Terlanjur Bismillah, Nekad, dan Loncat

Kalau ranting dipahami secara pohon, ruwetlah kehidupan. Kalau mahdloh dinilai sebagai muamalah, silang sengkarutlah kehidupan beragama. Kalau kasus lokal tidak diketahui konteks nasional dan latar belakang globalnya, bertengkar-tengkarlah rakyat suatu negara. Kalau tokoh-tokoh ummat manusia tidak mampu memilah antara lautan dengan ombak, antara Kitab Suci dengan tafsir, antara Tuhan dengan berhala, antara api dengan panas, antara gula dengan manis, antara manusia dengan kemanusiaan, antara fungsi dengan robot, dan seribu macam ketidakpahaman yang lain, maka sesungguhnya peradaban sedang bergerak menuju jurang untuk bunuh diri bersama-sama.Daur 38 (Bukan Sorga Berakibat Tuhan).

Tentu saja hidup tidak berjalan mundur. Mata menatap lurus ke depan. Sesekali saja menengok kiri dan kanan, menoleh ke belakang. Menyadari kiri kanan dan belakang untuk melengkapi kesadaran bahwa mata pandang diciptakan Tuhan untuk menatap masa depan. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa menjadi acuan sikap keputusan yang dibangun oleh tiga kesadaran waktu: masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Hingga tiba pada hari saat saya harus hengkang dari lingkungan yang mendidik saya meladeni anak manusia selama 15 tahun. Lepas dari kurungan yang hampir setiap waktu menguras nalar sehat dan menggerus kesabaran, saya merasa seperti berdiri di padang rumput tanpa tepi. Ternyata saya tidak sendiri — saya ditemani Maiyah. Benih-benih kesadaran Maiyah telah tertanam di kebun kesadaran yang buahnya saya nikmati setiap saat.

Buah yang tidak selalu manis untuk dirasakan. Pahit memang, dan itu justru menyehatkan. Pahit — karena sekadar belajar menjadi manusia kita sudah dihadapkan pada kenyataan antilogika, praktek dehumanisme, pendidikan yang bukan pendidikan, sekolah yang bukan sekolah, guru yang bukan guru. Dikurung oleh riuh rendah perilaku konotasi yang dimainkan seenaknya demi mempertahankan subyektivisme dan meraih laba materi, mungkin sebagian anak cucu JM menemukan perasaan yang sama: sepi.

Namun, di tengah sepi sendiri itu kita tidak hendak meratapi jungkir balik nilai kehidupan. Kita juga tidak cukup lihai untuk mengutuk apalagi mengkafir-kafirkan orang. Kita tidak tega hati untuk memberi fatwa, yang diseberang jalan itu golongan sesat yang menyesatkan. Kita malah tidak mentolo untuk mengungsi atau menyepi, berdiam di gua pengap tanpa suara tanpa cahaya. Jika demikian, apa yang akan kita lakukan?

Engkau kebanyakan adalah pejalan kehidupan, dengan api membakar hangus di belakangmu, dan rimba gelap di depanmu. Aku menyaksikan juga bahwa engkau berani mengambil keputusan “loncat masuk!”, dengan mental yang engkau menyebutnya bukan hanya tekad tapi “nekad”. Engkau meloncat masuk dan memperkembangkan aji-aji dan kecanggihan silatmu untuk “bismillah” menjalani apa yang engkau sedang dan akan jalani. — Daur 36 (Rimba Gelap di Depanmu Loncat Masuk!)

Ada tiga pointer: bismillah, nekad, loncat masuk. Tiga tahun lalu sebelum saya hengkang dari “sekolah yang bukan sekolah”, bismillah saya nekat loncat masuk: mengumpulkan bocah-bocah kampung. Dalam rangka membesarkan hati saya sendiri, saya berniat mengupayakan belajar bersama (istilah yang kerap dipakai di maiyah adalah sinau bareng), mengakrabi Al-Qur`an.

Tiga pointer itu sesungguhnya praktek nyata dari tawakal. Siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan menjadi Sang Akuntan untuknya. Berumah di alamat “min haitsu laa yahtasib” ternyata bukan semata-mata demi kepuasan dan pencapaian derajat sipritual. Rumah itu dibangun oleh Allah untuk menyelenggarakan “kehidupan kecil” yang dipinjamkan kepada kita.

Dipinjami rumah min haitsu laa yahtasib ini semakin membuka mata — lubang-lubang dehumanisasi yang digali oleh sistem atau model pembelajaran di sekolah membuat kita bukan hanya miris terhadap kemampuan berpikir anak-anak. Bahkan mereka nyaris tidak memiliki kesanggupan menata logika. Struktur berpikir mereka morat-marit.

Baiklah, karena terlanjur “bismillah” hanya Rahman dan Rahim Allah yang bisa membelai anak-anak itu. Saya pun nekad membuat simulasi sederhana, mengajak mereka mencermati pengalaman di sekolah. Beberapa kali mengkuti kegiatan Ta’dib di SMK Global Mentoro, dialog multimedia SMK Global di Kadipiro bersama Pak Toto Rahardjo, ngaji bareng di maiyah — dengan kemampuan saya yang serba terbatas dan pas-pasan ini — saya melayani anak-anak itu, menata kembali puzzle logika mereka yang berserakan, mususi beras untuk diliwet dan dimakan bersama.

Saya tidak sanggup membayangkan ketika anak-anak itu tumbuh dewasa sedangkan untuk menyampaikan satu jenis perasaan saja mereka terbata-bata. Benih mental terjajah sudah berhasil ditanam sejak mereka baru belajar berpikir. Anak-anak itu sudah dipersiapkan sejak dini menjadi kamu berselimut sehingga tidak memiliki kesadaran dan cakrawala selain sebagai kaum yang berselimut.

Achmad Saifullah Syahid