Daur-II • 237

Taqwa Itu Ghaib

Sangat bisa dipahami bahwa tidak semua orang memiliki kadar kemampuan yang sama untuk mengakses Al-Qur`an dan nilai-nilai Islam. Maka diperlukan kepemimpinan nilai di tengah masyarakat Muslimin.

Ini sama sekali bukan perkara mudah. Bukan sekadar diperlukan sejumlah orang yang “lebih pandai” dibanding lainnya. Tetapi ada kelengkapan persyaratan yang mau tak mau memang tidak ringan: kesucian hati, kondisi jiwa zuhud, kejujuran, keteguhan untuk bertahan terhadap godaan dunia, dan banyak lagi.

Katakanlah ada seseorang diakui oleh ummatnya sebagai Ulama, karena berhasil membuktikan seluruh persyaratan itu, terutama aqidah dan akhlaqnya. Tetapi begitu ia terseret oleh lalu lintas kebudayaan dan politik yang pusarnya adalah kepentingan duniawi, apakah ummat memiliki kemampuan untuk “membatalkan” keulamaannya? Minimal di dalam dirinya sendiri? Meskipun dalam tatanan sosial ia tetap dianggap Ulama?

Junit mengatakan: “Kriteria dari Allah seolah-olah sanngat sederhana:

Kitab Al-Qur`an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. [1] (Al-Baqarah: 2-3). “Allah tidak menyatakan: Al-Qur`an ini tidak ada keraguan padanya, merupakan petunjuk kepada para Ulama, untuk disampaikan kepada ummatnya”.

“Allah menggunakan kata dan kalimat yang sangat kualitatif: orang yang bertaqwa. Bukan kuantitatif: untuk Ulama. Dan kualitas taqwa manusia, kadarnya, intensitasnya, ketinggian atau keteguhannya —mungkin sedikit bisa tampak indikator-indikatornya dalam kehidupan sosial— tetapi tidak bisa diobjektivisasikan secara ilmu manusia. Hanya Allah yang sungguh-sungguh mengetahui”

“Bahkan taqwa sangat mudah disepakati merupakan bagian dari keghaiban itu sendiri”, tambah Jitul.