasalahannya bukan letak tata kota yang dipandang mata tak elok dengan adanya lapak dagang mereka. Permasalahannya adalah pemerintah belum bisa menyediakan sektor-sektor usaha formal yang layak bagi masyarakatnya. Tapi apalah dikata, kadang keindahan tata kota lebih diutamakan daripada keindahan akhlak untuk menyantuni dan mengayomi mereka yang bekerja di sektor non-formal. Masih sangat beruntung pemerintah bahwa masyarakat tidak kisruh dengan melakukan tindak kriminal dan sebagainya. Ke depan, kita berharap keindahan tata kota adalah keindahan yang berkeadilan. Yang jelas menjaminkan kesejahteraan hidup bagi rakyatnya.

22 Desember 2016. Iman, salah satu mahasiswa asal Depok yang menjadi salah satu aktivis Masjid Indonesia Frankfurt mendadak bingung. Ia lupa jalan menuju…