Daur-II • 016

Tertawa Itu Makhluk

Setelah bisa menguasai perasaannya dan menghentikan tertawanya, Tarmihim menerangkan: “Tertawa itu sebuah gagasan. Ia bagian dari fenomena ekspresi manusia. Di seluruh dunia manusia melakukan tertawa, dan tertawa mereka sama. Tidak ada jenis tertawa yang berdasarkan kebangsaan atau kesukuan. Mungkin ada semacam ciri-ciri kecil atau tonjolan-tonjolan suara tertentu yang berbeda-beda dalam suara tertawa, tetapi secara mendasar dan menyeluruh tertawa semua manusia di dunia ini sama”

“Jadi, tertawa itu makhluk ciptaan Tuhan”, Tarmihim memberi kesimpulan, seolah-olah itu hasil ber-Iqra`, “Tertawa itu bagian dari ide Allah dalam menciptakan kelengkapan manusia. Tertawa bukan hasil karya manusia, bukan kreativitas budaya manusia. Junit yang akhir-akhir ini getol membaca Al Qur`an, tentu bisa menemukan ayat yang berkaitan dengan apa yang saya kemukakan ini….”

“Ada, Pakde”, jawab Junit, “Tapi Pakde tuntaskan dulu penjelasan Pakde”

“Sudah. Sudah tuntas penjelasan Pakde”

“Belum, Pakde”, Junit membantah.

“Kalau begitu kamu yang menuntaskan penjelasan Pakde, karena bagi Pakde rasanya sudah tuntas”

“Kalau hati manusia tergetar kan biasanya terus terenyuh atau terharu, dan ungkapannya biasanya lantas mengucapkan Kalimah Thayibah, atau menangis, atau sekurang-kurangnya meneteskan airmata. Itulah tanda bahwa kita ini manusia, bukan batu, pohon atau hewan. “dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. [1] (Al-Isra`: 70).

Tak disangka-sangka Tarmihim tertawa lagi.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra