Tiada Tuhan Selain dalam Pelajaran Agama Islam

Sejak belajar di SD sampai SMA pelajaran yang paling saya sukai adalah Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Jawa. Berbeda dengan mata pelajaran lainnya yang cenderung memeras otak karena rumus-rumus dan hafalan teori-teori. Guru agama dan bahasa Jawa lebih ramah daripada yang lain, enggak galak! Sering mendapat cerita kisah nabi-nabi yang sebenarnya saya sendiri sudah mengetahui ketika masih di madrasah diniyah. Tidak membosankan, apalagi tak jarang guru agama yang mempunyai style humor yang dapat dipahami oleh siswanya.

Begitu pun pelajaran bahasa Jawa, hampir tiap pertemuan siswa disuruh maju satu per satu menyanyikan macapat dan tembang dolanan. Siswa yang lain siap menyaksikan dan sudah sigap menertawakan ketika ada suara fals dan lirik yang salah. Terutama barisan gentho-gentho yang selalu berjejer di bangku paling belakang. Alangkah indahnya hidup ketika mulut mereka mulai menganga.

Ketika mengerjakan soal, saya dan teman saya sering beradu kecepatan dan ketepatan dalam mengerjakan soal agama Islam. Ya, karena saya sendiri begitu semangat ketika mempelajari materi-materi yang diberikan guru. Soto, es teh, sampai dua batang rokok menjadi taruhannya. Siapa cepat, dia dapat! Namun, kami berdua selalu lari ketika ditugasi menjadi imam di mushalla sekolah. Rawan pelombaan!

Ketika duduk di bangku SMA, materi pelajaran agama Islam semakin sulit. Guru kali ini sering menyuruh siswanya untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur`an dan Hadits. Parahnya, hasil hafalan dinilai dan masuk dalam proses pembuatan nilai akhir di rapor. Kampret! Hampir teman sekelas saya terkena remidi atau ujian ulang. Tidak hanya itu saja, soal-soal saat ujian banyak sekali yang menyuruh mengartikan penggalan ayat dan melengkapi harakat.

Pada waktu itu saya berpikiran, apa bedanya dengan matematika, IPA dan IPS yang mengharuskan saya ketika benar-benar terdesak harus mengeluarkan secarik kertas ajaib untuk mengerjakan soal-soal. Bahkan saking nekatnya, buku dan LKS siap disembunyikan di tempat yang sekiranya pengawas tidak tahu. Bergantung pada teman saja tidak cukup, belum tentu teman di sekitar tahu jawabannya. Lha wong, sebelum masuk ruangan ujian saja mereka sudah nggresulo.

Jadi, jangan kagetan ketika melihat fenomena menyontek di saat ujian, tak terkecuali mata pelajaran agama Islam. Padahal kita tahu sendiri di dalam pelajaran agama Islam dilarang keras untuk berbohong dan mencontek. Pengawas ujian pun banyak yang sering lalai mengawasi. Ada yang tidur, mainan ponsel sampai membaca koran. Apalagi pengawasnya adalah dua ibu guru, sampai ujian selesai pun mereka masih duduk di kursi pengawas dengan segudang gosipnya.

Pengalaman pahit yang saya alami ketika mengikuti pelajaran agama Islam ialah ketika saya berani membantah guru karena beliau mengatakan budaya Jawa adalah bid’ah dan pelakunya masuk neraka. Sebenarnya bukan membantah sih, saya hanya bertanya, “Agemanipun panjenengan niku batik nggih, Pak? Ngonten niku pripun nggih?” Seketika wajah guru saya merah padam dan tidak menjawab pertanyaan saya. Hari-hari berikutnya beliau bersikap seperti biasa kepada saya. Namun, setelah penerimaan rapor nilai mata pelajaran agama saya di bawah rata-rata. Saya tidak tega menyebutkan berapa nilainya. Yang pasti, kemarahan orang tua lebih menakutkan dibanding guru agama saya.

Penduduk bumi meyakini bahwa kurun hingga abad 21 ini adalah rentang panjang kemajuan manusia, yang melebihi pencapaian kemajuan era manapun dalam sejarah. Sampai ke kemewahan nilai dan sistem yang misalnya disebut Demokrasi. Sedemikian majunya penduduk bumi saat ini sehingga kedudukan Demokrasi menguasai kedudukan Tuhan pada sistem nilai di alam pikiran mereka. Sampai-sampai mereka memproklamasikan apa yang disebut Sekulerisme, yang secara sangat tegas dank eras memilah urusan manusia dengan urusan Tuhan. Memisahkan bumi dari langit, Memagari wilayah Agama dan Ketuhanan dengan urusan Negara dan KebudayaanDaur II–052 – Tuhan di Bilik Terpencil

Saat duduk di bangku kuliah, pelajaran agama Islam hanya terdapat di semester pertama dan kedua. Karena saya sendiri kuliah di kampus umum, bukan kampus agama. Sekali lagi, kampus umum, bukan kampus agama. Jadi, tidak heran kalau mata kuliah pendidikan agama Islam hanya untuk menjaga “keluwesan” karena di KTP tertulis agama Islam. Suasana dan aktivitas saat mata kuliah agama Islam pun sama saja dengan yang saya alami sejak dahulu. Bedanya hanya kecanggihan teknologi sangat membantu. Tinggal pencet, jawaban datang dengan sendirinya, tidak usah menyembunyikan kertas tebal di celana. Yang terpenting nilai akhirnya adalah A.

Setelah lulus mata kuliah agama Islam, saya merasa sudah tuntas menjadi orang Islam. Walaupun ada satu hal yang masih saya pertanyakan, setelah agama Islam lulus, saya menjadi apa? Kalau dijamin masuk surga sih belum terbukti. Belum ada orang yang kembali ke bumi dan mengabarkan kalau ia sudah masuk surga karena nilai mata kuliah agamanya A. Yang saya khawatirkan hanyalah ketika pulang ke rumah raut wajah orang tua saya kembali seperti dahulu. Mengerikan!

Di dalam Daur II–052 Tuhan di Bilik Terpencil, Mbah Nun juga menjelaskan sedikit tentang Sekularisme. Saya pun juga tidak asing mendengar kata-kata itu karena di kampus sering menjadi bahan diskusi. Kajian keislaman di kampus umum saya ini sangat rutin diadakan. Bahkan sampai tradisi dan aktivitas kampus berubah menjadi kampus Islami. Sekelompok mahasiswa Islam ada tersebar di setiap sudut terpencil di kampus. Mengajak mahasiswa lain untuk ikut kegiatan keislaman. Aktivitas intelektual diubah menjadi aktivitas kultural keagamaan yang Islami. Tinggal sedikit lagi kampus umum saya ini menjadi kampus Islam. Kurangnya hanyalah mata kuliah agama Islam yang hanya berlangsung dua semester saja.

Surakarta, 06 April 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image