Tanda Sedang Tersambung

Di awal-awal terbitnya tulisan seri Daur, sejujurnya saya kurang mengikuti. Ketika membaca seri-seri pertama, saya kurang begitu menangkap apa yang disampaikan. Bisa jadi faktor saya yang masih terlalu kotor sehingga belum mampu menampung isi di dalam Daur. Atau bisa jadi muatan di dalamnya bukan dari apa yang menjadi fokus dari apa yang sedang saya cari di sini. Walaupun ketika muatannya bukan apa yang menjadi fokus pencarian saya di sini, seharusnya saya sadar bahwa bisa jadi sedang ada masalah dalam diri saya.

Daur sungguh sangat membuat saya kewalahan. Yang menulis saja sanggup satu hari satu tulisan, sedangkan saya sebagai penerima tulisan kewalahan bisa overlap dua, tiga, empat, bahkan hingga tujuh hari tulisan Daur.

Dari tulisan seri Daur, saya menyukai cerita tentang Markesot. Ini bukan permasalahan suka tidak suka dengan artikel Daur yang bukan cerita tentang Markesot. Tetapi mungkin ini lebih yang menjadi fokus dari pencarian saya pribadi. Banyak saya jumpai hal-hal yang mempunyai kesambungan dengan bahan diskusi saya dan teman-teman di sini. Di daerah tempat tinggal saya di sisi selatan Jawa Tengah, daerah yang dari dulu terkenal menjadi wilayah para pertapa, wali perenung, dan kaum pencari zona intrapersonal.

Di dalam Daur diceritakan bahwa sosok Markesot seringkali berdiskusi dengan Markesot-Markesot yang begitu banyak ada di dalam diri Markesot sendiri. Bukan hanya itu, Marksesot bahkan bisa juga berdiskusi dengan makhluk-makhluk tak kasat mata dan bersahabat dengan mereka. Justru di antara sesama bangsa manusia malah tidak begitu menghargai Markesot.

Apapun yang Markesot bisa lakukan seharusnya kita bisa melakukannya, karena kita sama juga seperti Markesot, yakni sama-sama manusia. Tetapi jangan lupa melihat kadar ke-manusia-an kita dulu, kita ini manusia kerikil atau manusia mutiara? Kalau kita kerikil, tentu harus mau menempuh tirakat yang panjang terlebih dahulu, jangan malah berlagak menjadi manusia mutiara.

Apakah dengan tirakat-tirakat tersebut kita bisa menyamai manusia mutiara? Belum tentu. Tetapi kita tidak usah memikirkan hal itu. Fokus kita bukan pada hasil pencapaiannya. Tetapi pada proses menuju manusia mutiara dan jangan hanya berhenti sekedar manusia mutiara di dalam jalan menuju Tuhan.

Apa yang saya saksikan di dalam Daur adalah ketakjuban dan ketakjuban. Banyak sekali hal menarik. Banyak sekali hal yang luar biasa. Petualangan saya di dalam Daur semakin menarik ketika saya mendapati muatan-muatan yang mempunyai kesamaan dengan apa yang sedang menjadi pencarian di tempat saya berada, di tengah-tengah lingkaran Juguran Syafaat.

Bagi saya hal itu adalah pertanda bahwa kami disini sedang tersambung dengan Mbah Nun. Ketersambungan itu saya temukan misalnya di Daur 102 – Kemerdekaan adalah Hak Segala Jin dan Manusia

Setua apapun umur Markesot, ia tetap seorang anak. Sekurang-kurangnya ada semacam Markesot permanen, yang diam bertapa di relung kedalaman ruang, yang tidak mengalir pada waktu. Yang tidak bersentuhan dengan usia, tidak berurusan dengan rentang waktu, tidak mengenal lama atau sejenak, serta tidak terikat oleh dulu, sekarang dan esok.

Makna yang saya tangkap adalah ulasan mengenai ‘diri sejati’. Teman-teman pas kalau saat-saat ini sedang membahas seputar tema tersebut. Ketika seorang manusia sudah menemukan diri sejatinya, manusia tersebut sudah punya posisi tawar, apapun bisa ditawar. Walaupun bukan berarti seseorang tersebut kemudian menjadi seenaknya menawar. Maka ilmu yang harus dikuasai betul adalah tentang bagaimana menemukan landasan untuk tepat dalam menawar atau tidak menawar.

Salah satunya berangkat dari penggalian tersebutlah kemudian Maiyahan Juguran Syafaat pertengahan 2016 lalu mengangkat tema “Seni Diplomasi”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image