Wedang Uwuh (37)

Syukur Ada Ramadlan dan Mudik

Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2017

Pèncèng bercerita kepada teman-temannya dan saya bahwa dia kebetulan diajak oleh Pakdenya menghadiri acara Halal Bihalal yang agak aneh.

“Aneh bagaimana?”, Gendhon bertanya.

“Saya sih nggak tahu kalau aneh”, jawab Pèncèng, “menurut Pakde saya itu aneh. Padahal semua itu teman-temannya sendiri. Mungkin teman-teman seprofesi atau pergaulan karena hobi, misalnya main golf, atau entah apa”

“Berarti Pakdemu termasuk yang aneh itu juga”

“Nggak. Justru dia yang punya feeling bahwa suasananya akan membuat dia canggung. Justru karena itu dia mengajak saya”

Pèncèng kemudian bercerita. Keanehan pertama adalah acara Syawalan itu suasananya seperti rapat rahasia. Bukan masing-masing hadirin membawa keluarganya. Ada sejumlah hadirin yang datang bersama anak istrinya, tetapi kaum perempuan dan anak-anak disediakan tempat sendiri yang lebih nyaman dibanding tempat Syawalannya. Rupanya mereka sudah cukup berpengalaman sebelumnya. Di tempat Ibu-ibu dan anak-anak itu disediakan berbagai fasilitas yang lebih lengkap. Makanan lebih banyak, ada tempat bermain untuk anak-anak yang paket-paket mainannya mewah.

Di antara kaum lelaki atau Bapak-bapak yang hadir ada kira-kira tiga generasi. Ada yang sudah sepuh, ada yang setengah baya, dan ada yang masih relatif muda, meskipun bukan remaja. Pèncèng belum bisa mempetakan ini komunitas apa. Kalau dibilang jaringan pejabat-pejabat Negara, melihat potongannya banyak yang tampaknya bukan. Mungkin para pengusaha, tapi lagak laku mereka bermacam-macam. Ada yang seperti preman, ada yang seperti Ustadz, ada yang pakai kaos seperti olahragawan. Entah masyarakat bagian mana ini. Tidak tercermin ada kesepakatan etika penampilan di antara mereka. Sangat bebas dan apa adanya sesuai dengan selera masing-masing.

Pakde saya ternyata juga hanya kebetulan diajak oleh salah seorang sahabatnya yang ketemu tak sengaja ketika olahraga lari pagi. Kemudian dia menyeret saya, untuk menemani dia menjalani sesuatu yang dia sendiri tidak begitu kenal dan paham. Kemudian ternyata acara yang berlangsung juga tidak sebagaimana lazimnya orang kumpul Syawalan. Tidak ada wajah Islamnya, tidak ada nuansa pasca-Ramadlannya, tidak ada rasa Idulfitrinya. Semua bersalam-salaman ketika datang dan ketemu, tapi jenis budayanya itu bukan salaman untuk bermaaf-maafan. Itu salaman biasa seperti ketemu di warung.

90% acara berlangsung mengobrol-ngobrol saja di berbagai lingkaran. Riuh rendah, penuh tawa ngakak, semuanya rata-rata volume tinggi, menunjukkan bahwa telinga mereka sangat peka mengorganisir suara yang masuk. Sekilas-sekilas Pèncèng mendengar hanya kata dan kata. Ada Pancasila, 212, Khilafah, 44 Naga, bom Legian hingga Kampung Melayu, ISIS, Putin, Bhinneka Tunggal Ika, HTI, Setya Novanto, Khilafah, Rusia, Gatot dan Imin, 2019, adiknya Anis meninggal, Mujahidin, Trump, kata-kata Yai Said di Lift, Brimob, Banser, Nusantara, dan macam-macam lagi yang harus puzzling kalau mau memahami urusan dan konteksnya.

Di bagian akhir, ada semacam pidato dari salah seorang generasi menengah: “Pokoknya kita semua beruntung ada bulan Ramadlan, terlebih lagi ada Idulfitri dan Mudik. Selama sebulan lebih segala kemungkinan anarkhi teredam dengan sendirinya. Tegangan politik turun sampai lebih 95%. Rakyat menjadi lupa pada keadaan asli Indonesia. Bahkan lupa penderitaan mereka, kemiskinan dan kesulitan hidup mereka. Keresahan mereka istirahat, kemarahan mereka padam. Semua fokus pada ibadah dan jumpa keluarga. Dan sangat saya pujikan selama Ramadlan dan rentang waktu Mudik, anak-anak kita bisa lebih intensif mengerjakan dan merancang desain sampai setahun ke depan secara lebih detail. Sangat mudah ringan menjalankan program, apalagi kelas menengahnya mati beku”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image