Daur-II • 136

Tak Perlu Adzab untuk Hancur

“Negeri kalian ini adalah contoh yang sangat terang benderang tentang manusia yang menganiaya diri sendiri”, Markesot berkata pada suatu malam, “kalau manusia menganiaya sesama manusia, entah dalam lingkup pergaulan atau dalam struktur pemerintahan, konteks penganiayaan manusia kepada manusia lainnya hanya berlaku horizontal. Tetapi kalau kita memandangnya dari titik silang horizontal-vertikal, apalagi dalam bulatan dan putaran mekanisme alam, di mana Allah adalah simpul utama logika setiap kejadian – maka yang berlangsung sesungguhnya adalah manusia menganiaya dirinya sendiri”.

Sangat banyak Allah menginformasikan pengertian tentang itu. “Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri“. [1] (Az-Zukhruf: 76). Itu sekedar contoh dari berpuluh-puluh informasi yang senada dan sekonteks, meskipun lingkungan dimensinya bisa bermacam-macam.

Andaikan ada adzab yang menimpa suatu kaum, masyarakat, bangsa atau ummat manusia, yang secara pemahaman itu berasal dari Allah, sesungguhnya itu sekedar output dari logika sunnah yang sejak awal kehidupan sudah ditetapkan oleh Allah. Semua orang islam tahu firman di Az-Zalzalah 7-8. Penganiayaan atas orang lain adalah awal dari penganiayaan atas dirinya sendiri. Pemerintahan yang menipu rakyatnya adalah pangkal dari tertipunya para pelakunya oleh apa yang diraihnya dengan cara menipu dan menindas rakyatnya.

Itulah siksaan atas kalian yang ditimbulkan oleh tangan kalian sendiri. Dan Allah bukanlah pihak yang menganiaya mereka”. [2] (Al-Anfal: 51). Sejumlah penafsir atau penterjemah Al-Qur`an cenderung memaksakan logika bahwa kedhaliman manusia akan dibalas oleh adzab Allah. Ada terjemahan atas ayat di atas yang berpanjang-panjang dengan berbagai keterangan untuk menekankan hal itu. Seolah-olah Allah menunggu dosa manusia dulu baru berpikir memberi balasan.