Daur-II • 095

Tafsir Identitas

Apalagi di pengajian lain aku mendengar bahwa penafsir Al-Qur`an harus seorang yang punya pemahaman yang mendalam, logika yang kuat, berwawasan luas, punya pengalaman belajar yang mencukupi, serta berkapasitas seorang Ilmuwan.

Betapa benarnya persyaratan itu. Jauh sebelum aku mendengar itu, sudah sejak kanak-kanak aku tahu bahwa jangankan Mufasir: sedangkan seorang koki di dapurpun perlu memahami pekerjaannya sedalam mungkin. Karyawan keuangan atau manajer warung harus memakai logika. Seorang Guru Taman Kanak-kanak perlu berwawasan seluas mungkin. Seorang sopir Bus harus punya pengalaman belajar mengendalikan berbagai jenis kendaraan di berbagai ragam jalanan. Bahkan seorang mandor pengerjaan rel kereta perlu kadar keilmuan yang mencukupi kebutuhan tanggung jawab pekerjaannya.

Adapun seberapa dalam pemahaman mereka, seberapa kuat logika mereka, seberapa luas wawasan mereka, seberapa panjang pengalaman mereka, seberapa memadai keilmuan dan keilmuwanan mereka – ditentukan oleh dua faktor. Pertama, Allah menentukan fadhilah atau kelebihan yang berbeda-beda kepada hamba-hambaNya. “Janganlah engkau iri hati terhadap apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada sebagian yang lebih banyak dari sebagian yang lain”. [1] (An-Nisa: 32). Kedua, berbagai faktor dalam proses kehidupan setiap orang, di dalam dirinya maupun hal-hal di luar dirinya.

Bagaimana hal ini ditentukan? Seseorang dilebihi fadhilah sehingga menjadi Ulama, ataukah seseorang adalah Ulama maka diberi kelebihan? Apakah seseorang dilihat dulu identitasnya: beliau Ulama, Kiai atau Ustadz, sehingga disimpulkan pasti memenuhi syarat-syarat untuk menafsirkan. Ataukah setiap orang dipersilakan menafsirkan, dan dari hasilnya nanti akan bisa dinilai dan diketahui bahwa pelakunya memiliki latar belakang dan kapasitas yang memenuhi syarat untuk menafsirkan atau tidak. Bimbinglah Iqra` hamba.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra