Surat Nikah Kebangsaan

(Asalkan Kekasih Tak Marah Padaku)

Aku tidak mau “mupus”: menganggap tak ada sesuatu yang sebenarnya masih mengendap di dasar jiwa. Pura-pura tidak melihat ada sekam di ruang gelap batin bangsaku. Yang sewaktu- waktu akan menyala jadi api, meskipun hari ini sedang seakan-akan mereda.

Maka aku terus bertengkar melawan tiga aku-ku. Biarlah aku berempat menjadi kubangan api, untuk turut bersedekah menyerap bara api dari jiwa gelisah bangsaku.

Pada 17 Ramadlan tahun-2 Hijriyah, Kanjeng Nabi melansir terminologi yang luar biasa: “Kita baru menyelesaikan perang kecil, dan sekarang kita masuki perang besar”. Padahal Perang Badar yang barusan usai, sedemikian dahsyat. Suatu pertempuran di mana Allah “melanggar” segala Ilmu Militer manusia dan “mengejek” semua logika peperangan.

Sedangkan aku yang hanya berempat, tak pernah selesai bertengkar memperebutkan siapa di antara kami yang “aku nafsu”, siapa “aku iman”. Yang mana “aku kegelapan” dan “aku tercerahkan”. Bagaimana mempetakan aku-benar aku-salah aku-baik aku-buruk aku-pecinta aku-pembenci, juga aku-mengAllah aku-memberhala.

Bisa dibayangkan semrawutnya ribuan “aku” dalam atlas Bhinneka Tunggal Ika: tuding menudingnya pasti jauh lebih gaduh. Sekam-sekam permusuhan, kebencian dan rasa tidak aman, tak pernah benar-benar padam. Bahkan senyatanya: “perang besar melawan nafsu” itulah sejatinya pilar bangunan Bangsa dan Negaraku.

313 prajurit Badar, dengan kualitas personil yang tidak memadai secara militer, dan peralatan perang yang sangat minimal, menang melawan 1.200 pasukan Sekutu, dengan rumus yang tidak pernah disebut oleh Buku Perang zaman apapun. Yakni “Innama tunshoruna wa turhamuna wa turzaquna bidlu’afaikum”: Kalian dilimpahi pertolongan, kemenangan dan rizki oleh Allah, karena kalian maju perang demi membela rakyat yang dilemahkan.

Muhammad Saw “nekad” menjanjikan rumus itu ketika berpidato di depan pasukan Badar sebelum pertempuran. Beliau tahu itu irrasional bagi logika manusia dan kehidupan di dunia. Maka kepada Allah beliau menyampaikan pernyataan: “In lam takun ‘alayya Ghodlobun fala ubali”: Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, wahai Kekasih, hamba tak peduli pada nasib hamba di dunia. Hamba ikhlas kalah, hancur dan mati — “asalkan Kekasih tidak marah kepadaku”.

Dan ternyata dimensi hubungan cinta dengan “harga mati” semacam itu yang membuat Sang Kekasih melimpahkan kemenangan.

Tetapi, di antara aku berempat ini: yang mana yang dilimpahi kemenangan, dan yang mana yang dimurkai?

Aku berkata kepadaku: “Aku justru sangat tahu bahwa sebenarnya tak ada masalah dengan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Islam, Khilafah, Pluralitas, Toleransi dan semuanya. Itu semua hanya diperalat untuk proses adu-domba demi mencapai kepentingan suatu golongan. Sejarah Bangsa Indonesia dikacau dan dirusak oleh suatu golongan”

Aku yang di antara khalayak menyodok: “Tapi beberapa kali Sampeyan menulis sangat serius hal-hal yang menyangkut Pancasila, sehingga kami mendapat kesan bahwa Sampeyan terseret oleh rekayasa isyu yang menyebarkan anggapan bahwa ada masalah dengan Pancasila. Padahal sudah 72 tahun Pancasila hidup baik-baik saja”

Seolah-olah ada ancaman serius terhadap Pancasila kesepakatan kebangsaan dan kenegaraan kita”, aku yang di depanku menambahkan, “sehingga di sana sini diselenggarakan peneguhan kembali tekad terhadap lestarinya Pancasila. Dan yang dianggap ancaman itu adalah Islam”

Aku yang di depan menambahi, “Bahkan Sampeyan sedang menyiapkan seri-seri panjang tulisan tentang Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, hubungannya dengan Agama, Islam, Khilafah, Jawa….”

Aku mempertahankan diri: “Lho aku kenal Pancasila sejak mulai mengenal huruf di masa kanak- kanak. Dan secara alamiah aku terus bersabar menjalani proses untuk mematangkan Pancasila kehidupanku. Karena Pancasila adalah Surat Nikah Kebangsaan yang aku berada dan terikat di dalamnya, meskipun hanya sebagai rakyat kecil”

Tetapi aku-aku itu terus membombardir: “Tulisan-tulisan Sampeyan sengaja atau tak sengaja membuat yang membacanya merasa di bawah sadarnya bahwa bangsa kita sedang mempertengkarkan Pancasila. Bangsa Indonesia dan Ummat Islam tiba-tiba bergerak menuju anggapan dan kepercayaan bahwa Pancasila alamatnya di sini, sementara Islam alamatnya di sana. Bahwa Kaum Muslimin adalah ancaman bagi Bhinneka Tunggal Ika….”

Karena mereka tak henti-hentinya menyerbu, akupun balik menerjang mereka dengan tiba-tiba bersuara keras, mengaji murottal membacakan Surat At-Tin: “Demi pohon Tin, demi pohon Zaitun, demi Gunung Sinai dan demi Negeri gemah ripah loh jinawi….

“Apa itu!”, aku yang di khalayak meneriakiku.

Tin adalah pohon yang tumbuh di wilayah Budha Gautama memproses pencarian hidupnya. Zaitun adalah perkebunan di perkampungan Isa Yesus. Bukit Sinin, Tursina, padang Sinai, adalah arena pergolakan dan perjuangan Musa. AlBalad al-Amin adalah gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo dalam pengayoman Muhammad saw di Madinah. Hanya karena keseriusan konsep dan hidayah tertentu Allah bersumpah atas empat hal sekaligus. Peradaban Abad-21 sekarang ini sedang berjalan lamban menuju awal kesadaran Tin. Perhatikan kegelisahan hati ummat manusia di Eropa dan Amerika”.

(Menuju: “PASCA ABAD-21”)
Yogya 13 Juni 2017.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image