Takwa dan “Iming-iming” Jalan Keluar

Jamaah Padhangmbulan dari Lamongan bercerita, sehari atau dua hari ia akan berangkat Maiyahan, Allah memberinya sangu. Teman kita niteni: momentum rejeki min haitsu laa yahtasib menghampirinya saat detik-detik injury time. Cerita yang disampaikan saat Malam Dialog Padhangmbulan itu menjadi satu pintu di antara berpuluh-puluh, beribu-ribu, berjuta-juta pintu masuk.

Semua perangkat kesadaran bekerja, namun momentum “klik” atau “aha” bukan sepenuhnya milik kita. Allah bekerja setiap detik membuka pintu-pintu ilmu kesadaran. Cerita sahabat kita dari Lamongan memantik asosiasi-kontinuasi berpikir. Saya berusaha menulis butiran-butiran itu semampu saya untuk melunasi “hutang budi” kepadanya.

Beberapa kali Maiyahan belakangan ini Mbah Nun kerap menyitir surat Al-Thalaq: 2-3 di pembuka acara. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” Perjodohan antara takwa dan jalan keluar serta rezeki yang tidak disangka; tawakkal dan jaminan kecukupan, tidak akan bekerja kalau tidak didasari oleh keyakinan Allah Maha Bekerja.

Perjodohan itu niscaya—berlangsung dalam satuan proses yang melibatkan jerih payah (ijtihad, mujahadah, jihad) dalam persilangan ruang dan waktu. Setiap saat, detik per detik, degup per degup, di ke-kini-an. Dialektika antara takwa, jalan keluar, rezeki min haitsu laa yahtasib berlangsung dinamis, naik turun, bergetar-getar dan mengalir sesuai situasi hati yang berada di genggaman Tangan Sang Muqallibal Qulub.

Kalimat terjemah: “Barangsiapa bertakwa…” bukan padatan takwa sebagai kondisi akhir yang dibatasi garis finish. Wa man yattaqillaaha adalah proses yang tengah berlangsung dan sedang diupayakan keberlangsungannya secara terus-menerus. Demikian pula jalan keluar yang menjadi “akibat” atas “sebab” bertakwa, bukan sebuah paket instan yang selalu sesuai dengan apa yang kita mau. Makhroja berlangsung dalam proses yaj’al lahu: sedang dan akan terus berlangsung secara dinamis. Soal bagaimana bentuk, situasi, cara, model, momentum, muatan solusi pasti terserah-serah Allah.

Kalau formasi “jawab-syarat” susunan kalimat dalam firman Allah itu dibalik: siapa yang menginginkan solusi, jalan keluar, makhroja atas setiap persoalan yang melilitnya, dalam lingkup dan skala apapun, maka bertakwalah kepada Allah—kita akan ketemu sikap kunci yang sama, yakni bertakwa kepada Allah. Namun, nuansa dialektikanya menjadi lebih kental oleh egoisme-materialisme.

Saya teringat cerita Mbah Nun: Tukang Cukur dan Gelandangan. Ini judul bikinan saya sendiri untuk mengunci cerita itu di ingatan saya. Tukang cukur mencukur rambut pelanggannya sambil mengeluh.

“Mengapa orang baik-baik malah difitnah. Koruptor merajalela. Perempuan dan anak-anak terusir dari kampung halaman mereka. Perang dan pembunuhan terjadi setiap saat. Darah tumpah di setiap sudut, mengalir sepanjang jalan. Mengapa Tuhan diam saja? Jangan-jangan Tuhan tidak pernah ada?” keluh tukang cukur.

Orang yang dicukur diam saja. Selesai dicukur ia membayar ongkos lalu pergi keluar. Berjalan beberapa langkah ia berjumpa dengan gelandangan yang rambutnya gondrong dan gimbal. Dibawanya gelandangan berambut gondrong dan gimbal ke hadapan tukang cukur.

“Di dunia ini ternyata tidak ada tukang cukur,” kata orang yang baru dicukur.

“Kata siapa tidak ada tukang cukur di dunia. Saya tukang cukur!”

“Kalau ada tukang cukur, rambut gelandangan ini pasti rapi.”

“Dia tidak datang kepada saya,” kata tukang cukur. “Dia tidak minta dicukur rambutnya.”

“Sama dengan manusia. Mereka merasa menderita di dunia tapi tidak datang kepada Tuhan. Bagaimana Tuhan akan menolong mereka?”

Cerita ini memiliki multi wajah dan mengandung berlipat-lipat makna. Alam berpikir materialisme akan berangkat menuju “takwa” dari kebutuhan untuk menemukan solusi. Takwa yang dimaksud adalah menyapa Tuhan, kembali kepada Tuhan—setelah judeg dan ngilu mengeluh terus-menerus atas nasibnya di dunia—supaya Tuhan mengabulkan apa yang dia minta. Tuhan ditempatkan sebagai katalisator untuk meraih parameter dan simbol sukses duniawi. Takwa dijadikan atribut, merek, baju, komponen pencitraan, strategi branding bagi kejayaan sesaat.

Namun, dalam alam berpikir tauhid, kembali kepada Tuhan itu mutlak. Dalam situasi apapun, kondisi bagaimanapun, keadaan kenapapun, kalau kita tegak berdiri di ittaqullaaha haqqa tuqaatih,  Allah pasti bekerja. Awal keberangkatannya dari Allah kembali menuju Allah. Innaalillaahi wa innaa ilaihi raji’un. Kita selalu kepergok ketemu Allah di sepanjang perjalanan itu. Lalu, bagaimana mungkin Allah tidak bekerja dan terlibat selama kita menempuh perjalanan kembali?

Jadi, bertakwa itu sendiri merupakan jalan keluar bagi kita—yang saat bekerja pada detik ini tidak memiliki akurasi terhadap apa yang akan terjadi pada detik berikutnya. Mata kita rabun menatap gelap di setiap detik berikutnya. Ghaib. Cahaya yang menerangi gelap itu adalah keberlangsungan takwa yang kita nyalakan di sepanjang waktu dan ruang. Cahaya yang membuat hidup menjadi terasa lapang. Hanya kepada Allah kita berharap. Wa ilaa rabbika farghab. Adakah yang lebih terang dari cahaya merasa merdeka dari dunia dan Allah sebagai Harapan Utama kita kembali?

Namun, yang namanya manusia tetap memerlukan “iming-iming” sehingga Allah menjanjikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sedangkan selama hidup di dunia, manusia model apa yang tidak dihadang oleh persoalan? Manusia model bagaimana yang tidak memerlukan asupan rezeki dari Allah? Dua hal ini pasti menghadang manusia selama hidup di dunia. Namun, tidak setiap manusia meniscayakan takwa kepada Allah sebagai titik awal keberangkatan untuk kembali kepada-Nya. Iming-iming itu membuat kita malu kepada-Nya. Kita masih memerlukan “permen” solusi dan rezeki agar bertakwa. Ini pun tidak masalah kalau yang primer pada akhirnya adalah jalan tauhid kembali kepada Allah.

Di tengah de-primerisasi yang menggila, yang ikut edan belum tentu kumanan, dialektika yang berlangsung pun terbalik-balik—nafsu materialisme menempatkan Allah sebagai juru jawab yang harus mengabulkan isi doa kita. Bisik-bisik dalam hati bersuara: “Aku sudah bertakwa, tapi mana ini solusinya, mana rezekinya?”[]