Tarik Busur Jauh ke Belakang

Nasionalisme adalah mau menarik busur jauh ke belakang ke nenek moyang agar anak panah Indonesia melesat jauh ke masa depan.
Nasionalisme adalah mau menarik busur jauh ke belakang ke nenek moyang agar anak panah Indonesia melesat jauh ke masa depan.

Di panggung Cak Nun ditemani Camat Borobudur, Lurah Wringinputih, Kapolsek Borobudur, Danramil, KH. Sonhaji dan KH. Mursyidi, Direktur Patra Jasa, Direktur PT. Taman Wisata Candi Borobudur-Prambanan-Boko, dan bapak-bapak lainnya. Pemandangan yang khas Sinau Bareng. Cak Nun mengajak serta para tokoh dan stakeholders untuk ikut merespons dan berbagi kepada masyarakat.

Selain itu, mereka sendiri turut menikmati jalannya acara. Kebersamaan, keindahan, kemesraan, dan berbagai muatan lain mereka rasakan. Sekurang-kurangnya itu terlihat dari setia dan istiqamah mereka mengikuti acara sampai selesai. Khususnya mereka juga menyimak pesan-pesan Cak Nun. Musik KiaiKanjeng tentu mereka nikmati. Semua menjadikan Tirakatan di sini sarat nilai dan dimensi.

Di antara yang kental dan mudah dicerap adalah begitu banyak tahap, fragmen, lagu atau apapun yang ekuivalen dengan semangat dan wawasan nasionalisme. Caranya pun lain dengan yang lain. Sebut saja pada adegan dialog Mas Jijid-Mas Doni-Pak Nevi pada komposisi One More Night Maroon 5. Lagu Barat ini diolah sedemikian rupa justru untuk memaparkan kekayaan lokalitas di mana keteguhan menjaga khazanah lokal adalah ekspresi nasionalisme.

Salah satu teori nasionalisme Maiyahan yang dikerap diterangkan Cak Nun adalah Indonesia itu ya Jawa ya Sunda ya Bali ya Sumatra ya semuanya. Selama ini disadari atau tidak kesadaran nasional kita mentidakkan suku-suku. Ada rasa kalau menegaskan otentitas suku seakan bertentangan dengan nasionalisme. Dalam konteks yang sama, kita perlu menjaga khazanah leluhur kita. Dalam bahasa Pak Nevi, kita harus menarik busur jauh ke belakang, supaya anak panah Indonesia melesat jauh ke masa depan.

Pada aransemen One More Night ini, yang dilengkapi eksposisi lagu dolanan Cublak Cublak Suweng, Jamuran, dan Gundul-Gundul Pacul, para jamaah menemukan bahwa nasionalisme dapat disampaikan dalam bahasa yang menggembirakan dan terutama tidak dalam konteks dipertentangkan dengan agama dan khazanah lokal warisan nenek moyang. Sinau Bareng sering memberikan contoh tentang hal ini.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image