Daur-II • 115

Tak Sehuruf pun Kebenaran

Pada suatu malam, di sebuah dusun sangat pelosok, di pebukitan agak tinggi, jauh dari kota, Markesot berada di antara beberapa puluh orang yang duduk melingkar. Itu semacam pengajian kecil. Kiainya lokal. Menjelaskan Islam dengan nuansa utama kelembutan bebrayan, yang kebanyakan orang menyebutnya “hablun minannas”, kesantunan kepada alam, dan kemesraan dengan “Gusti”.

Sesekali Kiai menyebut “Allah” juga tapi lidah Jawa dusunnya membuat makhraj “ll”nya kurang fasih secara Hijaiyah. Mungkin karena itu ia memilih lebih banyak mengucapkan kata “Gusti”. Ia juga mengajak jamaah kecil itu melakukan sejumlah wiridan pendek yang mudah dihafal. Ada semacam Tahlilan juga tapi sekedarnya, bukan dengan teks Tahlil lengkap sebagaimana yang terpapar dalam literasi orisinalnya.

Secara keseluruhan, pengucapan mereka, “makhraj” dari lidahnya, notasi nada-nadanya, sama sekali tidak memenuhi syarat untuk disebut “fasih” dan “terpejalar”. Markesot berguman-gumam sendiri dalam hatinya. “Orang-orang kota menyangka kefasihan terletak di lidah, bibir, dan ucapan. Orang-orang dusun ini sangat fasih hidupnya, perilakunya, ekspresi kelembutan hati di ruang sosialnya.”

Kiai lokal itu juga bukan seorang Ulama yang pandai sebagaimana dipersyaratkan oleh masyarakat terpelajar di kota. Markesot menggerundal lagi kepada dirinya sendiri: “Masyarakat modern terpelajar berprasangka bahwa kelak menghadap Allah sangunya adalah kepandaian, kecanggihan, kesarjanaan, kehebatan, dan keunggulan. Iblis puas sekali melihat prasangka itu…”

Di peradaban “Islam modern”, untuk masuk surga harus menguasai Al-Qur`an secara menyeluruh, Islamnya harus “kaffah”. Padahal atas “Kaf Ha Ya ‘Ain Shod[1] (Maryam: 1) mereka tidak bisa memastikan apa-apa biar sehuruf pun… Kita adalah orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa kita tidak mengerti.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra