Tempe Gundil Pembangunan

Berderet-deret warung makan di sepanjang pinggiran jalan adalah pemandangan yang lazim adanya kita lihat di banyak kota saat ini. Jumlah warung, kedai, kios, lapak serta gerobak penjaja kuliner agaknya tak bisa dikalahkan banyaknya oleh jumlah dari semua jenis barang dan jasa dagangan lainnya seperti bengkel, salon, fotokopi, dan toko bangunan.

Generasi masa kini betul-betul dimanjakan oleh kemajuan yang dicapai kota-kota di negeri ini. Termasuk kemajuan kuliner. Kini tersedia ragam pilihan menu yang nyaris tak terbatas. Tak perlu orang khawatir nantinya akan bosan atas apa saja yang ia ingin santap.

Dari pemandangan lazim mainstream itu, tradisi bersantap ala Mbah Nun tampaklah menjadi sebuah anomali. Dalam beberapa kali kesempatan bersantap bersama Mbah Nun, saya menyaksikan betapa menu yang dipilih oleh Beliau sangat sederhana.

Sangat sederhana jika ditakar dengan gaya hidup yang lazim saat ini. Sangat sederhana jika dibandingkan dengan sajian menu yang tersedia pada saat itu. Sangat sederhana, berbeda dengan saya yang begitu neka-neko inginnya semua yang terhidang saya lahap.

Namun sebetulnya yang anomali itu siapa? Apakah tradisi kuliner Mbah Nun yang tidak seperti lazimnya mainstream? Atau justru yang anomali adalah saya dan kaum mainstream yang tidak jelas sebetulnya sedang mengikuti siapa?

Saya dan generasi mainstream bahkan tidak bisa membedakan mana makan dan mana gaya hidup. Keduanya sudah nyawiji sedemikian rupa. Maka yang dianggap menjadi lazim adalah makan dengan begitu neka-nekonya varian menu. Bahkan sekalipun menjalankan program pembatasan menu alias diet, itu pun kita kesulitan membedakan bahwa hal itu kita lakukan sebab memang sedang benar-benar diet atau sekadar sedang bergaya hidup diet?

Shortcut-nya kemudian, siapa saja yang tidak mengikuti kelaziman mainstream akan dianggap aneh. Keanehan kemudian menjadi sempurna, ketika saya dan generasi mainstream memergoki bahwa hidangan favorit bagi Mbah Nun bukan pizza, spageti atau makanan modern lainnya, melainkan sekadar gundil alias tempe goreng.

Aneh atau tidak anek tergantung sudut kita dalam memandang. Saya masih ingat semasa masa kanak-kanak di desa dahulu. Ada tradisi yang disebut ngantong. Saya termasuk penganut setia tradisi tersebut. Ngantong adalah sebutan untuk kegiatan berkunjung yang tiada tujuan utama lain melainkan berharap di sana ditawari makan.

Lezatnya makan di waktu ngantong. Walau hanya nasi putih, sayur tumisan dan ditemani lauk mendoan. Paket menu sederhana, tidak neka-neko, tetapi lezat luar biasa. Nasi yang ditanak tidak memakai penanak nasi elektrik, sayur yang ditumis dengan bumbu-bumbu desa tanpa penyedap, tapi aduhai sedap bukan main. Meski ada banyak tanaman sayur-mayur di pekarangan, ada terong, kecipir, bayam dan lain sebagainya tetapi tidak juga menjadi neka-neko suguhan sayurannya.

Tapi itu dulu, sebelum zaman maju seperti hari ini. Anggaplah itu makanan ndeso, sedangkan sekarang tersedia begitu banyak pilihan makanan modern, ada Japanese food, Chinese food, Italian food, Thai food, dan makanan dari seantero jagat sekarang tersaji komplit hanya di satu ruas jalan protokol. Entah mau makanan ndeso atau makanan modern, toh yang dicari sama, kenikmatan atas rasa lezat.

Tanpa disadari, kian maju pembangunan, inflasi melanda bukan hanya pada currency alias mata uang, tetapi juga melanda ujung lidah kita sehingga berpengaruh pada standar kelezatan kita. Pembangunan makin maju, tetapi kemajuan hari ini tidak bisa menghadirkan apa yang semasa kecil saya dahulu bisa dapatkan.

