Daur-II • 182

Tak Seperti di Bumi

“Yang Allah bersumpah demi bintang yang terbenam”, Junit meneruskan, “Jibril yang berada di ufuk yang sangat tinggi dan jauh. Mendekat ke Rasulullah dan lebih mendekat lagi…”

Maka jadilah dia dekat pada Muhammad sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu ia menyampaikan kepada Muhammad hamba-Nya apa yang Allah wahyukan”. [1] (An-Najm: 8-10).

“Pertanyaan kami, Pakde”, Junit meneruskan lagi, “Siapakah di zaman yang silam dan siapakah di zaman ini, yang Allah letakkan di jalur yang ditempuh oleh Rasulullah yang memiliki ‘ainul hurri, mata pandang kecerdasan yang luar biasa ke sejatinya kemerdekaan…”

“Belum paham benar apa yang Junit tanyakan…”, sahut Pakde Tarmihim.

Seger yang melanjutkan. “Maaf ya Pakde. Ini husnudhdhan. Bukan GR. Bukan merasa hebat. Tapi kalau kami mengamati, merasakan dan mendalami apa yang kami alami dan peroleh dari Pakde Paklik di lingkungan Mbah Markesot – maka kami tidak punya referensi lain kecuali tentang jalur yang dikemukakan oleh Junit itu”

Para Pakde dan Paklik bertatapan satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar tertawa Jitul. “Gini lho Pakde”, katanya, “Kami ini seperti orang mabuk. Kami seperti tidak hidup di bumi. Sebab hanya bersama Pakde Paklik kami bisa merasakan dan mengalami sesuatu yang di luar sana kami tak mungkin mendapatkannya”

“Maksudnya?”

“Al-Qur`an itu kan hamparan informasi dari Allah. Tapi bukan sekedar informasi dan referensi. Ia mengandung ilmu, dan berfungsi hidayah. Kami anak-anak muda ini tidak sengaja membiasakan diri untuk mencari diri kami di dalam firman-firman itu. Pasti Allah kasih Al-Qur`an itu termasuk untuk kami juga…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra