Daur-II • 015

Tergetar dan Tertawa

“Kok malah menjadi-jadi tertawamu, Him?”, Brakodin agak tegang mendengar Tarmihim malah tertawa sesudah Junit membaca ayat.

“Saya tertawa karena gembira”, jawab Tarmihim, “saya bukan menertawakan. Saya kagum dan bersyukur”

“Tapi kalau ada orang lain yang mendengar, kamu dianggap menertawakan ayat Tuhan. Hati-hati Iqra`mu”

“Lho kan ayat itu tentang Allah memberi karunia dengan menggembirakan hamba-hambaNya yang beramal saleh. Sejak awal pembicaraan kita yang berasal dari cerita tentang Mbah Sot kan penuh ayat-ayat Qur`an. Kan tidak biasanya begitu. Ini kan kurang lazim dalam lingkaran kita. Tetapi ini semua menggembirakan. Ini anugerah Tuhan kepada kita yang awam Islam dan setengahnya buta huruf Qur`an. Bagaimana saya mampu tidak bersyukur dan bergembira mendengar ayat-ayat Allah mengalir dari bibir anak-anak kita. Dan bagaimana cara yang paling mudah dan spontan untuk bergembira selain tertawa…”

“Tapi tadi kamu bilang geli”, Brakodin mengejar.

“Kalau gembira kita tertawa. Kalau lebih bergembira kita malah menangis. Dan kalau tangis kegembiraan sudah lewat, bisa malah merasa geli. Apalagi kalau dilihat sejarah kita ini kan bukan seperti sejarah para ‘Alimuddin dan Shalihul’amal’. Kita bukan lingkaran orang yang mengerti Agama dan berperilaku penuh amal saleh. Jadi wajar kalau aliran ayat-ayat dalam perbincangan kali ini membuat saya tergetar. Tapi rasa tergetar itu tidak membuat saya menangis. Sudah sangat lama saya tidak menangis….”

Junit mengutip ayat lagi: “Orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka[1] (Al-Hajj: 35).

Dan tertawa Tarmihim meletus lagi.