Orang lantas menghibur “Ini keniscayaan dari pembangunan!”. Kita membangun sendiri, tetapi tidak berdaya sendiri. Kemajuan yang dicapai pembangunan telah mengantarkan kita pada zaman yang benar-benar baru. Pembangunan memang menciptakan kemajuan. Tetapi jangan lupa, kemajuan juga melahirkan nominal-nominal dan standar-standar yang semakin tinggi. Kelezatan yang dulu bebas biaya, sekarang harus ditebus dengan rogohan kocek yang semakin dalam.

Bagi generasi milenial tidaklah aneh. Namun, bagi generasi angkatan Simbah dahulu, betapa aneh cara dan gaya hidup kita hari ini?

Jadi yang anomali sebenarnya adalah mereka penyuka western food, atau penyuka tempe gundil?

Patut kita resapi bersama apa yang disampaikan Mbah Nun pada Daur II-067Jarak antara Awal dengan Akhir”, kutipannya seperti berikut:

Manusia tidak punya parameter untuk mengukur apa yang berlebihan pada pembangunan Negaranya, pada kemewahan teknologinya, pada eksplorasi dan manifestasi kebudayaannya, serta pada batas antara kebutuhan dan keinginan di peradabannya.

Sebetulnya kita ikut siapa dalam membangun? Mulai dari pembangunan di bidang kuliner, kalau memang menurunnya jumlah orang yang memasak di dapur sehingga membuat makin ramai uang berputar di industri kuliner adalah tanda kemajuan, siapa yang paling diuntungkan dari semua itu?

Kemajuan yang bersifat fisik, Singapuraisasi kota-kota yang ada di negeri ini kini merebak merajalela. Memang menakjubkan Singapura. Negeri mungil yang menjadi lalu lintas barang dan pusat perputaran uang paling ramai di Asia Tenggara. Siapa saja yang mempunyai uang ia akan dapat menikmati surga dunia.

Namun sesungguhnya, mana yang lebih pendek rentang kesenjangannya, antara era di mana tradisi nganthong masih terpelihara dahulu atau era ketika kuliner menjadi merajalela seperti hari ini?

Singapuraisasi apabila tidak dilakukan secara kaffah, maka yang lahir adalah sistem dimana bagi mereka yang gagal membelitkan diri pada arus perputaran uang, itu berarti mereka telah tertempa neraka sebelum waktunya.

Pusat-pusat perbelanjaan dihidupkan, jalan-jalan dilebarkan juga tempat rekreasi dibangun dimana-mana. Itulah yang sibuk kita kerjakan hari ini. Dinas Usaha Kecil dan Menengah tercekat untuk sekadar menyuarakan daya produksi rakyat tertindih habis-habisan oleh daya produksi pemilik modal.

Trotoar-trotoar harus mengalah demi proyek pelebaran jalan. Jalan yang kian hari kian lebar, yang memicu gairah masyarakat untuk melarisi dealer-dealer kendaraan bermotor.

Lalu kebun (garden) diubah menjadi (park), sebelum kemudian dipagari dan ditarik tiket retribusi. Tempat rekreasi bertambah demikian pesat, mungkin menggambarkan betapa pesatnya pertambahan orang stres di negeri ini. Padahal menjadi amat sederhana konsep rekreasi apabila kita mau meneladani Mbah Nun, engkau lelah menulis, rekreasinya ngepluki kayu dan seterusnya selang-seling pekerjaan.

Dari fenomena semua itu, lalu kita kembali kepada pertanyaan, jangan-jangan pembangunan kita sudah berlebih-lebihan. Tak apa terlewat mewah dalam membangun, jika kemewahan itu merata. Namun, akan menjadi bom waktu sosial apabila pemerataan atas sumber daya pembangunan tidak ditata sedemikian rupa sedari hari ini.

Potensi pembangunan negeri kita hari ini masih akan cukup merata kalau dibagikan tempe gundil. Namun, kita inginnya roti, roti, dan roti sehingga tidak kebagian semuanya.

Sugeng tanggap warso, Mbah Nun. Maturnuwun, maturnuwun, dan maturnuwun.

Sabtu, 27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image