Daur-II • 174

Taiasu dan Kafir

Pakde Tarmihim meneruskan.

“Kemudian cara menggendong dan memanggulnya harus bijaksana. Dan yang disebut pandai atau berilmu adalah kalau antara keperkasaan menggendong dengan kebijaksanaan cara mengayomi, sudah menjadi satu keutuhan harmoni…”

Seger tersenyum. “Soal kasih sayang itu kata Mbah Sot apa karangan spontan Pakde Tarmihim?”

Pakde Tarmihim tertawa. “Kedua-duanya. Yang mengarang spontan. Tapi mata airnya tetap dari pengalaman hidup dengan Mbah Sot…”

“Mbah Sot gayungnya, kalau mata airnya ya Bismillahir Rahmanir Rahim, Pakde…”, Toling nyeletuk.

“Lho kamu lihat saja bangunan niat dan konsep utama kehadiran Allah sehingga menciptakan kita semua adalah kasih sayang. Lihat betapa banyaknya penampilan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itu adalah wajah bakunya Allah. Main icon-nya Allah. Di surat As-Syu’ara saja ada banyak komposisi Maha Perkasa dan Maha Penyayang. Ayat 9, 68, 104, 122, 140, 159, 175, 191, 217. Di surat-surat lain juga banyak. Belum lagi komposisi lain seperti Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang. Dari niat Allah menciptakan makhluk-Nya, hembusan ‘Kun’-Nya, hamparan jagat raya, rentang dan bulatan waktu, dataran dan gelembung ruang, segala sesuatu yang bergerak di dalamnya, apa saja, seluruhnya, adalah pesta besar Kasih Sayang… Sementara manusia ini aneh-aneh. Diajak bercinta bermesraan malah sibuk sombong dan menjajah. Tidak bisa berpikir seimbang. Tidak mampu bersikap jernih. Tidak sanggup bertindak adil…”

“Lho katanya sudah tidak kuat mengucapkan kata-kata seperti itu, Pakde”, kata Jitul tertawa, “katanya lelah, kehabisan energi, taiasu, kafir…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra