Daur-II • 151

Tak Seorang Pemimpinpun

Ketika Pakde Brakodin mengingat kembali dan menuturkan: “Mbah kalian Markesot menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh isinya, yang seolah-olah tak terbatas besar dan luasnya, kalah oleh setetes hidayah Allah…” — tiba-tiba terengar suara Seger.

“Maaf Pakde saya memotong”, katanya. Ia memang sangat tekun bukan hanya mendengarkan, tapi juga mencatati semua yang sempat ia catat.

“Silahkan Seger”, sahut Brakodin.

“Dari ayat yang dibacakan oleh Pakde Sapron yang kemudian sebagian direfleksikan oleh Mbah Markesot maupun Pakde-Pakde yang lain, saya malah terpaku pada bagian akhir”

“Yang mana?”

“Bahwa kalau Allah menyesatkan suatu masyarakat, ummat atau Bangsa, maka mereka tidak akan pernah mendapatkan Wali maupun Mursyid…”

Jitul menyela, “Tapi sebenarnya belum selesai penuturan muatan-muatan yang luar biasa luas, khazanah-khazanah tematik yang ternyata tidak terbatas, bahkan rahasia-rahasia makna yang hanya bisa ditembus kalau kita merdeka dalam berminajinasi, yang terkandung oleh deretan kata-kata sebelumnya di hanya satu ayat Allah itu saja…”

“Pasti, Tul”, jawab Seger, “cuma saya terseret dan terjerat oleh informasi bagian akhir dari Allah di bagian akhir ayat itu”

Yang Seger maksud adalah “…dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya…”. [1] (Al-Kahfi: 17).

“Sekarang makin ketahuan kenapa kita terjebak dalam lingkaran Pakde Paklik ini”, Seger melanjutkan, “saya yakin kita sedang diselamatkan Allah…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra