Tidak Tega Menyaksikan Pemandangan Neraka

Seorang kawan bertanya: apakah hadits yang menjelaskan sepuluh pembagian bulan Ramadlan adalah dlaif? Saya tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya. Cukup banyak pihak telah menguraikan haditsvitu dengan berbagai tinjuan sanad, perawi, dan matan. Walaupun banyak pendapat menyatakan bahwa hadits tersebut dlaif, saya mentadabburinya tidak terutama sebagai kebenaran objektif, melainkan sebagai upaya sublimasi dan penghayatan subjektif menikmati keheningan Ramadlan yang tinggal beberapa hari.

Tentu saja output dari sublimasi itu adalah hati yang jembar di tengah samudera keluasan dan kedalaman Ilmu Allah. Buah dari sublimasi itu juga menambah cinta dan kasih sayang kepada sesama.

Pembagian sepuluh hari dalam bulan Ramadlan bukan klasifikasi yang dipisahkan oleh dinding pembatas. Ia serupa gelembung-gelembung yang berada dalam gelembung besar Ramadlan. Tiga-sepuluh itu adalah satu bagian juga. Masing-masing sepuluh berada dalam satu-sepuluh yang lain.

Sepuluh hari pertama dikatakan sebagai turunnya rahmah. Kita mengartikannya sebagai cinta. Ia berkorelasi sangat kuat dan dekat dengan Al-Rahman dan Al-Rahim. Kalau memakai ilmu Maiyah, Rahman adalah cinta yang meluas, Rahim adalah cinta yang mendalam. Lubuk dari Rahman dan Rahim adalah cinta itu sendiri.

Maka, ada cinta, mencinta, dan mencinta-i. Yang terakhir adalah pengejawantahan cinta—upaya menyatakan cinta melalui berbagai bentuk ungkap, baik ucapan, tindakan atau bisa tanpa media komunikasi apapun. Dalam rangkaian Asmaul Husna, sifat Rahman Rahim Allah seakan menjadi fondasi bagi sifat-sifat selanjutnya. Asma Allah menjelaskan sifat-sifat kepengasuhan (rububiyyah)-Nya, yang dilambari oleh Kasih Sayang.

“Cinta merupakan rasa subjektif seseorang manusia kepada manusia lain. Sementara mencintai adalah komitmen sosial, kesetiaan, istiqomah, pemberian, kemurahan,” ungkap Mbah Nun.

Kita melakukan transformasi Kasih Sayang itu agar tidak berhenti dari Allah kepada kita pribadi, tetapi meneruskannya kepada orang lain dan lingkungan di sekitar kita. Simulasi sederhananya: Allah memberi kita akal, tangan, mata, serta seperangkat organ tubuh lainnya. Pemberian itu merupakan bukti nyata sifat Rahmaniyyah Allah. Kita daya gunakan pemberian itu, misalnya dengan menghasilkan karya tulis yang semoga bermanfaat untuk orang lain. Pencerahan yang dirasakan orang lain adalah limpahan sifat Rahimiyyah Allah.

Pencerahan yang awalnya merupakan bentuk Rahimiyyah Allah, oleh orang tersebut diolah atau dimanfaatkan untuk menghasilkan kebaikan, keindahan, dan kebenaran selanjutnya. Rahimiyyah yang dia terima adalah sekaligus “bibit” Rahmaniyyah yang akan kembali berputar menjadi Rahimiyyah. Demikian seterusnya putaran Rahman dan Rahim Allah bergetar dan mengalir.

Mencintai Allah tak ubahnya melakukan thawaf (memutar dialektika Rahman dan Rahim) melalui gerakan sa’i (mengalirkan dialektika Rahman dan Rahim). Mengalir—seperti sifat alamiah air, dari atas ke bawah, dari dataran tinggi ke dataran rendah. Menjenguk dan mengayomi mereka yang berada di bawah—mereka yang seperti rumput, terinjak dan diinjak.

Puasa bulan Ramadlan menyodorkan sublimasi yang kental—ngragi dari ketela menjadi tape. Dari penerima “bibit” Rahmaniyyah menjadi pohon yang berbuah Rahimiyyah. Dari manusia penerima Cinta menjadi manusia yang mencintai.

Sepuluh hari kedua bulan Ramadhan menawarkan sublimasi lanjutan setelah kita beres mengolah dialektika Rahman-Rahim pada sepuluh hari sebelumnya. Kita memiliki hati yang nyegoro, mudah memaafkan, gampang nyepuro kesalahan orang lain, walaupun tetap memiliki perhitungan telogis rasional atas kesalahan itu. Maghfiroh—terminologi yang diberangkatkan dari salah satu sifat Allah yang mengampuni dosa-dosa kita.

Kita menjadi pemaaf yang tangguh. Berlapang dada terhadap setiap bentuk kedhaliman yang menimpa, terhadap setiap fitnah yang menerpa, terhadap setiap apa saja yang memojokkan atau menindas kita dalam kesulitan hidup, yang justru diselenggarakan oleh mereka pemangku amanah kesejahteraan.

Batin yang online akan mengembang seluas semesta, mewadahi aneka warna dan beragam-ragam karakter manusia. Kita menyemesta. Sebisa-bisanya meneladani Rasulullah yang menyuapi pengemis buta. Padahal pada saat yang sama ia mencaci maki Rasulullah sebagai tukang sihir yang bodoh.

Pada konteks kesadaran ini, Maiyah yang bersedekah kepada Indonesia menjadi gamblang. Indonesia adalah salah satu butir anasir di tengah kesadaran Maiyah yang menyemesta.

Ampunan saja tidak cukup. Kita menapaki jalan selanjutnya, sepuluh hari terakhir: ‘itqun minannaar. Allah membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka. Jaminan ini bisa berlaku secara pribadi, hamba per hamba, dan itu mutlak wewenang Allah. Namun, tidak adakah yang bisa kita lakukan selain pengharapan itu?

Setelah pepohonan di kebun berbuah Rahimiyyah, setelah hati menyemesta, apakah kita tega menatap penderitaan sedulur-sedulur kita, menatap kenyataan hidup bernegara yang tidak bisa dinalar melalui jurusan akal-sehat manapun, menatap anak-anak sekolah yang krowak-krowak logika berpikirnya, menatap hampir semua fenomena yang ditunggangi oleh imaji-konotatif yang sangat-sangat liar dan dimainkan sesuka-suka hati itu? Menyaksikan pemandangan neraka itu apakah kita menangis atau menangisi?

Kita tidak sedang menjadi manusia yang menghimpun aset untuk eksistensisme karier, tidak sedang menjadi hamba yang mengumpulkan pahala untuk menikmati surga sendiri—kita adalah wakil Allah, khalifatullah di bumi.

Dengan pilar Cinta dan Ampunan kita berusaha tegak mengupayakan solusi bagi kesulitan hamba-hamba Allah. Kita larut dalam sedekah-sosial untuk mengentaskan neraka kesulitan hidup hamba-hamba-Nya.

Neraka orang yang tidak punya beras adalah lapar. Neraka orang yang terlilit hutang adalah tidak punya uang untuk membayar hutang. Neraka orang tua yang nelangsa adalah anak-anak yang durhaka. Neraka negara yang bukan negara adalah rakyat yang dikepung panasnya konfrontasi tekstualisme.

Kita tidak harus menyangga semua itu. Semoga Allah sangat memahami kapasitas, skala, dan kesanggupan medan perjuangan kita. Beres harga diri dan martabat kita sebagai pribadi atau keluarga, istiqomah mewaspadai virus ketidakseimbangan, melakukan segala hal yang kita perhitungkan Allah berkenan dan suka—semoga menjadi setoran untuk diperkenankan menjadi kekasih-kekasih-Nya.

Rahmah, maghfirah dan ‘itqun minannaar adalah rangkaian titik dalam satu lingkaran yang terus berputar dan mengalir. Othak-athik-gathuknya akan nyambung dengan segitiga cinta Maiyah. Dimanakah setiap titik akan berkorelasi? Mari kita temukan bersama.[]

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image